Proyek Deradikalisasi Untuk Keselamatan Negeri? Saatnya Umat Islam Jeli!
Oleh : Siti Nur Aisyah
Mediaoposisi.com- Mengamati berita-berita yang tengah menjadi sorotan di berbagai media saat ini sontak menimbulkan banyak respon oleh para tokoh dan ahli. Masih sangat segar di ingatan berkaitan dengan isu radikalisme yang terus dihembuskan belakangan ini. Bermacam perspektif pun menjadi pembahasan di kalangan para akademisi baik yang pro maupun kontra. Sebagaimana kegiatan yang pernah digelar oleh para pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia bertempat di Nusa Dua, Bali pada tanggal 25-26 September 2017. Adapun pertemuan tersebut kemudian disepakati dengan diselenggarakannya aksi secara besar-besaran dan serempak di 34 provinsi se-Indonesia dengan tema “Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme” yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 2017. Aksi tersebut diprakarsai oleh para pemimpin perguruan tinggi se-Indonesia.
Pasalnya, motif diadakannya kegiatan tersebut tidak lain yakni sebagai upaya “penyadaran” mahasiswa yang lekat akan dunia kampus apalagi dengan adanya organisasi dakwah mahasiswa kini dianggap menjadi sorotan utama masuknya paham radikalisme di tengah-tengah masyarakat kampus. Mahasiswa yang berkecimpung di dunia dakwah lebih mudah untuk diamati pergerakannya ketika dalam setiap aktivitasnya selalu memegang prinsip pada syariat islam. Padahal begitulah seharusnya yang dinamakan sebuah organisasi dakwah dimana ia menjadi sebuah sarana positif untuk menyiarkan ajaran islam secara terang-terangan. Tindakan tersebutlah justru yang saat ini sedang diwaspadai sehingga menimbulkan reaksi oleh berbagai kalangan akademisi. Di sisi lain upaya tersebut harus diapresiasi dengan maksud yang baik demi kemaslahatan negeri, namun tidak dengan langkah yang menurut penulis anggap berlebihan. Penulis tergelitik dengan menyodorkan sebuah pertanyaan apakah menyebarkan ajaran islam dan mengajak masyarakat kampus untuk mengkaji islam yang menyeluruh dianggapnya radikal?. Bukankah kampus dan seisinya akan lebih aman dan nyaman ketika masyarakat di dalamnya menerapkan norma-norma agama?. Maka sebelum menafsirkan sendiri hingga melakukan langkah lebih lanjut yang dapat membahayakan umat islam, perlu untuk mengetahui dan memahami makna radikalisme seperti apa.
Jika dilihat berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menyebutkan makna radikal berarti secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); dan maju dalam berpikir atau bertindak. Sedangkan jika memaknai arti radikalisme menurut KBBI memuat tiga arti, yakni: 1. Paham atau aliran yang radikal dalam politik; 2. Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; dan 3. Sikap ekstrim dalam aliran politik. Perlu dicermati pada pembahasan ini mengenai dua kata yang terkesan mirip namun berbeda konteks penggunaan. Sesuatu yang disebut radikalisme ketika dituduhkan kepada umat islam pun islam tidak mengakui sebab hal tersebut merupakan sebuah paham yang notabene ke arah negatif dan tentu sangat tidak berlandaskan pada ajaran islam. Berbeda dengan ketika menyebut kata radikal yang bermakna berprinsip dan mendasar, umat islam justru harus menerapkan sikap sikap radikal sebagaimana pengertian di atas. Ketika dihubungkan bagaimana muslim saat ini berusaha menyuarakan ajaran islam secara mendasar baik dalam pikiran maupun tindakan kata tersebut tentu mengarah kepada hal yang positif. Dalam pikiran sebagian besar orang mungkin menganggap bahwa memegang prinsip syariat islam yang pada hakikatnya akan membuahkan hasil di luar kebiasaan orang pada umumnya merupakan sesuatu yang menyalahi kebiasaan atau tata aturan di negeri ini. Sebabnya walaupun nyatanya menimbulkan efek yang baik bagi kemaslahatan dan keberkahan negeri tetaplah dianggap tidak sesuai dengan sistem yang berlaku saat ini.
Begitulah sebuah proyek deradikalisasi saat ini. Sebuah strategi atau tindakan guna memutar sikap serta cara pandang yang dianggap keras menjadi lunak, toleransi, plural, moderat, dan liberal/ bebas. Masalahnya, proyek deradikalisasi yang tengah digaungkan memuat sikap dan tindakan yang tidak solutif. Bagaimana tidak?. Dimulai dari penyelenggaraan kuliah wawasan kebangsaan yang pada isinya mengarah untuk memusuhi dan menghindari segala bentuk ajaran islam secara kaffah, melanggengkan paham nasionalisme yang justru menghilangkan hakikat QS. Al Hujurat:10 yakni, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” sehingga dapat memunculkan makna yang ambigu sekaligus menekan umat islam yang masih awam untuk mau tidak mau memilih satu pilihan, bahwa jika memilih islam kaffah berarti tidak mencintai NKRI, dan sebaliknya.
Maka penulis berkesimpulan ketika hari ini sistem yang berlaku di negeri masih mengandung celah yang dapat menyerap segala kemungkinan terjadinya kerusakan dan dengan landasannya yang tentu bukan berasal dari islam, dapat dipastikan berbagai pencegahan dan pembungkaman ajaran islam serta para aktivisnya akan dapat dilakukan semena-mena walaupun umat islam yakin betul bahwa kemenangan kaum muslim tinggal menunggu masanya. Terpenting pula bagi kita untuk tetap bersuara sekencang apapun mulut kaum muslim dibungkam oleh para musuhnya. Wallahu `alam bishawab. [MO]

Siti Nur Aisyah, S.Tr.Sos

Posting Komentar