Para Penguasa Negeri Muslim


Oleh: Rahmadinda Siregar
(Aktivis Lingkar Studi Mahasiswi Peduli Negeri)

Mediaoposisi.com- Apa yang dilakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pidato kontraversialnya yang mengakui eksistensi Yerussalem sebagai ibu kota negara ‘teroris’ Israel menyingkap topeng siapa sebenarnya Amerika. Pengakuan tersebut juga menunjukkan wajah asli Amerika yang selama ini berlindung di balik slogan perdamaian. 

Klaim kejahatan akan dukungan AS terhadap penjajah Israel merupakan sesuatu yang harus kaum muslimin jadikan nalar kesadaran akan mandulnya konsep kebangsaan dan omongkosong perdamaian yang sering dikampayekan AS.

Amerika tetaplah Amerika, negara kafir harbi fi’lan yang akan terus menebarkan kebencian dan permusuhan terhadap kaum Muslimin. Pengakuan Trump sekaligus menampakkan keberpiahakannya kepada Israel, yakni negara ilegal yang terus dirawat dan dibesarkan Amerika untuk menjadi ‘kanker’ ganas di tanah kaum Muslimin.

Sebagaimana dilansir dari Al-‘Arabiyah.net, dalam pidato Trump di Gedung Putih (7/12/2012) mengumumkan bahwa Yerussalem (Al-Quds) adalah ibu kota negara Yahudi. Dia juga mengarahkan Kementerian Luar Negeri untuk memulai proses pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Al-Quds. 

Hal ini juga menunjukkan kepada siapa saja yang jeli melihat perpolitikan internasional bahwa inilah saat dimana Amerika dengan mudah menginjak-injak kehormatan Al-Aqsa, kiblat pertama kaum Muslimin akibat ketundukan dari para penguasa-penguasa Muslim  di berbagai negeri.

Ya, penguasa-penguasa Muslim yang hanya bisa beretorika kosong dengan kecaman dan kutukan yang tak bernilai di mata Trump, kecaman yang tidak ada apa-apa nya ibarat melempar sebutir pasir. 

Bahkan menjelang pengumuman formal, Trump juga sempat menelepon beberapa pemimpin-pemimpin Muslim  di kawasan Timur Tengah untuk menyampaikan niat pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerussalem (BBC.com, 06/12/2017). Namun mereka hanya diam seribu bahasa layaknya orang mati.

Sungguh aneh dan mengherankan atas sikap ambigu dan ketundukan para penguasa-penguasa Muslim tersebut. Apakah mereka tidak mendengar firman Allah swt : 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai para pemimpin kalian. Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Siapa saja di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, sungguh dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang zalim” (TQS. Al-Maidah [5]: 51)

Sejak dari awal para penguasa-penguasa Muslim ini telah menyandarkan sepenuhnya urusan Palestina di bawah solusi ‘dua negara’ yang ditawarkan oleh PBB yang licik dan jahat.

Harusnya jika mereka tidak memilih dengan diplomasi basa-basi, melainkan dengan bergabung bersama umat mengirimkan tentara yang mereka miliki untuk mengambil kewajiban agung nan mulia berjihad fisabilillah membebaskan tanah Palestina yang di jajah Zionis Yahudi Laknatullah.



Bahkan mereka mengambil Amerika sebagai mitra sahabat dan menjadikan Amerika sebagai mediator solusi dengan Israel. Bukankah ini sebuah pengkhianatan besar kepada umat ? Padahal Palestina adalah tanah wakaf milik umat Islam yang dalam pandangan Islam haram hukumnya untuk diserahkan walau hanya sejengkal pun kepada Yahudi penjajah.

Jika kita melihat sekilas solusi 'dua negara' ala PBB sejatinya adalah solusi kompromi negara Barat dengan jalur negosiasi untuk melegalkan eksistensi Israel yang notabenenya adalah penjajah yang merampok tanah kaum Muslimin, maka solusi dua negara bukanlah solusi hakiki bagi umat Islam. Tanah Palestina adalah warisan kaum Muslim yang harusnya dipertahankan dengan kekuatan militer. 

Begitulah faktanya sejak masa Khalifah Umar bin Khatab hingga Shalahuddin Al-Ayyubi. Tanah mulia dan diberkahi itu terus dipertahankan bahkan hingga darah-darah mereka menyirami bumi Palestina. Oleh karena itu, penyelesaian tuntas terhadap persoalan Palestina tiada lain selain dengan mengusir Israel dari Palestina dengan jihad yang dikomandoi oleh seorang Khalifah di bawah naungan Khilafah yang melaksanakan tugasnya sebagai junnah (perisai). [MO]





Posting Komentar