Gerakan Mahasiswa


Oleh: Maulya Septi Sari

Koordinator Back To Muslim Identity DIY

Mediaoposisi.com-Gerakan mahasiswa sebagai salah satu pilar kontrol penyelenggaraan pemerintahan saat ini dihadapkan pada sikap anti kritik rezim demokrasi tiran. Rezim ini menutup mata dan telinga atas segala ketidakadilan yang mereka lakukan, anti nasihat karena tersandera dengan kepentingan . 

Tuntutan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI 20 Oktober lalu dalam tajuk tugu rakyat: Evaluasi 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK bahkan berujung pada penetapan tersangka pada beberapa aktivis mahasiswa. Berbagai kegaduhan yang terjadi disulut oleh rezim inkompeten yang menjadikan sekulerime-demokrasi sebagai asasnya. 

Anehnya, perjuangan ikhlas dari para intelektual muda di kampus yang membawa Islam sebagai solusi sistemik negara yang hampir bangkrut dengan utang luar negerinya ini justru dituduh sedemikian rupa seolah menjadi ancaman nyata dengan dibalik ide dan sejumlah program deradikalisasi yg massif di sejumlah tempat, seperti kuliah umum anti radikalisme dsb. Ibarat "maling teriak maling".

Menurut Guru Besar ITS Prof. Ir. Daniel Mohammad Rosyid Ph.D kebangkitan radikalisme adalah gejala yang bersifat global. Di Indonesia radikalisme hampir selalu dikaitkan langsung dengan Islam walau ini tidak dinyatakan secara terus terang. 

Cara ini justru berbahaya. Kesalahan terbesar media utama bukan pada penyebaran hoax tapi pada penyembunyian fakta. Kesalahan media tidak hanya pencampuradukan kebenaran dengan kebathilan, tapi juga penyembunyian kebenaran. 



Radikalisme terjadi di mana-mana, termasuk di negara-negara mayoritas katolik, kristen atau budha dan hindu. Ini juga sekaligus sering dikaitkan dengan rasisme. Di AS ras kulit putih Kristen menganggap kelompoknya yang palingpatriotik. 

Penyebab kemunculan paham radikal itu hanya satu yaitu ketidakadilan dan ketimpangan. Jadi sikap radikal itu bukan sebab, tapi akibat dari ketidakadilan dan ketimpangan yang dibiarkan terus terjadi oleh para penguasa yang seharusnya justru menegakkan keadilan.

Disinilah pangkal dari segala kegaduhan yang terjadi. diterapkanya Kapitalisme-Sekulerisme yang memihak pada segelintir rakyat, para pemodal. Saat dimana kemajuan riset dan teknologi melimpah, namun tidak banyak membantu kemudahan akses pangan publik. 

Laporan dari Global Hunger Index (GHI) tahun 2017 : The Inequalities of  Hunger, menunjukkan skor indeks kelaparan Indonesia sebesar 22 dan berada pada skala serius. lebih jauh lagi GHI memberi laporan pada tahun 2008 indeks kepelikan kalaparan Indonesia menunjukkan angka 28,3. demikian selam kurun waktu 2008-2016, Indonesia masih tetap beradadi level serius.  

Harga pangan tetap melambung, di tengah potensi sumber daya alam pertanian yang masih bisa dikatakan berlimpah. Kehidupan para petani dan nelayan pun semakin susah.



Dari hasil survei lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 % kekayaan Nasional yang menjadikan Indonesia peringkat 4 negara dengan ketimpangan ekonomi ekonomi. kesenjangan ini membuat beban hidup semaki berat. 

Demikian pula tempat tinggal dan pemukiman layak huni, kian jauh dari jangkauan kantong rakyat umumnya.  Akses terhadap air bersih, listrik, gas, BBM juga tidak mudah. Harus dibayar mahal meski potensinya berlimpah bahkan telah didukung oleh riset serta teknologi yang saat ini semakin maju.  

Hal serupa pada kesehatan, jutaan jiwa kesulitan memperoleh jasa dokter, peralatan medis dan obat-obatan, di saat riset kesehatan dan farmasi maju pesat.  Demikian pula riset dan teknologi transportasi yang canggih tidak banyak manfaatnya bagi kemudahan setiap orang memenuhi hajat transportasi publik yang murah, aman dan nyaman. 

Sistem pendidikan yang berkiblat ke Barat juga membebani masyarakat dan menyingkirkan hak kaum papa. Out put-nya adalah pekerja terdidik yang dicetak untuk memenuhi kepentingan industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi, yang lumpuh kesadaran politiknya serta hidup dalam bayang-bayang kemunduran moral dan spiritual.

Cukup Mudah Membuktikan Pupusnya Kedaulatan Negeri Ini. 

Hampir  semua kebutuhan masyarakat dipenuhi melalui impor. dalam bidang pangan misalnya, kepentingan koorporasi pangan-pertanian diutamakan dengan perangkat perjanjian perdagangan beba sbaik di tingkat multilateral seperti World Trade Organisation (WTO), berbagai Free Trade Agrement (FTA) ditingkat regional seperti ASEAN FTA, ASEAN CHINAFTA, FTA antara ASEAN dengan 6 negara (Australia, NewZeland, Jepang, Korea da India) dan yang sdang berproses adalah Regional comprehensive Economic Partnership (RCEP), Indonesia Europe Union-Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) serta beberapa FTA bilateral Indonesia dengan negara tertentu seperti Jepang, chile, Tuniasia dan Turki. 



Pembangunan sangat tergantung pada modal dan kemauan asing, termasuk dalam hal riset dan kemajuan teknologi. Akhirnya yang tersisa hanyalah kehinaan, kegetiran hidup dan nestapa. Jutaan orang terancam dehumanisasi, kemiskinan sistemik, dan berhadapan dengan situasi rentan ditimpa berbagai bencana ekologi yang mematikan.

Maka Perlu Kita Ingat :

“Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar” (TQS Ar-ruum :41)

Fenomena ini bisa dirasakan degan cepat dikalangan intelektual muda, termasuk mahasiswa, apalagi dalam era digital dimana kampus menjadi market place of ideas untuk membangun berpikir kritis.

Samuel P Huntington dalam buku Clash of Civilization, terus berlangsung benturan antara Islam dan Kapitalisme dimana bangkitnya Islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam akan menjadi lonceng kematian bagi peradaban barat yang penuh dengan keculasan dan ketidakadilan. 

Sistem politik Islam yang didasarkan pada wahyu tidak akan tersandera oleh kepentingan golongan. Ketegasan penguasa atas amanahnya hanya tunduk pada Allah dan Rasulnya. Hal itu ditopang oleh ketaqwaan warga negaranya yang tunduk pada pengaturan syariat Allah.

“…..pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nimatku, dan telah kuridhai islam itu jadi agama bagi mu” (TQS Al-Maidah:2)

Jelaslah, kepada siapa seharusnya ancaman itu dialamatkan, Sekulerisme-Kapitalisme. Paham radikal yang sengaja mensetting neoimperialisme dan penyebab kegaduhan berkepanjangan negara ini. Inilah semestinya yang menjadi jalur perlawanan pergerakan mahasiswa.

“ Dan barang siapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi” (TQS Ali Imran: 85)

[MO/bp]

Posting Komentar