PERSEPSI PUBLIK INDONESIA 2017: HTI, KHILAFAH, DAN BENDERA NABI

Oleh Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

Mediaoposisi.com- Penguatan opini di Indonesia selain ekonomi dan politik Jokowi, juga terjadi pergeseran persepsi. Publik di Indonesia dihentakan dengan peristiwa pencabutan SK Kemenkumham HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Sontak, media mainstream dan media sosial (medsos) riuh memperbincangakannya. Di antara ada yang sepakat dan menolak. Polemik pun kian menajam, tatkala tiba-tiba terbitlah Perppu Ormas No.2/2017 sebagai pengganti UU Ormas.

Publik yang awalnya menganggap HTI angin lalu, kini merasa ingin tahu: apa, siapa, dan bagaimana HTI itu? Publik serta merta mencari informasi dengan mengakses ragam keyword ‘HTI’. Ada yang merasa baru tahu kiprah dan tujuannya, lalu mendukungnya. Ada juga yang akhirnya membela. Inilah sikap publik Indonesia di tengah penolakan kehadirannya. 

Selain HTI, publik pun bertanya-tanya berkaitan khilafah. Publik menilai jika muncul kata khilafah, biasanya identik dengan HTI. Hal ini dikarenakan, publik Indonesia menilai bahwa isu sentral HTI yaitu khilafah. HTI dan khilafah seperti satu tubuh. Tampaknya komunikasi politik yang dicitrakan oleh HTI berhasil menggugah kesadaran publik. Meski demikian, publik pun masih mempertanyakan benarkah khilafah ajaran Islam? Benarkah khilafah model baku dari nabi terkait konsep kenegaraan?

Persepsi di atas disusul dengan opini bendera nabi. Hampir dipastikan ketika melihat bendera nabi yang berwarna putih dan hitam dengan lafadz ‘laa ilaha illallah’ disangka bendera HTI. Anggenda setting media mainstream yang memuat ragam aksi umat Islam tak luput dari pemberitaan itu. Pasalnya, setiap agenda besar bendera nabi itu bisa bersanding dengan bendera merah putih dan simbol-simbol kelompok Islam.

 Nah, suatu menarik jika dikaji berkaitan dengan persepsi publik. Mengapa HTI, khilafah, dan bendera nabi kian menguat? Ragam komunikasi apa yang membentuk persepsi demikian, sehingga publik merasa perlu tahu dalam menemukan informasi yang benar.

Bermula dari Interaksi

Siapapun boleh mempertanyakan eksistensi HTI. Sepakat atau tidak, jika hal ini dimasukan dalam komunikasi, maka yang dilakukan HTI telah membuahkan hasil. Komunikasi sebagai interaksi dalam arti sempit bermakna saling mempengaruhi (mutual influence). Meminjam kata-kata Rosegren bahwa beberapa proses A (termasuk perilaku) berubah sebagi hasil beberapa proses B (termasuk perilaku), dan sebaliknya dalam setidaknya satu –dan sering lebih dari satu—putaran penuh. Komunikasi manusia tentu tidak sepasif dalam dunia tumbuhan dan binatang, karena manusia memiliki kesadaran.

Istilah khilafah dan bendera nabi dalam tataran opini 2017 merupakan kerja HTI dalam beberapa kampanyenya. Sebagaimana pengamatan yang dilakukan, HTI pernah mengadakan Konferensi Khilafah Internasional, Muktamar Khilafah, dan Rapat Pawai Akbar. Jika pemerhati cermat, maka dalam pidatonya Khilafah menjadi kata sentral. Bendera nabi pun dikibarkan dan diarak.

HTI dalam interaksi publik terkait khilafah dan bendera nabi, menggunakan teori penanaman (cultivation theory) dalam komunikasinya. Teori ini menggambarkan kehebatan media dan agenda HTI dalam menanamkan sesuatu ke dalam jiwa publik. Kemudian terimplementasi dalam sikap dan perilaku mereka. Di sisi lain, media mainstream yang anti politik Islam juga sering melakukan framing dan labeling yang tak berimbang.

Dalam kaitannya dengan politik, teori penanaman memiliki pengaruh besar bagi publik. Publik menilai bahwa siapa pun yang mengatakan khialafah dan membawa bendera nabi diasosiasikan HTI. Padahal banyak juga yang bicara khilafah dan membawa bendera nabi, tidak berafiliasi dengan HTI.

 Asosiasi publik tampak pada bendera nabi (al-liwa’ dan ar-rayah) sebagai bendera HTI. Hal ini dikemukanan banyak media mainstream dan tokoh-tokoh yang tak suka HTI. Ungkapan mereka bisa dibaca dalam rekam jejak digital media. Bagi publik dan penjelesan dalam banyak hadits bahwa al-liwa’ dan ar-rayah itu bendera nabi. Bendera persatuan umat Islam, karena di situ tertera kalimat tauhid. Bisa jadi identifikasi bendera nabi ditautkan dengan HTI, karena dipengaruhi ketidaktahuan saja.

Multi Effect

 Sesungguhnya istilah khilafah dan bendera nabi kian mendapat tempat di hati masyarakat. Hal ini bisa diamati pada kampanye di media sosial dengan ragamnya. 

Misalnya......

#BanggaBicaraKhilafah
#KhilafahAjaranIslam
#KhilafahJanjiAllahdanRasulNya. 

Bahkan publik pun bangga berfoto dengan bendera nabi lalu mengibarkan dan mengaraknya keliling. Peristiwa terbaru pada Reuni Aksi 212 yang akhirnya mendapat respon meriah. 

 Khilafah dan bendera nabi dalam kondisi keknian seperti recall the past. Artinya, sesungguhnya ide dan gagasanya sudah ada sejak dahulu dan terdokumentasikan dalam sejarah, kitab fiqh, dan hadits. Bagi publik yang hidup saat ini, ibaratkan mereka menemukan mutiara yang hilang dan memiliki hati baru.

Era tahun ke depan, perbincangan dan perdebatan Khilafah akan semakin sengit dan menguat. Perdebatan itu pun akan menghadirkan pro dan kontra dalam ranah intelektual. 

Begitu pula kerinduan umat Islam khususnya bernaung dalam panji rasulullah, al liwa’ dan ar-rayah, yang termanifestasikan dalam ukhuwah Islamiyah. Bahkan mereka ingin hidup bersama ‘laa ilaha illallah’ dan mati diiringi ‘laa ilaha illallah’. Inilah fenomena revolusi global yang harus ditangkap oleh pengamat, politisi, lembaga think tank, dan siapa pun yang merindukan perubahan. Perubahan selalu pasti untuk merubah kondisi stagnanisasi yang despotik. [MO]

Posting Komentar