Ust Abdul Somad

Oleh: Ditta puspita
Karyawati SMPN 1 Ngawi

Mediaoposisi.com- Beberapa waktu terakhir, kata intoleransi terus menggema di Indonesia. Kata ini pasti terasa tak asing di telinga kita. Apalagi ini terkait dengan perbedaan pendapat, suku atau agama. Seperti halnya yang terjadi pada Ustadz Abdul Somad ketika beliau berkunjung ke Bali, beliau mengalami penolakan oleh sejumlah anggota organisasi kemasyarakatan setempat. Penolakan ini beralasan bahwa ceramah UAS (Ustadz Abdul Somad, red) intoleran dan dianggap mencederai nilai-nilai Pancasila serta dapat merusak kerukunan umat beragama di Indonesia.Beberapa orang sangat menyayangkan tindakan penolakan dari organisasi kemasyarakatan ini. 

Adapun kedatangan Ustadz Abdul Somad ke Bali dalam rangka Safari Dakwah. Namun demikian, pada akhirnya penolakan ini dapat dicegah oleh aparat keamanan. Dan dalam ceramahnya beliau juga menegaskan tidak anti dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Entah apa yang dipikirkan ormas yang melakukan tindakan tersebut, apapun alasannya tindakan ini tidak dibenarkan karena melanggar hak asasi dan termasuk bentuk persekusi yang dilarang undang-undang. Sebab di Negara yang berdasarkan Pancasila ini setiap warga Negara akan diberikan jaminan perlindungan hak asasi oleh Negara dalam melaksanakan kewajiban agamanya. 

Bentuk intoleransi yang sebenarnya justru terletak pada mereka yang menolak kedatangan UAS di Bali, mereka melempar tuduhan yang tidak mendasar. Mereka mempersoalkan kata ‘kafir’ yang sering diungkap oleh UAS, padahal kata ‘kafir’ merupakan terminology dalam Al Quran dan tidak mungkin diganti non-Muslim. Lebih dari itu, mereka juga melarang dakwah menyangkut masalah Khilafah dan islam berbau politik.  

Sebegitu takutnya-kah mereka terhadap Khilafah dan Islam politik, sehingga dikatakan umat islam Intoleran?? Bahkan acara Reuni 212 juga dikatakan sebagai perayaan intoleransi. Apakah ketika seseorang muslim menyuarakan agama Islam, dikatakan intoleran?? Padahal ketika kaum muslimin berusaha menjalankan aturan agamanya sebagai bentuk tanggungjawab dirinya sebagai seorang muslim. Lalu bagaimana ketika umat agama lain yang menyuarakan dan menjalankan perintah agamanya, apa mereka juga disebut sebagai intoleran?? Ternyata Tidak. Inila fakta bahwa Kata intoleran yang digaungkan hanya disematkan kepada islam dan umat islam. 

JAS MERAH (Jangan Sekali kali Melupakan Sejarah), Bukankah kemerdekaan negeri ini diperjuangkan oleh umat islam? Para pahlawan dikobarkan semangat nya dengan TAKBIR? Bahkan sejak negeri ini merdeka hingga sekarang kebhinekaan pun tetap terjaga dengan umat islam?? Tapi kenapa baru sekarang ini, tuduhan islam intoleran mulai digaungkan?

Sungguh rezim ini ambigu terhadap kata ‘intoleran’, ketika islam dan umat islam yang diganggu maka rezim mendiamkan bahkan meminta umat islam untuk toleran. Sebaliknya, jika non-muslim merasa terusik maka umat islam juga diminta untuk toleran. seolah-olah umat islam lah yang sangat intoleran dan yang non-islam justru merasa menjadi yang paling benar. Sungguh, ada yang ingin memecah belah umat dan mengusik persatuan dan kesatuan Negara ini. 

Begitupun dengan kejadian penolakan Ustadz Abdul Somad di Bali, Apakah karena non-muslim menjadi mayoritas di Bali kemudian meraka melakukan tindakan persekusi seperti ini?? Tapi hal ini tidak disebut sebagai tindakan intoleransi. 

Patut disadari oleh masyarakat, bisa jadi isu ini digulirkan untuk menutupi permasalahan yang terjadi saat ini. Permasalahan besar yang ditutupi seperti perkara rusaknya negeri ini karena korupsi, pemerintah  yang menjual asset Negara, mudahnya aseng asing masuk ke dalam negeri, hancurnya persatuan justru tidak menjadi hal yang dipersoalkan. Karena bagi mereka yang terpenting Pancasila dan NKRI diatas semua, bahkan diatas agama. 

Benar saja “Intoleransi” menjadi tameng atas nama persatuan. Rezim represif ini telah gagal melindungi ulama dan pengemban dakwah islam, bahkan membiarkan tindakan persekusi dan intimidasi. Selama sistem Kapitalisme yang mengusung Sekulerisme dan Liberalisme masih bercokol di negeri ini, Ketidakadilan terhadap islam dan umat islam akan terus terjadi.[MO]



Posting Komentar