Oleh. Budi Santoso
Aktivis Forum Kajian Islam Mahasiswa UIKA Bogor

Mediaoposisi.com- Sederet isu dan perisitiwa mewarnai negeri ini. Salah satu yang ramai dan viral adalah mengenai kebangkitan PKI dengan ideologi Komunisme-Marxismenya. Sudah diketahui bersama bahwa PKI beserta ideologinya menjadi satu sejarah kelam jika mengingat di era 1965-an. Peristiwa pembantaian beserta irisan-irisannya menjadi tinta hitam dalam perjalanan Indonesia sampai dengan detik ini.

Kebingungan akan mana yang harus dibenarkan ketika melihat perjalanan partai-partai yang membawa ideologi yang berbeda kala itu, memang harus ditelusuri secara mendalam. Tidak bisa sejarah bangsa ini hanya diketahui dari satu sumber literatur saja. Karena kebenaran sejarah tidak bisa secara subjektif melainkan harus objektif.

Namun ketika seorang mahasiswa harus menempatkan dirinya sebagai seorang aktivis perubahan negeri ini, maka posisi yang tepat bukanlah berdebat mengenai sejarah yang bisa saja terdistorsi. Posisi mahasiswa haruslah bersandar pada idealisme yang dibenarkan saat ini dan diyakininya sebagai standar yang benar.

Mahasiswa muslim yang tidak lain beragama Islam, tentu haruslah berpikir cerdas dan mampu menempatkan posisinya bukan pada kondisi yang membuatnya sulit. Ketika berbicara sejarah PKI beserta isu kemunculannya saat ini, mahasiswa harus menempatkan dirinya sebagai barisan yang menolak kebangkitan tersebut. Kenapa? Karena dasar dari pemikiran Komunisme-Marxisme ialah Materialisme. Lebih jauh ialah Materialisme-Dialektis dan Materialisme-Historis. Kedua dasar pemikiran inilah yang menjadi pondasi dari bangunan yang diciptakan Karl Max dan Friedrich Engels. (Ghanim Abduh, 2003)

Kedua dasar pemikiran tersebut, mampu memecahkan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang menjadi diskursus lama pada setiap element akademisi yaitu apakah alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan, atau jutsru tidak ada peran Tuhan di dalamnya?

Lenin (Vladimir Ilich, 1870-1924), telah menulis konsepsi Materialisme menurut filsuf klasik, Heraclitus, yang menyatakan: “Alam adalah ujud tunggal, yang tidak pernah diciptakan oleh Tuhan atau manusia manapun. Ia telah ada, selalu dan akan ada sebagai api yang terus menyala selama-lamanya, yang telah menyala dan meredup mengikuti hukum tertentu.”

Tentu ini merupakan suatu kebatilan bagi seorang mahasiswa muslim yang dalam kajian teoritis keislaman, mengatakan bahwa Allah-lah yang menciptakan seluruh yang ada di langit dan di bumi (QS. Al-Ghasyiyah: 17-20, QS. Al-Baqarah: 164, QS. Ali ‘Imran: 190, dll).

Dari aspek kajian keekonomian, sudah menjadi rahasia umum bahwa kemunculan Komunisme-Marxisme merupakan sebuah penyempurna dari gerakan Sosialisme. Sosialisme merupakan suatu gerakan ekonomi masyarakat kelas bawah (proletar) untuk menentang kelas atas (borjuis) yang dengan alat produksinya (tanah, dll) mampu bertindak sewenang-wenang. Jika dulu Sosialisme hanya merupakan gerakan tanpa punya pandangan hidup, dengan adanya Komunisme-Marxisme gerakan ini menjadi sebuah ideologi. Maka wajar saat ini dunia mengenal ideologi Sosialisme-Komunisme-Marxisme.

Ekonomi sosialisme dalam diskursusnya tentu beragam dalam menjawab persoalan ekonomi buruh dan petani. Namun mereka sepakat bahwa persoalan utama dari ketidakadilan ekonomi ialah kepemilikan alat-alat produksi hanya ada pada segelintir orang. Ialah yang disebut sebagai tuan tanah, pemodal, dsb. Maka dengan adanya evolusi sosial –yakni evolusi gerakan kaum proletar terhadap penindasan kaum borjuis- kepemilikan alat-alat produksi bisa dihapuskan dan semua dikembalikan lagi kepada negara. (Dwi Condro Triono, 2014)

Disebabkan semua harus dikembalikan kepada negara, maka teori sosial atau masyarakat yang berlaku pada ideologi Sosialisme-Komunisme-Marxisme adalah bahwa masyarakat sebagai satu kesatuan yang menyeluruh, yang terdiri dari manusia dan interaksinya dengan alam. Hubungan ini bersifat mutlak dan pasti, serta mereka tunduk padanya dengan sendirinya secara mutlak. Kesatuan ini secara keseluruhan merupakan satu bagian yang tak terpisahkan, yang terdiri dari alam, manusia, dan interaksinya, yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. 

Manusia secara individu merupakan bagian dari alam. Faktor ini menonjol pada diri manusia. Manusia tidak akan dapat berkembang tanpa berhubungan dengan aspek ini. Hubungan dengan alam merupakan hubungan antar sesama zat. Masyarakat dianggap sebagai kesatuan yang berkembang secara serempak. Masing-masing berputar mengikuti yang lain sebagaimana berputarnya gigi dalam sebuah roda. Konsekuensinya mereka tidak mengenal istilah kebebasan beragama bagi masing-masing individu dan kebebasan ekonomi. Agama ditentukan berdasarkan kemauan negara, demikian halnya dengan ekonomi. Maka wajar dalam ideologi ini, negara merupakan satu hal yang sangat diagung-agungkan. (Taqiyuddin an-Nabhani, 2013)

Atas dasar penjabaran di atas, maka kesimpulan yang bisa diambil dari diskursus Komunisme adalah bahwa Ideologi Komunisme sangat berbahaya dan bertentangan dengan akidah seorang muslim. Bagi aktivis muslim tidak boleh terjebak dalam persoalan sejarah yang selalu menjadi polemik di setiap masanya.

Mahasiswa merupakan agent of change bangsa. Jangan sampai di tangah mahasiswa bangsa ini terarahkan pada tujuan yang jauh dari cita-cita pendiri bangsa. Walau tidak menafikkan adanya peran orang-orang Sosialis pada pra-kemerdekaan Indonesia (Jeanne S. Mintz, 2002) namun kesepakatan yang tercapai adalah bahwa Indonesia merupakan negara yang beragama bukan negara atheisme. Jadi posisi mahasiswa sebagai bagian dari individu yang beragama dan bernegara, sepatutnya bahkan seharusnya yaitu menjadi garda terdepan untuk menolak paham Sosialisme-Komunisme-Marxisme berkembang di negeri ini.[MO/kj]

 




 

Posting Komentar