Birokrasi Kampus Membungkam Suara Mahasiswa !


Oleh: Adam Lee
Kadidat Doktoral Universitas Negeri Malang

Mediaoposisi.com- Sungguh miris nasib mahasiswa saat ini. Mahasiswa sebagai calon intelektual di lembaga pendidikan, justru kebebasan untuk berekspresi dan menyampaikan pendapat dikebiri oleh lembaganya sendiri. 

Semenjak dikeluarkannya Perppu Ormas nomor 2 tahun 2017, banyak keanehan-keanehan muncul dinegara kita. Perpu ini bertujuan untuk membungkam kekritisan masyarakat terhadap sikap dan perilaku penguasa dalam mengatur dan mengelola sistem bernegara. 

Munculnya perpu tersebut bukan hanya menyasar ormas-ormas, tetapi juga membidik seluruh lapisan masyarakat tak terkecuali didalamnya adalah dari kalangan mahasiswa. 

Maka wajar saja mahasiswa menyuarakan pencabutan Perppu ini karena sarat dengan kesewenang-wenangan. Konten dari Perppu tersebut adalah menjegal ormas-ormas yang selama ini kritis terhadap pemerintah beserta kebijakan-kebijakannya yang tidak memihak kepada masyarakat. 

Namun kenyataan pahit yang dirasakan justru mahasiswa yang kritis yang mengkritisi perpu tersebut juga menjadi korban dari kelatahan penguasa dengan meminjam tangan para birokrasi kampus untuk menjegal mahasiswa.


Birokrasi Kampus Jadi Kepanjangan Tangan Kasar Penguasa

Tindakan penguasa untuk meredam gejolak mahasiswa justru difasilitasi oleh para birokrasi kampus. Para dedengkot penguasa tersebut menjadi penjaga, pelindung dan pembatas antara mahsiswa dan penguasa. 

Suara kritis mahasiswa menjadi pepesan kosong yang tidak memiliki nilai dan kekuatan magic untuk mendokrak kekuasaaan penguasa. Lembaga kampus sebagai lembaga yang netral justru dijadikan alat politik penguasa melalui para birokrasi kampus untuk menakut-nakuti mahasiswa melalui tekanan politik kampus. 

aksi mahasiswa UGM
Birokrasi kampus justru menjadi alat dan senjata penguasa untuk mengurung dan membentengi mahasiswa agar tidak keluar dari sekat akademik. Hal ini menyiratkan bahwa mahasiswa tidak boleh kritis dan bersuara lantang dalam mendobrak benteng tirani kekuasaan. 

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh birokrasi kampus justru diluar kewajaran. Mahasiswa yang kritis yang menyuarakan perubahan justru dianggap sebagai ancaman. Alih-alih birokrasi kampus mendukung mahasiswanya, justru para mahasiswa diancam akan diberikan sanksi dan dikeluarkan dari civitas akademiknya karena ikut menyuaran perubahan dalam aksi-aksi solidaritas sesama elemen negeri ini.

Tindakan tersebut sebenarnya telah menciderai amanat konstitusi yang memberikan ruang kepada setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi mereka di depan umum.

Kampus seharusnya menjadi transformasi ilmu pengetahuan dan ideologi, justru saat ini menjadi lembaga penghakiman yang dilakukan oleh birokrasi kampus terhadap mahasiswanya.

Mahasiswa dilarang kritis dan berorganisasi. Lembaga kampus menjadi lembaga tirani yang dipimpin oleh manusia-manusia yang berprilaku oportunis dan hipokrit. 

Seolah-olah jika mahasiswa kritis dalam menyuarakan perubahan dianggap melanggar regulasi kampus. Kampus justru menjadi kuburan massal bagi para mahasiswa. Kampus menjadi sepi, hening dari suara-suara kritis yang meneriakkan revolusi dan perubahan. 

Mahasiswa menjadi banci intelektual dan dipaksa untuk mengikuti aktivitas kuliah tanpa makna, sehingga kekritisan mahasiswa menjadi rapuh. Dampaknya adalah justru mahasiswa menjadi oportunis, hedonis dan permisif.

Kondisi saat ini, mahasiswa diibaratkan buih dilautan, jumlah mereka banyak tetapi tidak memiliki daya dan kekuatan. 

Kekuatan politik dan daya kritis mereka sudah tidak diperhitungkan lagi. Marwah daya dorong intelektualnya justru dimanfaatkan oleh para politikus untuk menjadi penyambung lidah mereka dalam mempertahankan hegemoni mereka.

Salah satu contoh misalnya, ketika kenaikan tarif daya listrik, kenaikan dan pencabutan subsidi BBM dan lain sebagainya, mahasiswa justru diam dan bungkam seribu bahasa tak bersuara. Walaupun dampak dari kebijakan tersebut mencekik rakyat, tetapi nurani mahasiswa tidak merakyat lagi. Ibaratnya mereka adalah para intelektual bisu yang membisu dan siap mengubur kekritisannya.

Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang terjadi dengan birokrasi kampus saat ini. Mereka menjadi garda terdepan untuk menekan mahasiswa dan memprovokasi dengan menyampaikan suara-suara sumbang guna menakut-nakuti mahasiswa. Melakukan persekusi terhadap mahasiswa, sebagai contoh rektor UHO Kendari yang melarang mahasiswanya ikut aksi 299 Tolak Perppu Ormas dan Tolak Kebangkitan PKI, oleh rektor mereka sendiri dan diancam dengan peringatan keras.


Mahasiswa UHO yang di ancam Rektor
Baca Juga: Birokrasi Kampus UHO : Jangan Jadi Kepanjangan Tangan Kasar Penguasa!

Ataukah mereka sedang mempertontonkan diri mereka sebagai penjilat kepada penguasa dan takut jika dikatan anti pancasila, anti toleransi, ataupun anti kebhinekaaan dan keragaman. Atau jamgan-jangan birokrasi kampus sedang mempertontonkan radikalisasi mereka untuk membungkam suara kritis mahasiswa kepada penguasa yang dari hari ke hari justru selalu membuat kegaduhan politik dan permainan politik kotor ala rezim otoritarianisme.

Bisa jadi kekritisan mahasiswa akan menjadikan kursi kekuasaan mereka dimata pemerintah dianggap sebagai pembangkangan sehingga mereka mencari-cari muka dengan mengeluarkan statement yang kekanak-kanakan yang tidak memiliki dasar sedikitpun. Mahasiswa dicekal, ditakut-takuti dengan power dan kekuasaan mereka. 

Mahasiswa disuruh bungkam dan diam sembari dipertontonkan dengan perilaku penguasa yang berpesta pora dengan berbagai macam ketidak adilan.

Jika kita menelaah sepak terjang mahasiswa dalam kancah sejarah, mahasiswa merupakan perisai dalam menentang berbagai macam ketidak adilan dan tindakan kesewenang-wenangan penguasa. Masyarakat selalu berada dibelakang dan bersama-sama dengan mahasiswa melawan para tirani kekuasaan. 

Tetapi saat ini justru sebaliknya. Masyarakat justru jalan sendiri dalam menentang kezoliman. Mahasiswa justru diam dan menikmati acara-acara entertainment yang ditayangkan media. Yang menjadi pertanyaan, masih adakah nurani para mahasiswa untuk turun kejalan meneriakan ganyang kezoliman. 

Masyarakat selalu berharap anda semua memimpin mereka. Terkadang dalam hati mereka menjerit dan berteriak “Wahai mahasiswa bangkitlah dalam merubah peradaban. Anda adalah para intelektual harapan rakyat. 

Jangan biarkan rakyat berjuang sendiri. Suara anda adalah suara perlawanan. Kalian adalah singa kampus yang siap menghadapi dan melakukan perubahan. Suarakan revolusi dan perubahan. Anda bukanlah pecundang yang dipencundangi birokrasi dan penguasa. 

Mahasiswa Tetaplah Berjuang Jadi Martir Perubahan

Jadilah garda terdepan dalam perubahan. Jadilah leader yang akan memimpin segala perubahan seperti yang terjadi pada masa orde lama dan orde baru. 

Dengan suara lantang anda, kediktatoran yang dipertahankan oleh penguasa akhirnya tumbang ditangan anda. Masihkah anda punya semangat dan daya juang untuk mengulangi masa-masa kejayaan mahasiswa dalam menumbangkan rezim-rezim tirani dan diktator?”.

Ketika Mahasiswa bersuara, akan membuka tabir ketakutan penguasa dan berupaya melakukan apa saja untuk menjaga status quo dan tahta kekuasaannya, yang menjadikan mereka nyaman dan mengorbankan rakyat. 

Mereka bersuka cita dibawah penderitaan rakyat tanpa memperdulikan apa yang menjadi keinginan masyarakat. Satu kata yang harus disuarakan mahasiswa “ enyahlah para penguasa tiran dan diktator. Go to hell with your tyranny and dictator”.[MO/bp]

 Salam Mahasiswa. 


Posting Komentar