Shlawat Asyghil Effect : Hanura ?
Oleh Max (Jurnalis Muda)

Mediaoposisi.com| Shalawat asyghil, dikutip dari berbagai sumber holawat ‘Asyghil’ (sibuk) ini selain memohonkan rahmat ALLAH untuk Rasulullah saw, juga bertujuan untuk memohon keselamatan dari kezhaliman para penguasa. Sebagian kaum muslimin mempopulerkan shalawat ketika rezim Jokowi menyakiti hati umat Islam setelah membubarkan ormas Islam,HTI.
Shalwat asyghil awaknya dipanjatkan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq (wafat 138 H). Beliau hidup di akhir masa Dinasti Umayyah dan awal era Abbasiyyah yang diwaranai berbagai intrik dan konflik..
Disinyalir, shalawat Asyghil yang kerap disuarakan memiliki dampak terhadap pihak pihak  yang mendukung pembubaran ormas Islam, yaitu Wiranto dan Hanura.
Hanura Pecah
Detik.com menyebutkan, Menkopolhukam sekaligus ketua dewan Pembina Hanura, Wiranto menyesalkan konflik internal partainya.
“Ini sesuatu yang sangat disesalkan, tapi bukan tidak bisa selesai, kita selesaikan," kata Wiranto di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (16/1)
Perpecahan Hanura ini terjadi pasca sejumlah pengurus menggelar rapat di Hotel Ambhara. Pengurus Hanura tersebut memecat Oesman Sapta Odang (OSO) dari kursi ketua umum. Pengurus 'Ambhara' menunjuk Daryatmo sebagai Plt Ketum.
Menyikapi hal tersebut, pihak OSO tak tinggal diam. Bukannya tabayun, OSO justru memecat balik Sarifuddin Sudding dari posisi sekjen dan menunjuk Herry L Siregar sebagai penggantinya.
Kini DPD Hanura meminta DPP kubu 'Ambhara' menggelar munaslub. Mereka meminta ada pergantian ketum setelah OSO dipecat melalui mosi tidak percaya

Wasekjen Hanura Tridianto  menilai konflik internal partai mengncam kesiapan menghadapi pemilu,
 "Sebaiknya partai yang kompak dan solid menghadapi verifikasi dan persiapan pemilu. Partai yang konflik ya sulit untuk sukses," kata Tridianto melalui pesan singkat, Senin (15/1)

Tidak heran, ada yang menduga hal ini akibat dosa Wiranto dan Hanura kepada umat Islam. Pasalnya, Wiranto dan Hanura merupakan pelaku utama yang getol menyakiti hati uamt Islam dengan memaksakan pembubaran ormas Islam, Hizbut Tahrir Indonesia.

Hanura Mendukung UU Ormas
Bukan rahasia lagi, bila partai pengekor pemerintahan, yaitu Nasdem, Hanura,Golkar, PDIP adalah partai yang selalu mengiyakan keinginan rezim Jokowi. 

Fraksi Hanura di DPR tegas mendukung langkah pemerintah menerbitkan Perppu No 2/2017 sebagai pengganti atas UU No 17/2013 tentang Ormas. Hanura menyebut negara tak boleh setengah-setengah bertindak terhadap ormas radikal.

"Hanura tentunya sepakat dengan pemerintah. UU No 17 Tahun 2013 membuat pembekuan atau pembubaran ormas radikal sulit dilakukan karena prosesnya panjang dan harus diputuskan oleh pengadilan, padahal izin pendirian ormas ada di pemerintah melalui Kemenkum HAM," kata Sekretaris Fraksi Hanura, Dadang Rusdiana kepada wartawan, Kamis (13/7)

Anehnya, Wiranto mengatakan sebelumnya akan membubarkan HTI melalui pengadilan. Diduga karena tidak memiliki bukti kuat dan membutuhkan waktu lama bila melalui pengadilan, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dinilai represif dan anti Islam, Perppu Ormas.

Dikutip dari detik.com selain Hanura, rupanya PDIP, Nasdem, Golkar, PPP dan Demokrat sebagai mendukung pengesahan Perppu menjadi UU

“F-PDIP menyetujui 100 persen Perppu Ormas disahkan menjadi UU," ujar Sekretaris Fraksi PDIP Bambang Wuryanto dalam sidang paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (24/10/2017). 

Who’s next, PDIP, Golkar,PDIP, PPP, Nasdem  atau Demokrat ? [MO]


Posting Komentar