Mediaoposisi.com| Menanggapi tindakan kontroversial yang dilakukan oleh GP Anshor berupa penurunan bendera Tauhid di SMKN 1 Tangerang yang dimuat di laman Nu.or.id, Komunitas Rayatul Islam (KARIM) melalui pendirinya, Tahta menyayangkan tindakan tersebut, pasalnya saat ini adalah era informasi sehingga tidak sulit untuk mengorek informasi tentang bendera tauhid.

KARIM sendiri dikenal sebagai komunitas independen yang gencar menyuarakan kampanye bendera tauhid di Indonesia.

Kok masih ada yang keliru antara Bendera Tauhid dan Bendera HTI. Ini zaman teknologi di mana informasi mudah diakses” ujar Tahta melalui whatsapp kepada Mediaoposisi.com, Kamis (18/1)

Tahta menilai pihak yang melakukan penurunan bendera juga harus proporsional dalam melihat bendera tauhid. Bukan rahasia bila NU dan badan otonomnya, GP Anshor dikenal dengan pemerintah dan sentimen dengan ormas HTI.

“Jadi kalau (GP Anshor) konsisten mendukung pemerintah, jangan setengah-setengah. Kalau melakukan penertiban bendera dengan alasan HTI sudah dibubarkan, maka mestinya standar penentuan Bendera HTI juga mengacu kepada informasi pemerintah.” imbuhnya.

Lebih lanjut Tahta juga mengecam pihak pihak yang sengaja mengaburkan pemahaman masyarakat terhadap bendera tauhid.

“Kalau memang ada unsur kesengajaan maka segera bertaubat”. pungkasnya.

Bendera tauhid sendiri semakin dikenal sebagai bendera milik umat Islam, hal ini terindikasi kuat dalam berbagai aksi yang melibatkan umat Islam lintas ormas. Bendera tauhid baik liwa maupun rayah berkibar di tengah tengah aksi. [MO]


Posting Komentar