Ilustrasi


Oleh : Tri Silvia 


Mediaoposisi.com- Kids Zaman Now. Mereka adalah para Generasi Z yakni sebutan untuk generasi yang sejak lahir perkembangan teknologi digital berkembang pesat. Bahkan sebelum bisa berjalan dan berbicara, sudah akrab dengan internet. Dan Saat ini masuk usia sekitar 20 tahun ke bawah. Kids Zaman Now adalah pembaharuan istilah dari kata anak muda zaman sekarang, sejak kecil sudah erat dengan gadget dan internet, dan masa remajanya jadi ketergantungan dengan teknologi digital.

Lebih banyak interaksi online daripada offline, semua hiburan mulai dari baca, nonton, dan komunikasi dilakukan melalui internet. Bahayanya tidak hanya ditimbulkan dari ketergantungan mereka akan gadget, namun juga berasal dari bacaan atau video yang mereka tonton dan lihat disana, mereka menjadi orang yang lebih terlihat dewasa dengan beradegan dewasa sebelum waktunya, baik dari segi sikap maupun penampilan. Kemudian jika tidak diawasi, mereka pun dimungkinkan dapat melakukan hal yang tidak boleh dilakukan lebih dini.

Kemudian terkait dengan LGBT, diprediksikan bahwa jumlah LGBT kini mencapai 3 persen dari seluruh penduduk Indonesia (JawaPos.com,23/2017). Di Kota Bogor saja ada 1.330 pria yang homoseksual, yang data tersebut bersumber dari para pria yang menjalani Voluntary Counseling and Testing (VCT) yang dilakukan oleh Dinkes Kota Bogor, ujar ibu Nia Yuniawati (Pengelola Program HIV Dinkes Kota Bogor) (PojokJabar.com,18/12/2017). 

Mereka kini merasa lebih bebas untuk melakukan hubungan tersebut karena adanya pembiaran dari pemerintah dan masyarakat.

Dua fenomena diatas tentunya menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan bagi kita, terutama para kaum ibu yang memiliki anak-anak yang berada dalam pengawasannya. Kedua fenomena diatas menjadi menarik dikaitkan dengan ibu karena selama ini banyak kalangan yang mengembalikan permasalahan Kids Zaman Now dan perubahan orientasi seks para pelaku LBGT ini kepada lingkungan rumah, khususnya lingkungan keluarga dan lebih khusus lagi kepada ibu.

Berpegang pada hadits,“Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau nashrani”(HR. Bukari-Muslim). Orang tua dalam hadits diatas bermakna ayah dan ibu, namun secara kedekatan emosional dan intensitas mendidik ibu lah yang lebih dekat dengan anak. Lalu bagaimana cara seorang ibu dalam menghadapi tantangan dua hal diatas?

Ibu adalah sebutan untuk orang yang telah melahirkan dan membesarkan kita dengan cinta dan kebaikannya guna mengantarkan anak-anaknya ke jenjang kesuksesan. Begitu besar perhatian yang Allah berikan pada sosok ibu di dalam Al-qur'an. Terdapat lebih dari 20 ayat Al-Qur’an tercantum kata ibu didalamnya. Salah satu diantaranya adalah:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Begitu besar pengorbanan ibu dalam ketiga hal tersebut, yang kemudian menjadi sebab keutamaannya, bahkan disampaikan bahwa kebaikan yang diberikan kepada ibu tiga kali lebih besar dibandingkan kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits:

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Ibu memiliki peran yang sangat besar bagi anak-anaknya, terutama sebagai pendidik generasi. Peran seorang ibu sebagai pendidik generasi di dalam Islam dimaksudkan untuk mendidik anak-anak dan generasi mereka untuk beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Inilah tugas yang wajib diemban oleh ibu Ideologis. Tidak hanya mengantarkan anaknya pada kesuksesan yang bersifat materi belaka, namun juga menghantarkan anaknya menuju surga Allah melalui keimanan dan ketakwaan yang sempurna dalam artian menjalankan seluruh aturan Allah dan menjauhi larangan-Nya melalui dibikin sedari kecil.

Allah SWT telah memberikan panduan cara ibu mendidik anak-anaknya tentang keimanan dalam al-Qur’an, diantaranya:

“Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar" (QS.Luqman : 13)

Menanamkan keimanan dan ketakwaan pada anak perlulah kiranya dilakukan melalui proses berfikir. Karena hanya dengan proses berfikirlah, keimanan seseorang akan menjadi kokoh, sehingga anak tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan buruk sekitarnya.

Selanjutnya anakpun harus diajarkan mengenai sifat-sifat Allah, yang diantaranya adalah bahwa Allah Maha Melihat dan Mengetahui. Sehingga apapun dan dimanapun ia berada, ia akan meyakini bahwa ada Allah yang mengawasinya. Dengan hal tersebut maka akan terbentuk idrok sillah billah yakni kesadaran akan hubungannya dengan Allah di setiap tempat dan aktivitas.

Dan yang terakhir, ajarkanlah kepada anak untuk terikat dengan hukum syara' dan mengenalkan hukum-hukum syara' yang Allah turunkan sedikit demi sedikit dengan bahasa yang mudah difahami oleh anak. 

Secara garis besar, seperti itulah peran ibu Ideologis dalam menangkal efek negatif Kids Zaman Now dan LGBT saat ini. Walaupun pada hakikatnya seorang ibu -ibu Ideologis sekalipun- tidak akan mampu untuk menangkal serangan dua fenomena diatas secara tuntas. 

Harus ada sinergi 3 kekuatan utama dalam menjadikan masyarakat yang bebas dari dua fenomena diatas dan fenomena-fenomena lain yang juga menantang hukum syara', yakni keluarga, masyarakat dan negara.[MO]




Posting Komentar