Jokowi



ADU DOMBA "MEMUAKKAN" ALA REZIM

Oleh : Nasrudin Joha


Mediaoposisi.com-   Sah ! Rezim-lah yang berada dibalik semua kegaduhan yang mendera umat ini. Setelah sebelumnya rezim memberi instruksi dibalik dinding, kini perintah itu tegas diedarkan secara terbuka, baik dengan bahasa meminta menindak tegas, atau dengan modus meminta rekomendasi ulama.

Setelah dalam satu musyawarah Nasional, Rezim meminta fatwa penanganan radikalisme, tidak berselang lama rezim meminta ormas menindak tegas segala bentuk radikalisme. Alih-alih menjadi pelindung, pengayom dan pembina ormas, Rezim justru mengambil peran sebagai tukang kompor, master adu domba, membenturkan elemen umat Islam.

Rezim ini memang nyata, represif dan anti Islam. Tetapi sekali lagi, untuk mengungkapkan kebenciannya yang mendarah daging, rezim masih tetap "melipir" menggunakan tangan-tangan elemen Islam. Rezim pengecut ini, tidak berani memukul langsung, mengutuk langsung, tapi selalu menggunakan tangan elemen Islam, lantas membenturkannya kepada antar sesama umat Islam.

Ketidakmampuan dan Kepengecutan rezim untuk mengumumkan perang terbuka kepada umat Islam, setidaknya menunjukan beberapa substansi penting yang harus disadari umat Islam.

Pertama, rezim mengakui elemen umat Islam adalah elemen penting dan sentral, sebagai basis penopang pilar kekuasaan. Tanpa dukungan umat Islam, pilar kekuasaan yang di sokong oleh legitimasi umat bisa jatuh -jika saja umat menarik diri- dari saham politik legitimasi kepada penguasa.

Delegitimasi umat, akan mampu meruntuhkan bangunan kepercayaan publik kepada rezim. Kekuasaan, Realitasnya tegak dan berdiri diatas pilar kepercayaan umat. Jika pilar itu digergaji, maka runtuhlah singgasana kekuasaan.

Kedua, rezim paham benar bahwa tindakan terbuka melawan umat Islam, secara langsung dan terbuka, tidak sedikitpun menyurutkan semangat umat, bahkan sebaliknya. Umat akan semakin kokoh, bersatu padu, bergandengan tangan untuk bahu membahu saling membatu melawan kedunguan dan kedzaliman rezim.

Keadaan ini, tentu akan mempercepat umur kekuasaan. Padahal, rezim di satu sisi masih ingin bermimpi untuk memperoleh legitimasi umat untuk melanjutkan kekuasaannya yang mulai limbung. Rezim khawatir, mimpi kekuasaan akan pupus seiring sengitnya perlawanan umat.

Ketiga, rezim memahami ada sebagian kecil elemen umat yang dungu dan mau diadu domba, dijadikan alat kekuasaan untuk membungkam semangat kebangkitan Umat. Menggunakan energi lawan, untuk memenangkan pertarungan, setidaknya jika tidak sampai pada kemenangan perang diyakini mampu menunda kekalahan.

Rezim mengambil pola ini sebenarnya bukan karena kecerdasan intelektualnya, tetapi semata menjalankan titah juragannya, yakni imperialisme global dibawah bendera kapitalisme Amerika dan sosialisme China. 

Rezim tidak mampu menjalankan kekuasaan, bahkan hingga sekedar menggerakkan jari telunjuk, kecuali setelah mendapat izin dan persetujuan Amerika dan/atau China. Kadangkala rezim mewakili China, kadangkala mewakili Amerika. Itulah sebab, kenapa kekayaan negeri ini dibagi sebagai harta jarahan China dan Amerika.

China dan Amerika paham betul, kebangkitan umat dengan syariat Islam akan menjadikan mereka bangsa terusir. Mereka akan kehilangan harta dan jarahan, yang selama ini diambil paksa dari umat melalui tangan-tangan rezim.


Radikalisme, Jualan Usang Rezim Jokowi 

Rezim ini tidak mungkin menjual nilai nilai keluhuran, amanah, dan dapat dipercaya untuk meraih simpati dan dukungan umat. Sebab, bagaimana mungkin mereka jualan kejujuran jika faktanya merekalah pengkhianat bangsa ? Bagaimana mungkin rezim jualan kepercayaan, jika faktanya mereka yang mengobral harta milik umat menjadi jarahan asing dan aseng ? 

Bagaimana mungkin rezim jualan anti korupsi, kesejahteraan rakyat, jika faktanya rezim itu sendiri biang korupsinya ? Bahkan ekonomi dibawah kendali rezim adalah yang terburuk sepanjang sejarah. Hutang-hutang yang diciptakan rezim sudah melebihi onggokan gunung Merapi.

Ya, hari ini rezim hanya mampu jualan radikslisme, terorisme, produk usang hasil daur ulang kejahatan penjajahan. Dahulu, umat Islam yang berjuang memerdekakan bangsa ini dituduh ekstrimis. Hari ini, umat Islam yang ingin bangkit dan memperbaiki keadaan -setelah rusak dan porak poranda- akibat kejahatan kapitalisme demokrasi, dianggap dan dituduh radikal, teroris.

Ajaran Islam yang Agung seperti dakwah, jihad hingga Khilafah,  dianggap ajaran radikal. Pengajian diawasi sementara OPM dibebaskan berkeliaran.

Wahai umat,
Wahai kaum muslimin,
Wahai pejuang Agana Allah !

Berhati-hatilah pada rezim Fir'aun abad ini. Mereka menginginkan Anda saling menghunus senjata, menumpahkan darah, setelah itu mereka tertawa bersorak sorai diatas bangkai penderitaan kalian.

Rezim ini tidak pernah menginginkan kebaikan bagi Anda, tidak pula untuk anak cucu keturunan Anda. Rezim ini telah membebankan Hutang kepada Anda, dan mewariskannya pada anak cucu Anda. Jika Anda diam, maka bersiaplah menghadapi dakwaan anak-cucu Anda kelak.

Rezim ini tidak pernah menghargai Islam, kecuali sekedar tameng, pamrih dan modus pencitraan. Yang Anda lihat haruslah apa yang dilakukan rezim, bukan apa yang dikatakan rezim.

Wahai umat,
Wahai kaum muslimin,
Wahai pejuang Agana Allah !

Lihatlah ! Ulama Anda hingga kini dikriminalisasi. Aktivis pejuang Anda hingga saat ini masih mendekam di penjara, dibawah peradilan kepura-puraan, dan menjalani vonis pesanan rezim.

Anda tidak boleh diam, Anda harus merapatkan barisan, Anda harus ambil sikap sempurna untuk mengarahkan pukulan telak pada rezim. Arahkan pada kepala rezim, tengkuk rezim, perut rezim, leher rezim, dan seluruh tubuh rezim sampai rezim ini benar-benar jatuh dan tersungkur.

Saya dan Anda akan melayat bersama; dipenguburan massal, menimbun rezim represif anti Islam ini di keranjang sampah peradaban.

Allahu Akabar ! [MO]

Posting Komentar