Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- Media mainstream lagi lagi menunjukkan kerinduannya terhadap Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan kecemburuannya terhadap umat Islam. Pasalnya HTI sering disebut dalam pemberitaan media tersebut. HTI sendiri sukses dibubarkan pemerintah dengan kontroversial melalui Perppu Ormas yang disahkan menjadi UU Ormas.  Berikut penelusuran redaksi Mediaoposisi.com

CNN Indonesia
CNN Indonesia sendiri lahir di Indonesia akibat “ulah” CEO Trans Group, Chaerul Tanjung dan urner Broadcasting System Asia Pacific, Inc.CNN Indonesia acapkali memberi framing negative terhadap kegiatan umat Islam.

 CNN memaksakan opininya bahwa bendera tauhid adalah bendera HTI, hal ini terlihat dalam berita yang artikel tanggal 2/12/2017 yang berjudul “Di Reuni 212, Balon Hitam Putih ‘Terbangkan’ Bendera HTI”. Media milik Si Anak Singkong, Chaerul Tanjung tersebut berkali kali menyebut nama HTI.

CNN pun ngotot menyebut bahwa massa HTI ada dalam aksi tersebut serta tanpa memberikan informasi yang jelas menyebut bahwa massa HTI membawa satu unit mobil komando. Terlihat disini, CNN ingin mengarahkan pembacanya untuk menganggap HTI masih ada dan nekat melanggar peraturan pemerintah.

Padahal, berdasarkan pengamatan redaksi Mediaoposisi.com , tidak ada spanduk,bendera ,dan selebaran serta apapun itu yang mengatasnamakan HTI. Bendera tauhid sendiri adalah bendera umat Islam, sehingga aneh bila menuduh bendera tauhid adalah bendera HTI.

Framing miring CNN pun dikecam oleh Juru Bicara HTI, Ismail Yusanto. Uniknya kecaman Juru Bicara HTI ini dilakukan ketika diwawancarai oleh CNN Indonesia.

"Sangat keliru jika itu disebut sebagai bendera HTI. Saya tegaskan itu bukan bendera HTI," ujar Juru Bicara HTI Ismail Yusanto kepada CNNIndonesia.com, Minggu (3/12)
Ismail menegaskan, bahwa bendera tauhid bisa digunakan oleh seluruh umat Islam di dunia,  ia juga menambahkan bahwa bendera itu merupakan symbol persatuan umat Islam.
“Itu panji dan benderanya Rasulullah. Itu artinya benderanya muslimin di seluruh dunia," tegas Ismail.
Patut diapresiasi, keberanian CNN Indonesia mewawancarai HTI mengingat framing negatif yang sering mereka tulis

Dua Muka MetroTV
Media yang memiliki hubungan mesra dengan pemerintah ini, senada dengan CNN bahkan lebih menyudutkan umat Islam. B
“Celakanya intoleransi itu dipraktekkan untuk kekuasan politik dengan mengatasnamakan agama. Lebih celaka lagi, mereka berencana berkumpul merayakan intoleransi itu dengan gegap gempita, huh. Ini tentu bisa membuat korban intoleransi semakin terluka. Ketika pihak yang terluka disuruh move on, supaya lukanya lekas pulih, pihak sebelah justru menari diatas luka itu dengan merakayakan kemenangan mereka secara gegap gempita,” kata narator di Editorial tersebut.
Dikutip dari seruji.co.id, Editorial berupa video dengan narasi yang dibacakan tersebut diunggah di laman MetroTV di kanal editorial dengan url; http://video.metrotvnews.com/editorial-mi-video/ybDM420k-meneladani-toleransi-sang-nabi, pada Jumat (1/12). Namun, link tersebut tampak sudah dihapus karena dikecam oleh netizen.
Dalam salah satu kalimat narasinya dimulai pada menit 3:16, Editorial MetroTV menyinggung agenda Reuni Alumni 212 dengan menuduhnya sebagai perayaan intoleransi.
Tuduhan stasiun TV yang dipimpin oleh tokoh partai Nasdem, Surya Paloh tidak sesuai dengan kenyataan yang diperoleh kontributor Mediaoposisi.com di acara yang dimaksud. Reuni Alumni 212 dihadiri oleh berbagai ormas islam,tokoh nasional,wakil rakyat hingga non muslim alias kafir. Uniknya, kalangan Non Muslim yang hadir tidak mempermasalahkan sebutan kafir yang disematkan kepada mereka.
Tak heran bila umat Islam memandang negative stasiun TV yang memihak Ahok saat gonjang ganjing kasus penistaan agama. Bahkan sempat terjadi pengusiran oleh umat Islam terhadap MetroTV, akankah ini terulang kembali ?
Intoleransi yang sebenarnya yaitu ketika Viktor Laiskodat menghina ajaran Islam karena ia merupakan anggota partai Nasdem tidak disorot oleh MetroTV. Quo Vadis toleransi ?
Rupanya, MetroTV juga coba mendinginkan suasana dengan mendatangkan Ust Firanda Andirja yang identic dengan kalangan tertentu pada hari Ahad (3/12) untuk mengisi kajian dalam acara Khazanah Islam.
Pertanyannya, apakah umat Islam dapat dengan mudah memaafkan MetroTV hanya dengan menghadirkan Ust Firanda dan ustadz lain tanpa menyesali perbuatannya ? [MO]

Posting Komentar