Reuni 212 


REPORTASE RINGAN DARI SUDUT GELARAN AKSI REUNI AKBAR ALUMNI 212


Catatan Lepas Nasrudin Joha



Mediaoposisi.com-  Saya harus menulis, dan Anda harus membacanya. Sampai kalimat ini, saya merasa lega Anda masih telaten membacanya. Iya, Anda jangan tengok kanan kiri. Yang saya maksud Anda, bukan yang lain. Anda yang terus membaca tulisan ini.

Saya gembira sekali hadir, berada, bersama-sama segenap kaum muslimin yang hadir dari berbagai pelosok negeri. Haru, gembira, bahagia. Perasaan ini, tentu berbeda jika disandingkan dengan perasaan para cebong, jokower, Bani jamban, Bani kotak-kotak.

Mungkin sejak semalam mereka meraung-raung, menangis gulung-gulung, karena hasad dan dengki yang menjangkiti. Setiap mendengar kabar tentang reuni 212, matanya mereka mulai berkaca-kaca, pikiran galau, mereka mencoba menenangkan diri dengan mematikan saluran tivi dan radio.

Namun, layar-layat HP terus menampilkan angka 212. Di Facebook, WA, tweater, telegram, semua sosmed dipenuhi angka-angka 212. Sudah kiamat serasa, panas dingin tubuh mereka, sampai-sampai ada yang perlu di opname untuk tindakan kegawatdaruratan.

Kembali ke inti persoalan, reuni 212. Saya tidak bisa menangkap secara utuh redaksi orasi yang disampaikan para ulama dan habaib. Saya hanya bisa menguping dari jarak yang cukup jauh, sayup-sayup terdengar seruan-seruan takbir menggema. Panggung dan lokas utama telah disesaki peserta lain. Maklum, saya telat.

Ada beberapa redaksi orasi yang bisa saya tangkap. Intinya, semangat aksi 212 yang mempu menyatukan kaum muslimin sekaligus dapat menghukum Penista agama, harus terus dipertahankan bahkan ditingkatkan.

Memang benar, semangat itu harus dipupuk dan ditumbuh kembangkan, untuk dijadikan modal bagi umat yang terhimpit berbagai persoalan. Persoalan-persoalan itu, jika ditarik pada kesimpulan akhir, pada pokoknya berasal dari maksiat yang dilakukan manusia.

Soal ini hanya bisa diselesaikan jika umat kembali pada syariat Islam secara kaffah, dalam naungan negara yang menerapkan hukum Qur'an dan Sunnah.

Derita dan nestapa, yang menghimpit umat Islam di negeri ini juga di belahan negeri muslim lainnya, adalah berpangkal dari ketiadaan kepemimpinan Islam, ketiadaan kekuasaan islam, ketiadaan kekhilafahan Islam. Umat ini ibarat anak ayam yang kehilangan induknya, tidak ada yang mengurusi, tidak ada yang melindungi.

Dalam gelaran Reuni Akbar Alumni 212 ini, saya melihat jelas perasaan kolektif umat yang merindukan syariat Islam. Liwa dan Roya, bendera dan panji Rasulullah berkibar di hampir di setiap sudut aksi.

Kesadaran keislaman yang memancar dari perasaan dan semangat Islam ini perlu ditingkatkan pada kesadaran pada pemahaman politik Islam. Pemahaman politik yang akan mengantarkan umat pada tuntutan paripurna. Tidak saja meminta penerapan hukum Al Maidah ayat 51. Tetapi sampai pada tuntutan penerapan seluruh ayat Al Qur'an dalam kehidupan bernegara.

Ini adalah PR lanjutan para pengemban dakwah. Mereka wajib mendatangi pintu-pintu umat, untuk mengetuk kesadaran umat, membimbing pemahaman politik umat, sampai umat mengemban dan memperjuangkan visi politik Islam.

Visi politik Islam adalah menerapkan hukum Islam secara kaffah dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru alam. Visi ini hanya bisa terealisir jika umat mengemban misi melanjutkan kehidupan Islam dengan berjuang menegakkan daulah Khilafah.

Sebab, tanpa Khilafah mustahil Islam dapat diterapkan dalam sistem demokrasi. Demokrasi adalah sistem kufur, tidak mungkin dapat mengejawantahkan misi Islam.

Memahamkan umat pada urgensi Khilafah, penerapan hukum Quran dan Sunnah adalah tugas dan tanggung jawab pengemban dakwah. Dari kesadaran umat inilah, tuntutan penegakan Khilafah akan menjadi arus mainstream gerakan kebangkitan umat.

Jika pemahaman ini telah menggejala, menjadi kerinduan umat, mereka akan menuntut penguasa menerapkan syariat Islam. Mereka akan turun Kejalan, memenuhi seluruh ruang-ruang publik, meneriakan yel-yel kebangkitan, menuntut penegakan Khilafah.

Hari-hari tidak akan pernah sepi, semua Umat Islam tumpah ruah, menyampaikan kerinduan ditegakkan hukum Islam. Saat itu, dengan sedikit operasi militer maka kekuasaan Islam bisa tegak berdiri, dan memimpin seluruh peradaban dunia.

Ah cukup dulu, itu tentang visi politik. Ini adalah hal yang substantif. Tapi saya juga ingin menulis kembang-kembang gelaran aksi reuni 212.

Ada yang menarik, di sudut barat arah masjid Istiqlal, ada di depan gedung Pertamina. Apa yang menarik ? Ada pulsa gratis ! Hehe, bagi peserta aksi yang krisis pulsa mungkin bisa merapat.

Unik, yang lalu ada makanan gratis, minuman gratis, pengobatan gratis. Tahun ini semua fasilitas gratis itu tetap ada, tambahan yang terbaru ya itu ada pulsa gratis.

Tapi info ini jangan disebar ke siapapun, sebab saya khawatir booth pulsa gratis akan diserbu pengunjung, dan tidak tersisa lagi pulsa gratis buat Anda. Wabil khusus, jangan disampaikan pada yang tidak hadir di reuni Akbar, pasti akan membuat peserta aksi makin membludak. Ini saja seluruh sudut Monas sudah terkepung. Jumlah yang sangat memuaskan, jumlah yang membuat para haters dari mahzab cebong dan Bani kotak-kotak akan tersungkur menanggung malu.

Alhamdulilah, Anda masih membaca tulisan ini. Sampai redaksi ini. Iya, redaksi ini. Iya, Anda, yang saya maksud Anda, bukan yang lain.

Jadi, terima kasih telah berkenan membaca. [MO].

Posting Komentar