Jangan Jangan Mahfudz MD Lagi Kebingungan
Oleh : Ardi Muluk 

Mediaoposisi.com- Saya bingung dengan apa yang dimaksud Mahfudz MD bahwa tidak ada sistem baku di dalam pemerintahan Khilafah. 

Soalnya setiap diberikan jawaban terhadap apa yang beliau tanyakan selalu ditolak olehnya. Ada baiknya kita tanya dulu, apa yang dia maksud sistem baku. Tolong kasih contoh sistem baku yang dia maksud sebagaimana didalam sistem demokrasi yang ada sekarang.Di dalam sistem Islam, Khalifah memutuskan berdasarkan AlQuran, Sunnah, Ijma para sahabat dan Qiyas. Di dalam nya ada yang Qath'i yang harus diikuti, dan ada yang zhanni yang bisa menjadi khilafiyah di dalamnya.Di dalam metode pengangkatan Khalifah adalah Baiat, sebagai syarat wajib yang harus diikuti. 

Sementara di dalam pemilihan Khalifah bisa ditunjuk, bisa disepakati oleh ahlul halli wal aqdi, atau bisa lewat pemilihanDi dalam struktur pemerintahan ada para muawin dan departemen yang dibidangi nya.Saya melihat Mahfudz MD hanya berputar-putar pada narasi bebal penolakan terhadap kekhalifahan tanpa mau melihat fakta bahwa Kekhalifahan Islam telah diterapkan selama berabad abad, yang merupakan sistem kepemimpinan Islam untuk menerapkan Islam secara kaffah. Lalu didalam menjalankan pemerintahan tersebut ada yang baku dan ada yang fleksibel. Syariat Islam sebagai sesuatu yang berdaulat adalah sesuatu yang baku, pembaiatan Khilafah adalah baku, tetapi pemilihan Khalifah adalah sesuatu yang fleksibel.

Kalau dia melihat bahwa kesimpulan bahwa cara pemilihan Khalifah, penentuan para muawin, adanya baiat Khalifah adalah kesimpulan para ulama, maka semua kesimpulan syariat Islam itu adalah kesimpulan para ulama setelah melihat dan mengkaji AlQuran, dan Sunnah Nabi saw.

Jadi ada baiknya kita tanya dulu apa yang dia maksud dengan sistem baku, tolong dia kasih contoh dulu apa yang dia maksud, jangan jangan dia sebenarnya lagi bingung terhadap masalah tertentu, tetapi tidak mampu mengungkapkannya, makanya apa saja yang diterangkan kepada nya selalu ditolaknya karena bukan itu yang sesungguhnya dimaksudkannya. 

Jangan kita berusaha menerangkan kepada orang yang tidak mampu memahami apa yang dimaksud oleh perkataannya sendiri. Ada baiknya kita memelihara kewarasan kita untuk tidak terjebak kepada hal yang sia-sia. [MO]

Posting Komentar