Oleh: Bunga Erlita Rosalia
Pemerhati Parenting, Pendidikan, Kesehatan, dan Anak Anak


Mediaoposisi.com-Beberapa hari terakhir, tersebar di dunia maya review  film Naura & Genk Juara yang dinilai mengandung unsur islamophobia. Film berdurasi 103 menit ini menceritakan tentang petualangan Naura, Okky, dan Bimo yang terpilih menjadi kompetisi sains di acara Kemah Kreatif di kawasan Situ Gunung Sukabumi. Pada alur film yang ditayangkan, naura & geng juara bertemu dengan kipli seorang ranger yang berusaha menggagalkan sindikat perdagangan hewan liar yang ber nama Trio Licik

Pemeran Trio Licik pada film tersebut di munculkan sebagai sosok yang berjenggot panjang dan kerap mengucapkan kalimat istigfar, takbir, dan tahmid. Hal ini jelas mengundang reaksi umat islam. Film ini pun di cap sebagai anti umat islam karena mengandung unsur islamophobia.


PEMERAN PENJAHAT

Dilansir dari Tribunnews (23/11), produser naura & geng juara mengklarifikasi bahwa sosok yang berjenggot di munculkan sebagai penjahat adalah sebagai hasil dari riset dengan metode Focus Group Discussion dengan sejumlah anak. Laki – laki berjenggot adalah gambaran tentang penjahat di mata anak anak.

Amalia Prabowo pun mengatakan jika kalimat takbir, tahmid dan istigfar berasal dari improvisasi sang artis, bukan arahan dari naskah produsen 

“Pada saat kami syuting kan natural ada improvisasi, Ada beberapa kata-kata yang spontan tidak dalam naskah,” Kata Amalia, dalam jumpa pers di kawasan Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu (22/11)

Orang Berjenggot yang di asosiasikan sebagai Penjahat


Tentu nya hal ini sangat disayangkan, karena ketika framing penjahat itu adalah sosok memiliki jenggot, umat islam akan sangat di sudutkan. Agama mana lagi yang mensunnahkan memelihara dan merapihkan jenggot selain islam? Dalam islam seseorang di anggap berbuat jahat pun tidak berdasarkan dari penampilan fisik, tapi berdasarkan tingkah laku nya yang terikat dengan syariat

Maka jika ada orang yang  berbuat keji seperti mencuri, membunuh maka akan tetap disebut penjahat sekalipun tidak memiliki jenggot. Karena tolak ukur perbuatan seorang muslim adalah syariat islam. Bukan penampilan fisiknya. Apalagi hanya framing dan stereotipe yang diberikan oleh anak anak

Kalimat kalimat refleks sebagai improvisasi pun harusnya dikaji dan dipertimbangkan lebih jauh oleh produsen film. Karena efeknya akan menjadi sangat fatal jika framing tersebut masuk kedalam subconcious anak anak. Atau memang itu yang diharapkan?


ANAK ANAK MENJADI INCARAN

Anak anak yang tergolong tamyiz rentan menjadi korban kampanye islamophobia. Karena di fase ini anak akan lebih gampang menerima arahan dan dikte dari lingkungannya. Fase tamyiz pun akan menjadi titik tolak sebagai fase pemilihan benar dan salah yang nantinya mempengaruhi pola fikir anak dalam menentukan keputusan bertindak dan berprilaku.



Anak yang sudah terpapar islamophobia akan menjadikan maklumat yang di indera mereka sebagai salah satu proses berfikir dikemudian hari. Mereka akan terbawa framing bahwa muslim yang sering mengucapkan kata Alhamdulillah, Astagfirullah, dan Allahu Akbar adalah muslim yang suka berbuat jahat, keji dan harus di perangi. Sama seperti pemeran Trio Licik di Film Naura & Geng Juara. Anak pun bisa meng indera bahwasannya dia tak perlu mengucapkan kalimat takbir, tahmid maupun istigfar karena yang biasa mengucapkan hal tersebut adalah orang jahat. Sehingga jika dirinya tak mau disebut orang jahat maka tidak perlu mengucapkan kalimat tersebut.

Hal ini jelas sangat mengkhawatirkan bagi orang tua muslim yang menginginkan anaknya menjadi shalih dan shalihah penerus estafet peradaban. Karena salah satu tarbiyyah untuk mendekatkan anak dengan islam dan Allah SWT adalah dengan mengenalkan mereka kepada kalimat kalimat yang memuji Allah, dan mengagumi kebesaranNya. Fatal akibatnya jika kalimat Alhamdulillah (Segala Puji Bagi Allah) di asosiasikan dengan sosok penjahat yang sering menyakiti dan membunuh hewan.

Sosok yang berjenggot sebagai stereotipe orang jahat pun akan membawa dampak negatif bagi anak, karena sebagian besar anak yang muslim akan memiliki lingkungan yang muslim juga. Dan kebanyakan laki-laki muslim memelihara jenggotnya. Fakta ini akan membuat anak merasa bahwa dirinya berada di lingkungan penjahat, tidak tau aturan, dan harus di lawan. Karena si anak sudah memiliki maklumat bahwa penjahat adalah laki laki yang berjenggot. Itu baru di lingkungan sekitar. Bagaimana jika di lingkungan keluarga ada yang memiliki jenggot?

Lalu bagaimana jadi nya ketika setelah menonton film tersebut sang anak melihat ayah nya yang berjenggot dan sering mengucapkan kalimat tabir dan tahmid ? Jelas ini adalah upaya islamophobia yang menyasar anak anak


PERAN ORANGTUA MUSLIM

Peran orangtua dalam memilih film atau hiburan bagi anak jelas sangat dibutuhkan. Sebagai penanggung jawab anak yang belum baligh, orangtua wajib memilihkan tayangan yang bermanfaat bagi anak. Tentunya dengan standar syariat islam. Tayangan yang tidak memiliki konten yang islami dan mendidik sudah seharusnya di abaikan dan tidak di sajikan di depan anak - anak. Sekalipun banyak yang mereview bahwa film tersebut memiliki konten edukasi yang baik. Lagi lagi, standar edukasi islam yang mana jika hanya karena refleks improvisasi berteriak Allahu Akbar! di asosiasikan dengan penjahat?

Orangtua muslim di era millenial kini harus extra hati hati, karena agenda penanaman framing buruk terhadap umat islam sudah mulai menyasar anak anak. Dengan dalih edukasi, hiburan, kegembiraan, dll bisa membuat anak kita masuk kedalam pusaran islamophobia. Kesan nya memang tak berbahaya, karena dengan alasan untuk konsumsi anak anak tidak berarti semua tontonan itu bisa kita sajikan.

“Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” H.R Muslim[MO]

Posting Komentar