REVOLUSI JALAN PERJUANGAN
(REFLEKSI IDEALISME MAHASISWA DALAM PERUBAHAN)
Oleh : Adam (Aktivis Pergerakan Sulawesi)

MAHASISWA BANGKITLAH
Kata mahasiswa sangat manis diucapkan, tetapi sedih ketika melihat perilakunya. Saat ini mahasiswa dibuat diam dan membisu oleh penguasa dengan pembatasan ruang geraknya sehingga mereka menjadi lemah. Lembaga-lembaga kampus baik internal maupun eksternal sudah mulai dikurangi bahkan dibubarkan. Aktivisnya banyak dipersekusi oleh birokrasi kampus, bahkan disandera dengan kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa. Kegiatan mereka hanya terpusat pada aktivitas-aktivitas yang tidak mendidik, sehingga menjadikan mereka ibarat mayat hidup. Tampilan dan pakaian almamater mereka menunjukan identitas masing-masing kampus, tetapi intelektualnya nol dan hampa dengan pengetahuan yang kebanyakan hanya hura-hura yang dapat melemahkan daya kritis intelektualnya. Mahasiswa hanya disuguhkan dengan aktivitas yang membuat mereka terlihat seperti taman kanak-kanak. Kita bisa melihat disetiap tayangan televisi yang menayangkan acara entertainment, yang menjadi penyemarak yang diundang adalah para mahasiswa. Mahasiswa disuruh tepuk tangan, bersorak sorai, beradegan lucu dan lain sebagainya. Maka jangan heran ketika BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang ada di kampus kegiatan yang dilakukan hanya seputar entertainment. BEM mahasiswa kemudian berubah paradigma menjadi Badan Entertainment Mahasiswa. Serendah itukah perilaku mahasiswa saat ini. Apakah idealisme mahasiswa sudah tergadaikan. Dimana kekritisan mahasiswa saat ini. Atau jangan-jangan mahasiswa hanya sekedar stempel yang menempel pada diri mereka tetapi daya kritisnya sudah mati.

MASIH ADAKAH HARAPAN BUAT MAHASISWA.
            Selama ini mahasiswa dianggap sebagai garda terdepan dalam menyuarakan perubahan. Mahasiswa merupakan peletak dasar dalam perjuangan menumbangkan rezim-rezim tirani dan diktator. Suara mereka memiliki magic untuk menggerakkan dan menggetarkan seluruh seluruh lapisan masyarakat dalam menggulingkan tirani kekuasaan. Mahasiswa merupakan magnet yang dengan suara lantangnya dapat membuat ketakutan para penguasa. Akankah masa-masa kegemilangan para singa-singa kampus untuk bersama-sama kembali turun kejalan untuk mendobrak dan menggilas kursi kekuasaan, agar lepas dari tampuk kekuasaan para penguasa diktator akan terulang kembali?.
            Dalam konstelasi politik, suara mahasiswa sangat diperhitungkan. Suara mereka sangat menentukan dalam gerak dan dinamika perubahan. Rezim-rezim tirani dan diktator, banyak yang tumbang dalam setiap gerakan mahasiswa. Mahasiswa menjadi garda yang paling ditakuti oleh setiap rezim, karena gerakan politik mahasiswa sangat berpotensi dalam menumbangkan kursi kekuasaan para rezim. Para penguasa sangat mengetahui dan paham betul tentang fenomena tersebut. Dengan berbagai cara dilakukan penguasa untuk membatasi ruang gerak mahasiswa agar tidak terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pertarungan politik dengan penguasa. Ketika para mahasiswa bergerak maka akan membuat penguasa terdesak dan bisa jadi akan didesak untuk melepaskan kursi kekuasaannya. Para penguasa maupun birokrasi kampus yang merupakan kepanjangan tangan penguasa tidak menginginkan mahasiswa menjadi pemicu tumbangnya rezim yang membuat mereka nyaman di dalamnya. Mahasiswa kemudian dipetakan mana yang pro kepada penguasa dan mana yang anti kepada penguasa. Mahasiswa yang anti kepada penguasa dipersekusi bahkan diintimidasi. Mahasiswa yang pro penguasa difasilitasi bahkan dijadikan kaki tangan penguasa untuk dibenturkan dengan mahasiswa lainnya. Ujung-ujungnya idealisme mahasiswa dapat dibeli dengan recehan oleh penguasa sehingga kekritisannya menjadi lemah.
            Kita tidak memungkiri bahwa masih ada sebagian mahasiswa yang masih menjaga idealisme mereka dengan kuat. Akan tetapi idealisme itu mampu dipatahkan dengan tindakan bar-bar yang dilakukan penguasaan melalui tangan-tangan penegak hukum. Salah satu contoh misalnya BEM-SI yang menyuarakan aspirasi mereka kepada penguasa dan mempertanyakan kinerja pemerintah selama ini justru diperlakukan tidak manusiawi. Mahasiswa menjadi takut dan diam tidak menunjukan perlawanan untuk bangkit memukul lawan politiknya kembali. Dengan kondisi ini apakah kekuatan mahasiswa sudah rapuh dan tidak bisa kembali untuk menunjukan superioritasnya kepada penguasa yang selama ini merendahkan dan memberangusnya.

PESAN MASYARAKAT BUAT MAHASISWA
            Disaat masyarakat tidak bisa berharap lagi kepada wakil-wakilnya yang ada di DPR, hanya mahasiswalah yang menjadi tumpuan dan harapan yang terakhir mereka dalam memperjuangkan aspirasi mereka terhadap tindakan kesewenang-wenangan para penguasa. Tetapi betapa sedihnya rakyat, ketika harapan mereka hanya bertepuk sebelah tangan. Kehadiran mahasiswa ditengah-tengah masyarakat untuk mendobrak benteng tirani kekuasaan tinggal isapan jempol. Mahasiswa banyak yang diam membisu tidak mau tahu dengan persoalan yang melanda negeri ini dan masyarakatnya. Seolah-olah itu bukan urusan mereka. Mahasiswa disibukkan dengan aktivitas kuliah, dan didoktrin oleh kampus mereka sendiri agar cepat menyelesaikan kuliah dan cepat kerja jangan banyak berorganisasi. Walaupun doktrin tersebut adalah sebuah pembodohan tetapi mahasiswa tetap latah menerimanya. Pertanyaannya adalah dimanakah nurani mahasiswa saat ini. Apakah kalian tetap bisu dalam kediktatoran rezim penguasa yang memperbudak masyarakat. Dimanakah idealisme kalian saat ini. Apakah idelisme tersebut sudah mati. Apakah kalian saat ini pro dengan penguasa dan menjadi penjilat kepada rezim yang durjana. Bangkitlah para mahasiswa. Tunjukan kekesatriaan anda dalam merubah dan mendobrak benteng tirani para penguasa. Lepaskan sekat-sekat egoisme/kultus budaya kampus yang memasung idelisme anda. Hancurkan belenggu yang membelenggu anda dengan doktrin-doktrin kampus yang mengkerangkeng intelektual anda. Teruslah bergerak, berjuang dan hancurkan benteng kekuasaan yang zolim. Kobarkanlah api revolusi untuk membakar semangat seluruh elemen bangsa agar bangkit melawan para boneka penguasa. Jalan revolusi ada ditangan anda. Jangan jadikan api revolusi menjadi padam. Bawalah api perjuangan revolusi sampai titik darah terakhir. Ketika kita berhenti dari perjuangan maka habislah sudah.

SALAM REVOLUSI

Posting Komentar