Oleh : Nurus Sa'adah 

Mediaoposisi.com- Semakin hancur hati para ibu melihat semakin  bejat dan rusaknya lingkungan tempat tumbuh kembang generasi saat ini. Betapa mengerikan melihat  pergaulan bebas sudah menjadi pemandangan umum di kalangan pemuda bahkan anak-anak. Ibu Elly Risman pernah bercerita, bagaimana dengan mudahnya siswa sekolah mengajak temannya melalui SMS untuk making love atau ML. 

Aktifitas itu bisa dilakukan di tangga dalam waktu yang relatif cepat dan singkat karena foreplaynya telah dilakukan melalui chating.

 Selama 10 tahun ibu Elly Risman mengumpulkan data, fakta , dan riset beliau berkesimpulan bahwa negeri ini darurat Pergaulan Bebas. Bahkan beliau katakah telah masuk pada  bencana nasional dan mengancam  ketahanan negara.  Prof Euis Sunarti dalam ILC Tv one (19/12)  juga membeberkan data kasus zina di atas 50 persen di sebuah desa. 

Zina bukan hanya dilakukan dengan orang lain, tetapi terjadi antar anggota keluarga. Data lain yang disampaikan oleh Prof Euis mengambil sampel di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jumlah penderita LGBT naik sekitar 1400 kasus dalam rentang waktu enam bulan! Yang tak kalah mirisnya, perilaku menyimpang ini sudah dilakukan oleh anak-anak usia 11, 12, 13 tahun sudah belajar melakukan hubungan seks sejenis. Sebelumnya Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak pun telah mendapatkan data 3.000 anak dijaring kelompok gay di Indonesia (kabar24.com, 19/2/16).

Sayangnya para pelaku maksiat ini sering lolos dari  jeratan hukum padahal perilaku mereka telah nyata-nyata rusak dan berbahaya. Lihatlah para pelaku pesta gay di Jakarta beberapa waktu lalu tidak mendapat hukuman tegas dari negara. 

Kesedihan dan kegeraman akan kondisi inilah yang kiranya mendorong ibu-ibu visioner yang tergabung dalam Aliansi Cinta Keluarga (AILA) untuk memperjuangkan agar perzinahan dan LGBT bisa dijerat hukum dan membuat pelakunya menghentikan kemaksiatan dengan mengajukan judicial review pasal 284, 285, 292 KUHP. 

Namun perjuangan ini pupus setelah menjalani sidang selama 2 tahun dan diakhiri dengan penolakan judicial review oleh MK terkait perluasan makna zina. Perjuangan ini harus dilempar kesana kemari, karena menurut teori demokrasi bukan pada tempatnya. dalam demokrasi kekuasaan tidak jelas setiap lembaga saling lempar tak ada tanggungjawabnya. 

Semua ini adalah harga mahal yang harus dibayar ketika hidup dalam sistem yang menjadikan kepala manusia sebagai pemutus. Ada banyak kepentingan disana dan lebih jauh sebagaimana yang dikatakan Prof Euis bahwa ada pertarungan ideologi disana!

Benar kiranya bahwa telah terjadi pertarungan ideologi, antara sekulerisme dan islam. Telah bertahun-tahun lamanya negeri ini berkiblat dan menjadikan sekulerisme sebagai pedoman, akibatnya Tuhan pun haram mengatur urusan ranjang. 

Pergaulan bebas, zina, LGBT marak bak jamur di musim hujan adalah  buah dari ide liberalisme, suatu pandangan hidup yang serba bebas, masing-masing individu merasa paling berhak melakukan apa yang membahagiakan baginya. 

Atas nama HAM semua menjadi legal dan minta dibiarkan. Para pentolan liberal pun bersuara agar LGBT tidak dikriminalkan karena bukan pelaku kejahatan. 

Sebelumnya secara internasional PBB telah mengakui  hak-hak kaum Luth modern ini dalam UN Declaration on Sexual Orientation and Gender Identity pada Desember 2008. 

Dan secara serius Amerika Serikat telah mendanai program UNDP bernama “Being LGBT in Asia” dengan pendanaan US$ 8 juta dari USAID yang dimulai Desember 2014 hingga September 2017, dengan fokus operasi di Asia Timur dan Asia Tenggara. 

Sungguh nyata, gerakan menyimpang ini bukan sekedar gerakan lokal nasional namun didukung dan diaruskan secara internasional! Inilah buah karya peradaban sekulerisme kapitalisme global! 

Sesungguhnya pembiaran terhadap hal ini akan menjadi sebuah upaya sistematis untuk menghancurkan  negara dengan nerusak generasinya. Penyebaran HIV/AIDS maupun penyakit kelamin lainnya adalah buah pasti dari merebaknya perilaku seks bebas dan LGBT. 

Meningkatnya perzinaan juga akan berimbas pada meningkatnya angka kehamilan tidak diinginkan (KTD) dan aborsi. Lantas bagaimana kualitas anak-anak yang dilahirkan dari orang tua yang tidak jelas bahkan hanya melakukannya semata memuaskan syahwat belaka?

Demikian pula jika hubungan sesama jenis merebak bahkan meminta diakui dalam sebuah pernikahan apakah akan menghasilkan anak keturunan? 

Generasi seperti apakah yang akan mengisi negeri ini beberapa tahun mendatang?

Apakah akan terlahir generasi sholeh sholehah dan  visioner secara massal  yang meninggikan peradaban ataukah generasi pemuja syahwat yang hari-harinya disibukkan dengan perkara pelampiasan hawa nafsu? 

Mari mengambil pelajaran dari negara pengemban sekulerisme. Di Amerika jumlah penderita penyakit menular seksual melonjak mencapi rekor tertinggi dibandingkan tahun lalu. 

Dilansir dari Daily mail (26/9/17) di negara yang dikenal dengan budaya seks bebas dan telah melegalkan pernikahan sejenis itu, ada lebih dari dua juta kasus klamidia, gonore, dan sifilis yang terdata secara nasional. 

Para pemuda-pemudinya enggan nikah secara normal. Mereka cukup mencari kepuasan seksual dengan pasangan sejenis. Fenomena ini mengakibatkan menurunnya jumlah kelahiran di Negara-negara Barat. 

Peradaban Barat berada diambang kehancuran karena minimnya generasi yang melanjutkan peradabannya.

Mari ingat hadits Rasulullah saw "Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri”. (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Tidak cukupkah bencana alam datang silih berganti menjadi pengingat akan datangnya azab dan lemahnya diri? Sudah cukup kerusakan akibat sekulerisme. Sungguh Allah SWT telah memberikan aturan terbaik agar kehidupan manusia berjalan sesuai fitrahnya. 

Kesucian naluri kasih sayang Allah berikan pada laki-laki dan perempuan agar satu sama lain memiliki kecenderungan dan bersatu dalam gerbang pernikahan. Dari gerbang pernikahan inilah kelak akan dilahirkan keturunan yang akan melanjutkan estafet mengemban misi hidup untuk taat kepada Allah, melaksanakan perintahNya dan menebarkan rahmat ke seluruh alam.

Tidak ada kamus individualis dalam Islam, karena kemaksiatan yang dilakukan seseorang akan berimbas pada yang lainnya. Maka tidak akan pernah ada pembiaran terhadap perilaku menyimpang bahkan negara akan mencegahnya dan menciptakan suasana kondusif untuk lahirnya generasi-generasi visioner pemimpin peradaban yang senantiasa memikirkan kemaslahatan umat dan berkarya untuk ketinggian peradaban.

Indah nian jika kondisi demikian benar-benar tercipta. Ibu yang telah susah payah melahirkan dan membesarkan anak-anaknya mendapat dukungan dari suasana kondusif yang tercipta. Maka hentikan sudah linangan air mata ibu dihari nya. 

Teruskan perjuangan ini wahai para ibu tangguh, hingga kemaksiatan tidak lagi mendapat tempat dan sekulerisme-liberalisme tenggelam dari muka bumi dan berganti dengan terbitnya fajar Islam sebagai muara dari perjuangan. Niscaya generasi di seluruh dunia akan terselamatkan. [MO]

Posting Komentar