Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- Persatuan dan kesatuan umat Islam yang muncul ketika aksi 299 mendapat statemen pedas,penolakan dan upaya menghambat aksi damai dan penuh bendera Rasullulah tersebut. Nyinyirnya mereka juga dilakukan yang dianggap sebagai ahli agama,ulama dan tokoh yang layak dihormati. Siapa mereka,simak penelusuran Mediaoposisi.com berikut.




Djarot Syaifullah

Sosok yang merupakan wakil gubernur Jakarta ketika Ahok berkuasa di DKI Jakarta ini berkomentar cukup memekakkan telinga ketika menanggapi aksi 299.  Ia menuduh peserta aksi adalah orang yang kurang kerjaan tanpa melakukan pengkajian alasan di balik aksi 299.

Dikutip dari okezone,com ,"Dikit-dikit demo, Memangnya kerjaan mereka apaan sih? Apa iya kerjaannya cuma demo?" ujar Djarot saat memberikan sambutan dalam peresmian Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Jakpro Asri, di Penjaringan, Jakarta Utara, Kamis 28 September 2017.

Komentar Djarot terhadap aksi bukan kali ini saja,wakil gubernur dari sang penista agama ini berkali kali mengomentari kegiatan serupa dengan nada miring.

Menurut Djarot, seharusnya aksi tidak perlu dilakukan hingga turun ke jalanan.
"Kalau aksi damai, enggak usah turun ke jalan. Lebih baik berdoa di masjid, mushala masing-masing. Berdoa supaya Indonesia damai," ujar Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (9/6/2017)
Ia turut menambahkan Kalau sampai demo turun ke jalan itu mengganggu lalu lintas, warga lain, padahal kita harus saling harga menghargai\.

Dikutip dari detik.com, Djarot pun sebelumnya turut komentar ketika menanggapi aksi 313. Ia mengecam simpati dari umat Islam dari luar daerah yang hadir dalam kegiatan tersebut.

"Ini nuansanya sudah sangat politis, nggak usah repot-repotlah, sebaiknya itu kan sebagian besar kalau kami dapat informasi itu kan dari luar Jakarta, serahkan saja pada warga Jakarta tanggal 19 April seperti apa," kata Djarot usai bertemu warga di Rusun Benhil, Jakarta Pusat, Jumat (31/3)

Komentar lebih pedas pun dilontarkan oleh Djarot saat aksi 212. Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan lebih baik membantu warga korban banjir ketimbang melakukan aksi 212 di depan DPR.

"Daripada begitu kita ketuk hatinya mereka untuk membantu warga. Masak mereka kalah kesadarannya sama warga Cipinang Muara," kata Djarot saat mengunjungi lokasi banjir di Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (21/2/17).

Mantan Wali Kota Blitar ini menganggap kegiatan persatuan umat Islam karena marah terhadap Ahok tersebut tak lebih penting dari masalah banjir.
"Persoalan warga ini lebih penting. Jadi saya enggak ngurusin itu (aksi demo 212), biarin saja," ujar Djarot.

Djarot sendiri merupakan sosok yang cukup dihormati oleh segelintir kalangan, khususnya PBNU Said Agil Siradj. Dikutp dari merdeka.com pada Sabtu (8/4) Djarot pernah memuji setingi langit ormas kegamaan tersebut dengan.“Islam yang sejuk Islam yang betul-betul menyatu akan budaya masyarakat,




Said Agil Siradj

"Madzhab Maliki dan Syafi'i menganggap shalat di jalan tidak sah," ujarnya, saat memberikan pidato sambutan di Kongres Muslimat NU di Asrama Haji, Jakarta Timur, Kamis (24/11)

Sosok kontroversial yang sebelum aksi 212  pernah menyebut haram shalat jum’at di jalan raya ini tak lupa mengeluarkan statemen kontroversial kepada peserta aksi 299. Tak tanggung tanggung, sosok ketua umum ormas terbesar di Indonesia mengeluarkan statemen yang lagi lagi kontroversial

Ia menuding aksi 299 tidak ada gunanya. Dikutip dari jitunews, apa yang ingin dituntut massa dalam aksi tersebut, seperti Perppu Ormas dan keberadaan PKI pada dasarnya sudah tidak perlu dipersoalkan lagi.
"Sebenarnya itu (demonstrasi) sudah tidak perlu lagi," ujarnya.
Tak puas dengan itu, sosok yang mendukung penuh penerbitan Perppu Ormas yang dinilai represif oleh banyak pihak kembali mengeluarkan tudingan yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Biarin saja orang aksi, mumpung ada yang membiayai," ujar Said Aqil usai membuka sarasehan lintas agama di kantor pusat PBNU di Jakarta, Rabu 27 September 2017.

Anehnya,ia tidak bisa memberikan data valid dan obyektif untuk mendukung tudingannya.

Said Agil sebelumnya turut melarang massa PBNU untuk hadir dalam aksi 212 & 313. Dikutip dari kumparan.com ,sosok yang disebut ulama ini melarang keras anggotanya untuk menghadiri demonstrasi yang ia pandang bermuatan politis.
“PBNU telah melarang warga untuk ikut dalam aksi-aksi serupa, sebelum aksi 313. "Dari dulu sudah dilarang," katanya usai acara pelantikan Pengurus Muslimat NU di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Selasa (28/3)”

Namun,pihaknya pula yang menginstruksikan demo besar besaran kebijakan pemerintah berupa Full Day School karena PBNU menganggap FDS mengancam eksistensi badan usaha mereka,pondok pesantren. [MO]



Posting Komentar