Parpol Ideologis, Mimpi Di Alam Demokrasi
Oleh: Widya Purnamitha*

Tahun 2018, tahun-tahun yang sangat sibuk untuk para anggota parpol diIndonesia. Pasalnya ditahun ini akan dilangsungkan pertarungan politik diberbagai daerah di negeri ini. Sebut saja Pilkada serentak yang digelar pertengahan tahun nanti, dan ini juga akan menentukan gambaran bagaimana pertarungan selanjutnya dalam Pilpres tahun depan. Untuk menghadapi pilkada serentak ini, parpol-parpol di Indonesia mengatur sedemikian hingga anggota-anggotanya untuk dijadikan calon dalam pilkada.
Beragam cara yang dipakai untuk memenangkan pertarungan ini salah satunya adalah berkoalisi dengan parpol lain agar dapat meraup suara sebanyak-banyaknya. Bahkan menggandeng orang-orang yang digadang-gadang mampu mengambil hati rakyat. Ideologi partai seolah dikebiri demi suara. 
Seperti dikataka oleh Jusuf Kalla dikantornya beberapa waktu yang lalu yang dilansir dari news.okezone.com menyatakan bahwa fenomena politik Nasional pada tahun ini menunjukkan perbedaan ideologi antarpartai politik menjadi tidak terlalu kentara. JK mengatakan lebih lanjut "Bahwa ada perbedaan pandangan, ya perbedaan pandangan sebenernya antar partai tidak jelas lagi dia punya paham ideologinya, apakah partai agama, partai nasional, hampir semua sama. Enggak lagi ada perbedaan antara, katakanlah PAN, PPP dengan Golkar atau Gerindra, enggak lagi mempertentangkan ideologi," jelas dia.
Kita bisa lihat diJawa Barat, bagaimana mereka memilah dan memilih calonya masing-masing sehingga bongkar pasang calon koalisi terjadi hanya untuk itung-itungan suara terbanyak. Inilah cerminan parpol di Indonesia, mereka tidak lagi mengindahkan ideologi partainya, yang lebih penting adalah bagaimana mendapatkan suara sebanyak-banyaknya agar anggota-anggota yang mereka calonkan sebagi pemimpin menang dalam kancah pertarungan politik. Hal ini wajar saja terjadi, karena dinegeri muslim terbesar didunia ini mengadopsi sistem demokrasi sebagai sistem pemerintahan. Dimana suara terbanyak menjadi tolak ukur kebenaran dan tak jarang aturan Tuhanpun masih diperdebatkan.
Bagaimana Indonesia negeri kaya sumber daya alam ini mampu menjadi negeri yang makmur ketika para elit poitiknya hanya sibuk memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa berkuasa dan memperkaya diri dan porpolnya saja? Ibarat mimpi di siang bolong, ketika kita berharap perubahan di alam demokrasi ini. Karena sejatinya tidak ada sesuatu yang sempurna di demokrasi kecuali kepentingan, yaitu kepentingan untuk menang sendiri, kepentingan untuk berkuasa diatas yang lainnya, kepentingan meraih uang dan kepentingan-kepentingan individual lainnya.
Padahal sejatinya didalam islam parpol adalah partai yang berupaya menyadarkan masyarakat dan berjuang bersamanya untuk melanjutkan kedidupan Islam. Parpol islam tidak ditujukan untuk meraih suara dalam pemilu atau berjuang meraih kepentingan sesaat. Melainkan parpol yang berdiri karena tuntutan aqidah dan menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Dalam alquran surat Al- Imron Allah berfirman yang artinya :
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar,  merekalah orang-orang yang beruntung”.
Allah memerintahkan agar ada segolongan umat atau kelompok yang secara penuh untuk menyerukan Islam dan amar ma’ruf nahi munkar. Cakupan amar ma’ruf nahi munkar disini termasuk didalamnya menyeru para penguasa agar mereka berbuat ma’ruf ( melaksanakan syariah Islam) dan melarang nya berbuat munkar (menjalankan sesuatu yang bertentangan dengan syariah Islam). Dengan kata lain parpol itu haruslah berideologi Islam dan menjadikan Islam satu-satunya landasan partainya.
Sudah saatnya umat Islam untuk bangkit dan mendukung parpol yang mempunyai visi ideologi islam, berpegang teguh padanya bekerja keras mencerdaskan dan mengajak umat berjuang bersama nya karena hanya Islam yang bisa menghantarkan pada perubahan hakiki. [MO]

*Penulis merupakan ibu yang bercita-cita untuk mencetak generasi cemerlang



Posting Komentar