Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com|
Belum lama ini, Selasa(23/1) dalam acara tabayyun GP Anshor dan Gus Nur di Kantor PCNU Surabaya, GP Anshor mengklaim pihaknya anti persekusi dan mendahulukan tabayyun/klarifikasi. Tidak kali ini saja mereka mengklaim hal ini, berdasarkan penelusuran Mediaoposisi.com ,rupanya GP Anshor pernah bertindak serupa namun hanya untuk kalangan tertentu saja.

Sebelumnya, dikabaarkan lintasjatim.com, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sidoarjo mendirikan posko anti persekusi dari kelompok mereka tuduh radikal.
"Selain menjaga keamanan juga melindungi tindakan persekusi dari kelompok radikal," kata Riza Ali Faizin ketua PC GP. Ansor Sidoarjo kepada lintasjatim, Ahad (4/5/2017).
Pentingnya klarifikasi/ tabayyun pun pernah diutarakan oleh ormas kontroversial ini. Dikutip dari tribunnews.com, Jumat (2/6/2017) GP Anshor pernah menemani PMA. PMA sendiri adalah  remaja yang mengejek ulama dan ormas  FPI melalui status FB.

"Harusnya dilakukan tabayyun, klarifikasi yang baik. " ucap Achmad menyinggung FPI yang dianggap melakukan persekusi

Lebih lanjut, Dikutip dari antaranews.com, Lembaga Bantuan Hukum GP Ansor, selaku kuasa hukum komika kontroversial Joshua Suherman, menilai Forum Umat Islam Bersatu (FUIB), seharusnya meminta klarifikasi sebelum melapor ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri.
"Siapa pun yang melaporkan Joshua dan Ge Pamungkas, seharusnya mereka meminta klarifikasi dahulu, mediasi, tabayun," kata Direktur Advokasi dan Litigasi LBH GP Ansor Achmad Budi Prayoga saat dihubungi Antara News di Jakarta, Selasa. (9/1).
Joshua dan Ge Pamungkas sendiri mengadu kepada ormas yang bernafsu membubarkan HTI ini, Senin (8/1).
Patut disayangkan bila ucapan mulia GP Anshor ini tidak sesuai dengan tindakan mereka pada ormas atau pihak lain yang dianggap berseberangan. Namun fakta berkata bahwa GP Anshor ibarat melakukan apa yang mereka benci, persekusi dan enggan tabayyun.
Khalid Basalamah
Diwartakan oleh kumparan.com, Sabtu (4/3) puluhan anggota GP Ansor memprovokasi massa dengan memaksa pembubaran tabligh akbar di sebuah masjid di Sidoarjo, Jawa Timur, yang diisi ustadz Khalid Basalamah. Situasi menjadi panas dan tegang hingga Khalid mengalah dan menghentikan ceramahnya.

Masjid Shalahuddin, perumahan Puri Surya Jaya, Gedangan, Sidoarjo adalah saksi tindakan provokatif GP Ansho, Tabligh akbar sendiri bertema "Manajemen Rumah Tangga" yang dihadiri ratusan orang.
Dalam berbagai video yang diunggah dari Youtube, mereka berteriak dan memprovokasi massa tanpa mengindahkan wanita dan anak anak

"Isi ceramahnya tidak sesuai dengan tradisi, adat istiadat atau budaya di negara kita," ujar pihak kepolisian saat memaparkan dalih persekusi pengajian ustaz Khalid. Tidak dberitakan bahwa GP Anshor melakukan tabayyun kepada Khalid,

Persekusi Felix Siauw
Ketua PC GP Ansor  NU Kota Malang, HM Nur Junaedi Amin mengatakan, GP Ansor menolak digelarnya acara yang diisi oleh Ustad Felix Siauw pada Ahad (30/4). Junaedi berdalih  tindakan GP Anshor untuk membubarkan pengajian demi menjaga keutuhan Pancasila sebagai dasar negara dan menjaga persatuan masyarakat.

"Kita lihat sendiri bagaimana Felix Siauw di medsos getol menyuarakan khilafah di Indonesia, GP Ansor dan simpul-simpul nasionalis lain sepakat bahwa HTI makar karena ingin menggeser Pancasila sebagai dasar negara dan mengganti pemerintahan saat ini.” ujarnya. GP Anshor sendiri tidak diberitakan melakukan klarifikasi kepada Felix Siauw.

Dilansir dari kiblat.net. Serupa dengan di malang, aksi ormas GP Anshor dan pemuda Barisan Ansor Serbaguna Nahdatul Ulama (Banser) membubarkan pengajian Felix Siauw di Bangil, Sabtu (4/11/2017) lalu dilakukan atas izin Gerakan Pemuda Ansor Pusat yang diketahui oleh Yaqut Cholil.
Hal itu diungkapkan oleh Fairuz Ahmad, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Agama GP Ansor Pusat.

“Iya, kita satu komando dan satu arahan dari pimpinan pusat dalam hal ini ketua umum GP Ansor Gus Yaqut Cholil Qoumas. Jadi, seluruh gerakan Insyaallah terkoordinasi, terkonfirmasi dengan baik itu (termasuk pelarangan dan pembubaran pengajian Felix di Bangil, red),” ungkap Fairuz saat dihubungi Kiblat.net, Selasa (06/11/2017). Tidak ditemukan adanya klarifikasi dari GP Anshor terhadap Felix Siauw hingga berita ini ditulis.

Persekusi HTI
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebelum dibubarkan secara controversial oleh pemerintah, akan menggelar Tablig Akbar Peringatan Isro Mi'roj Nabi Muhammad SAW di Frontage Road di Jalan Ahmad Yani,Surabaya, Jawa Timur pada Minggu besok (2/4). Namun, kegiatan bertema "Khilafah Kewajiban Syar'i, Jalan Kebangkitan Ummat" tersebut, diancam oleh ulah Gerakan Pemuda (GP) Ansor.

Sekretari GP Ansor Kota Surabaya, M Faridz Afif mengatakan, pihaknya mengancam mengerahkan 1500 personel dari Banser dan Pagar Nusa untuk menghalau massa HTI yang diperkirakan berjumlah 5000 orang tersebut. 

"Kegiatan HTI bertema Khilafah Kewajiban Syar'i, Jalan Kebangkitan Ummat ini bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945. Aksi ini juga bisa merong-rong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karenanya kami keluarga besar NU menolak aksi ini," tegas M Faridz Afif, Sabtu (1/4/2017) tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang makna Khilafah yang dimaksud HTI .

GP Ansor juga mendesak kepolisian berpihak kepada mereka dengan membubarkan kegiatan HTI tersebut. "Tetapi kalau aparat kepolisian tidak mengambil langkah apapun, kami akan bertindak, kami akan hadang mereka," ancam Afif. Lagi, tidak terdapat adanya klarifikasi GP Anshor pada HTI.

GP Anshor Makassar, dikutip dari tempo.co rupanya membeo pada ulah GP Anshor di wilayah Jawa. Kali ini kericuhan turut terjadi,ketika ribuan anggota HTI mencoba melakukan orasi terlihat ratusan anggota Banser Ansor yang lengkap dengan pakaian khasnya mulai merangsek dan menghadang.

Ikut serta dari kalangan mahasiswa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang juga turut menganggu jalannya acara HTI. Bukannya menenangkan masa karena kadar intelektual yang dimiliki PMII, PMII yang notabene anggotanya adalah mahasiswa justru ikut dalam kericuhan.
Dorong mendorong terjadi, dan kondisi makin memanas ketika massa HTI  tetap mempertahankan bendera tauhid.
Hal yang patut disayangkan berikutnya, adalah penyebutan nama Allah setelah membubarkan kegiatan ormas Islam HTI.
"Alhamdulillah kegiatan tadi tidak dilakukan di Lapangan Karebosi dan Menara Bosowa. Kita hanya ingin menegakkan bela negara saja," ucap Ketua Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan Muhammad Tonang, Ahad, (16/4) membenarkan tindakan kontroversialnya.
Lagi, tidak diberitakan adanya klarifikasi atau tabayyun GP Anshor kepada HTI. Lantas, bila bukan persekusi, apa sebutan untuk tindakan controversial ormas controversial ini? [MO]



Posting Komentar