Gambar terkait

Saatnya Menjadi Pahlawan Ummat
Oleh : Maulana Sanjaya (Ketua BEM STEI Hamfara)



Refleksi Kritis

Mediaoposisi.com-  Indonesia diperkirakan akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020-2030. Bonus demografi sendiri bermakna kondisi dimana jumlah usia angkatan kerja dengan usia 15-64 tahun mencapai 70 persen. Sisanya 30 persen penduduknya berusia tidak produktif yaitu usia 14 tahun ke bawah dan di atas 65 tahun.
Hal ini diamini oleh  Presiden Joko Widodo. "Tahun 2020-2030 kita Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi di mana penduduk usia produktif sangat besar. Artinya dalam kurun waktu 3-13 tahun ke depan kita akan memiliki banyak sekali SDM yang tengah pada puncak usia produktif," kata Jokowi. (Kumparan.com).
Bonus demografi ini ibarat dua mata pisau, bisa membunuh lawan atau membunuh diri sendiri, dalam konteks ini Indonesia. Indonesia bila tidak “becus” menyiapkan beberapa hal penting seperti penyediaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas SDM seperti pendidikan yang tinggi dan pelayanan kesehatan dan gizi yang memadai, maka akan terjadi permasalahan, yaitu teradinya pengangguran yang besar dan akan menjadi beban negara.

Jepang pada tahun 1950 mengalami bonus demografi yang digarap dengan serius, sehingga menyebabkan Jepang menjadi negara di kekuatan ekonomi ketiga setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet, meskipun Jepang baru saja mengalami kekalahan pada Perang Dunia II. Begitu juga dengan Korea Selatan. Pada tahun 1950, Korea Selatan termasuk negara termiskin di Asia dan sering dilanda perang saudara yang membuat situasi perekonomiannya semakin terpuruk. Namun Korea Selatan berhasil memanfaatkan bonus demografi sehingga saat ini kita bisa lihat pengaruhnya di Dunia.
Dalam Islam, bonus demografi adalah berkah bagi umat Islam.
اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ
Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits tersebut menunjukkan bolehnya berdo’a meminta banyak harta dan banyak anak pada Allah. Dan hal ini sama sekali tidak menafikan kebaikan ukhrowi (akhirat).

Kaum muda adalah pemimpin sebuah umat di masa depan, artinya sedikit banyak masa depan umat bisa kita lihat dari kondisi pemuda saat ini. Tidak salah bila kita merujuk pada perkataan Pramoedya Ananta Toer tentang kaum muda.
Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, apabila angkatan muda mati rasa, maka matilah sejarah sebuah bangsa [Pramoedya Ananta Toer]
Membahas tentang sejarah kepahlawanan kaum muda dalam menelurkan perubahan di Negara, tentu tak bisa lepas dari beberapa peristiwa besar.

Dalam masa awal kemerdekaan Indonesia, Beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indo nesia (17 Agustus 1945), pemerintah kolonial Belanda lewat organisasi Netherlands Indies Civil Administration (NICA) berusaha menancapkan kembali misi penjajahannya di Tanah Air dengan membonceng tentara Sekutu.

Menghadapi situasi ter sebut, KH Hasyim Asy'ari (pen diri NU) bersama ulama-ulama lainnya di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya pada 21- 22 Oktober 1945. Para ulama itu lantas mendeklarasi kan perang mempertahankan kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad. Deklarasi tersebut lebih dikenal dengan istilah 'Resolusi Jihad'. 

Hal ini ditanggapi positif oleh kalangan santri yang didominisasi anak muda sehingga 10 November pecah perang antara rakyat Indonesia dengan sekutu yang ditumpangi NICA. Tak heran saat itu, teriakan takbir oleh Bung Tomo disambut hangat oleh masyarakat, termasuk para santri.
"Hari Santri merujuk pada keluarnya Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 yang memantik terjadinya peristiwa heroik 10 November 1945” ujar Menteri Agama, Lukman Hakim.
Tampak disini, kaum muda berhasil menjadi pahlawan pada masanya dengan mentaati seruan ulama untuk melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali.
Kepahlawanan para youngster di Indonesia tidak hanya itu/ Di era 66 ketika era kejatuhan Soekarno . Suara hati masyarakat dilantangkan oleh mahasiswa dalam wujud Tritura. Tritura yang berisi dorongan untuk membubarkan PKI & Underbownya, pembersihan kabinet Dwikora, serta penurunan harga pangan.

Kaum muda saat itu berhasil menjadikan mereka pahlawan bagi rakyat dengan senjata Tritura., berakhirlah era orde lama menjadi orde baru. Soe Hok Gie berkata bahwa saat itu banyak tokoh muda yang dianggap “pahlawan” memperoleh kursi empuk dan jabatan .

Dalam perubahan besar berikutnya, era 98 pun kaum muda kembali menjadi ujung tombak sekaligus martir dari aspirasi rakyat. Bukan rahasia lagi, saat itu masyarakat sudah muak dengan kekuasaan yang dipegang itu itu saja ditambah situasi yang minus kebebasan berpendapat.   32 tahun rezim orde baru berkuasa, dibentuk dengan bantuan kaum muda lalu runtuh akibat “tingkah” kaum muda pula.

Lantas ketika kita melihat sejarah dan berbagai problematika di negeri ini ada sebuah benang merah kusut yang harus segera dibenahi. Para pejabat yang korup, wakil rakyat yang pro kapitalis dan lingkaran sekelilingnya tidak bisa dinafikan bahwa mereka dulu pernah muda bahkan diantara getol melayangkan kritikan terhadap penguasa, dan wakil rakyat yang saat itu telah mapan. Panjang Umur Perjuangan ? Non sense

Urgensi Landasan Sahih
Terdapat hal yang hilang dari para kaum muda yang telah menua, Mereka lupa bahwa perjuangan harus di dasari dengan kebenaran, artinya perjuangan heroik itu harus ideologis non kompromistis. Dengan ideologi yang dijadikan asas dan landasan dalam berjuang maka kompromi kompromi tidak akan terjadi sekalipun berdiri di depan penguasa atau dipenjara karena kontra penguasa.
Sekiranya para pemuda mau mengkaji literatur Islam, sosok Muhammad Al Fatih dapat menjadi contoh mulia. Sosoknya yang sejak kecil bersemangat mempelajari agama Islam dengan dibimbing oleh ahli agama  (cari tau) menjadikannya tumbuh sebagai pemuda yang teguh dan konsisten dalam memegang Islam. Tak heran, Konstantinopel pun takluk di tanganya dan gelar panglima terbaik berhasil ia peroleh.

Itu saja ? Ada kisah menarik setelah Muhammad Al Fatih menjadi pahlawan karena menaklukkan konstantinopel. Dalam pembangunan infrastruktur , ia mendapati arsiteknya yang beragama Non Muslim melakukan kesalahan fatal. Ia lantas khilaf dengan menghukum arsitek tersebut tanpa melalui pengadilan yang sah, yaitu dipoting jarinya.

Arsitek tersebut mengadukan Sultan ke pengadilan. Dikisahkan saat itu, Al Fatih divonis salah dan akan dihukum qishas potong jari. Al Fatih dengan penuh keikhlasan menerima keputusan tersebut dan ia tidak melawan keputusan hakim. Arsitek tersebut terkejut dengan keputusan tersebut dan memaafkan Al Fatih, ia pun diberikan kompensasi rutin oleh Al Fatih.

Poin utamanya disini adalah dengan adanya landasan yang kuat berupa Islam, seseorang tidak mudah terpengaruh untuk lalai dengan kepahlawananya saat berjuang karena dengan Islam maka ia yakin bahwa standar benar salahnya adalah halal haram bukan yang lain.

Kisah kepahlawanan nan manis diatas bukan tidak mungkin menjadi euforia semata bila pemuda pemuda muslim enggan menjadi pahlawan dengan memegang teguh Islam sebagai landasan perjuangan melawan musuh utama kekinian, yakni Kapitalisme ! [MO]


Posting Komentar