Jokowi dan Prabowo


Jokowi Takut Pada Prabowo

Oleh:Don Zakiyamani
Kontributor Media Oposisi


Mediaoposisi.com- Pilkada DKI Jakarta memang bukan barometer pilpres namun siapapun yang menang di DKI akan berpeluang menang di pilpres. Fakta itu yang membuat Jokowi ketakutan pada Prabowo, selain itu ada fakta incumbent yang ikut pilpres akan kalah (2004). Dua fakta ini yang kemudian membuat Jokowi menggunakan Gatot untuk mengambi suara Prabowo.

Berdasarkan hasil survei, elektabilitas Jokowi dibawah 40 persen walaupun paling tinggi namun untuk yang sedang menjabat angka tersebut kecil sekali. Hal itulah yang menyebabkan Jokowi "jual diri", mulai mencoba berpasangan dengan Gatot, Setya Novanto, hingga wacana kembali dengan JK.

Wacana-wacana tersebut merupakan bukti Jokowi sangat panik. Baginya lawan paling menakutkan tetap Prabowo, hanya Prabowo yang mungkin mengalahkannya. Rendahnya elektabilitas memang mengharuskan Jokowi menghalalkan segala cara. Jokowi mulai mendekati ormas Islam dan pesantren-pesantren.

Jokowi sadar bahwa elektabilitasnya yang rendah akibat ulahnya sendiri. Hal itu terkait dengan kinerjanya selama ini, mulai dari rendahnya daya beli hingga proyek kreta cepat Bandung-Jakarta yang diambang merugikan negara. Begitu pula dengan proyek pembangkit listrik dan kebohongan divestasi saham freeport.

Selain itu, Jokowi pernah dipermalukan tim ekonominya terkait peringkat ekonomi Indonesia di dunia. Belum lagi gesekan Jokowi dan umat Islam pasca penistaan Islam oleh sahabat karibnya (Ahok). Semua hal itu ikut menggerus elektabilitasnya, selain itu Jokowi juga dinilai ingkar janji.

Janji yang diingkari Jokowi misalnya terkait akuisisi Indosat, hingga kini janji kampanyenya itu tidak terlaksana. Bisa jadi jelang pilpres akan ada usaha akuisisi Indosat, masyarakat kita mudah tertipu seperti kasus divestasi saham freeport. Seolah-olah sudah diambil alih padahal belum hingga kini.

Jokowi panik dengan isu-isu diatas, baginya bila isu diatas dimunculkan maka selesai sudah karir politiknya. Bagi Jokowi yang dapat mengalahkan dia hanya satu orang yaitu Prabowo. Itulah mengapa setiap orang yang mengkritisi kebijakan Jokowi akan dituduh sebagai pendukung Prabowo.

Jokowi mengunjungi Prabowo 

Saat ini Jokowi sedang menyorot sosial media. Ia sadar sahabat karibnya (Ahok) dikalahkan oleh sosial media, sementara media besar yang dijadikan andalan sudah ketahuan bohongnya. Kasus Dwi Hartanto juga ikut mencoreng kredibelitas media-media yang selama ini dukung Jokowi. Mereka ditipu Dwi dan menyebarkan tipuan itu ke publik tanpa proses investigasi yang ketat.

Bila dengan Dwi saja mereka ikut menyebar kebohongan, apalagi dengan politisi. Track-record media-media pendukung sudah bobrok, sosial media akan mampu menghancurkan Jokowi. Setidaknya demikian yang terjadi dalam pilkada DKI Jakarta, Ahok mengandalkan media-media nasional namun Anies memiliki pasukan sosmed.

Lalu strategi apa yang sedang dan akan dilakukan Jokowi? Setelah mempersoalkan sosial media, Jokowi sedang menyebarkan wacana agar Prabowo jangan maju pada pilpres 2019. Langkah awalnya dimulai dengan penetapan PT 20 persen yang memungkinkan calon tunggal. Strategi ini bisa saja terjadi dengan kekuatan Jokowi saat ini. 

Namun didalam politik semua bisa berubah sehingga Jokowi masih panik, ia percaya Prabowo masih mungkin mencalonkan diri. Dampaknya Jokowi masih sangat takut pada sosok Prabowo, sosok yang membesarkan Jokowi. Kini wacana agar Prabowo mundur dan menjadi guru bangsa saja.



Wacana agar Prabowo menjadi guru bangsa terus dikumandangkan. Arus kuat ini dimulai dengan survei rakyat Indonesia butuh pemimpin baru, bukan Jokowi bukan pula Prabowo. Arus ini kemudian berubah agar Prabowo menyerahkan tampuk kekuasaan pada yang lain. Secara politik bila Prabowo mengikuti pujian palsu tersebut, Jokowi akan menang mudah.

Arus agar Prabowo mundur dan menjadi guru bangsa akan terus menguat bila para pendukung Prabowo terpana dengan Jenderal Gatot, terlena dengan pujian guru bangsa untuk Prabowo. Bila sudah saatnya barulah semua sadar bahwa sebutan guru bangsa adalah taktik mengalahkan Prabowo karena Jokowi sedang ketakutan pada Prabowo.

Begitulah kira kira arus politik dalam demokrasi, penuh trick, culas serta suka menjadi pembohong, apakah selamanya kita akan berharap. semoga saja cahaya perubahan segera nampak menerangi gelap gulita dan perubahan hakiki akan terjadi cepat atau lambat sistem akan berganti.[MO]

Posting Komentar