Ilustrasi

Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com| Lagi lagi, kontroversi dilakukan oleh ormas islam GP Anshor. Badan otonom NU yang kerap menggagalkan aksi ormas HTI ini memunculkan polemik baru. Dikabarkan oleh laman resmi NU, GP Anshor menurunkan bendera yang mereka klaim sebagai bendera ormas HTI.  Setelah redaksi Mediaoposisi.com amati, ternyata bendera tauhid lah yang dimuat di website tersebut.

Polemik ini mengundang perhatian para pegiat bendera tauhid, salah satunya Tahta. Tahta sendiri adalah  pendiri komunitas Rayatul Islam (KARIM) yang gencar menyuarakan bendera tauhid di masyarakat melalui berbagai cara seperti pengibaran bendera raksasan.

“Bendera Tauhid sudah jelas milik Umat Islam. Dalam Reuni Akbar 212 dan Aksi Bela Palestina 1712 itu kan bukan satu ormas tertentu saja, tapi Umat Islam.”  tegas Tahta melalui aplikasi Whatsappm, Kamis (18/1).

Ia pun menambahkan bahwa umat Islam bangga dengan bendera Islam, sehingga tuduhan bahwa bendera tauhid adalah bendera ormas yang dibubarkan secara controversial , HTI. Dinilai Tahta sebagai tuduhan tidak mendasar.

“Dalam berbagai aksi, umat Islam bangga mengibarkan Bendera Tauhid Raksasa.” Imbuh Tahta
Tahta turut menceritakan, dalam berbagai aksi umat Islam setelah HTI dibubarkan tidak terdapat pelarangan dan penertiban bendera tauhid. Tahta menilai hal ini indikasi bahwa bendera tauhid bukan milik satu ormas.

“Tidak ada tuh insiden pelarangan atau penertiban bendera tersebut. faktanya memang itu bukan Bendera HTI” paparnya.

Tahta memperingatkan kepada pihak pihak agar lebih banyak mencari tahu untuk menghindari kesalahan yang pernah dilakukan oleh sosok kontroversial, Abu Janda. Abu Janda sendiri pernah mempermalukan dirinya sendiri di acara Indonesia Lawyers Club karena tidak yakin keabsahan bendera tauhid.

“Yang masih gagal paham soal Bendera Tauhid dan Bendera HTI mesti belajar banyak dari kekeliruan Abu Janda di ILC. Jangan sampai terperosok pada lubang yang sama dengan Abu Janda.” pungkas Tahta. [MO]        





Posting Komentar