Ilustrasi


“Sribaginda, itu bukan pemberontakan, itu Revolusi!!” –Hertog de la Rochefoucauld Liancourt-

Mediaoposisi.com- Orde baru yang mencekam sudah dua dekade menghilang. Apalagi Belanda dan budak-budak Imperialis lain, sudah sejak lama pulang kampung. Tapi bekas-bekas Orba dan sistem imperialis penjajah masih terlihat dan terasa dalam denyut nadi. Utang dan efek tirani Orde Baru masih terasa. Imperialisme, penjajahan gaya baru masih mencengkeram dengan kuat pada bahu Negeri ini. Indonesia sebut saja.

Aku sayang pada Negeri ini. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Terima tidak terima. Tapi tidak pada bangsanya, manusia yang berada di dalamnya. Kalian tidak bisa memaksaku untuk menerima manusia-manusia yang buruk untuk Aku terima begitu saja. Membiarkan mereka dalam keburukannya. Mereka bukan batu, bukan air, bukan tanah, bukan api yang mati. Tak punya rasa, tak punya akal. Mereka bukan itu.

Ya, mereka manusia, mereka mempunyai akal dan perasaan yang bisa berpikir dan merasakan.

Kemunafikan. Keserakahan. Kecurangan. Kebohongan. Senyum-senyum palsu. Pemerintah yang berlaku seperti binatang buas, memburu dan memangsa rakyatnya sendiri. Dan rakyat yang terlalu dungu, hanya diam terhadap mereka. Inilah sandiwara Penindas dan tertindas.

Rakyatku benar-benar belum merdeka. Demi Tuhan mereka masih terjajah dan terhina hampir di setiap penjuru dunia.

Peta Indonesia

Imperialisme, penjajahan gaya baru sedang menghajar rakyatku hingga babak belur. Jangankan untuk hidup tercukupi. Hanya untuk bernafas segar saja mereka tak bisa.

Penghisapan kekayaan tengah dilakukan oleh sebagian kecil kaum serakah; para korporat, pejabat, teknokrat, para kapitalis global bejat. Sekian banyak penghisapan dilakukan oleh neo-kolonialisme ini. 

Dengan beberapa karakter yang meliputi: 

1.Penetrasi ekonomi oleh capital ekonomi barat melalui perusahaan-perusahaan multinasional ke negeri-negeri yang baru merdeka.
2.Bantuan ekonomi bersyarat dan praktek suap agar sesuai dengan kepentingan negara donor.
3.Pendirian pangkalan militer oleh kekuatan barat.
4.Berlanjutnya sistem birokrasi, struktur sosial dan sistem sosial politik yang ada sebelum kemerdekaan yang bersekutu dengan kekuatan imperialis untuk melawan semua kekuatan rakyat, baik kanan maupun kiri. 

Sejak proklamasi pada 17 Agustus 1945, sesungguhnya negeri ini belum lagi benar-benar merdeka. Revolusi yang terjadi belum lagi usai. Penjajahan fisik memang tak ada lagi, tapi sisa-sisa kepentingan asing masih menindih bangsa, dan parahnya itu dibantu dengan senang hati oleh pribumi negeri ini sendiri. Menjadi kebenaran apa yang dikatakan oleh Soekarno, puluhan tahun silam. “Kami berjuang melawan penjajah kompeni, tapi nanti kalian akan berjuang melawan bangsa kalian sendiri”.

Dan itu benar-benar telah terjadi bahkan hingga sekarang. Pemerintahan yang menjadi pelacur bagi asing. Memenuhi hasrat para capital untuk menghisap kekayaan rakyatnya.

Lihatlah kini, bagaimana bapak presiden kita yang manut sistem Neo-liberalisme, melempar Harga BBM seperti Roller Coaster, menjadikan rakyat seperti lembu yang dicocok lubang hidungnya. Harga-harga tak tentu arah, naik dan turun sesuka hatinya. Yang senang siapa? tentu perusahaan multinasional asing yang bergerak di bidang bahan bakar minyak. Mereka bisa bersaing dengan pertamina, dan tinggal tunggu saatnya ketika tikar mereka makin banyak di negeri ini.

Kebijakan Dzalim

Kebijakan-kebijakan yang menyenangkan pemodal asing ini, pencabutan PSO (Public Service Obligation) atau subsidi hampir di setiap komoditi. Gas, minyak, listrik. Akhirnya, rakyatlah yang tercekik. Gencarnya, pencabutan subsidi ini sejatinya telah direncanakan sejak lama sebagaimana yang didesakkan oleh lembaga-lembaga donor seperti Bank Dunia, IMF, USAID dan ADB. Pemerintahan komprador seperti sekarang hanya tinggal mencari alasan agar kebijakan tersebut seolah logis dan diterima oleh rakyat.

Benar-benar tak merdekalah bangsaku. Revolusi memang belum usai, kawan!! Kita masih tertindas.

Kaum tengah, para munafik, malah mencari aman dengan tetap menjilat pada kaum serakah ini, menjilati pejabat, bersembunyi di balik ketiak pemilik modal, agar tetap memberi mereka makan yang cukup. Dan kaum tertindas, memasang muka prihatin, ingin protes tak bisa, menjilat juga sudah tak mampu. Akhirnya hanya pasrah yang mereka bisa, kerendahan hati palsu yang ditampakkan. Seolah rela atas semua penghisapan, merasa diri rendah hati, dan ikhlas atas semua keserakahan yang dilakukan oleh kaum kaya raya, pejabat korup dan pemerintahan gila yang menyengsarakan. Padahal dalam hati mereka hanya ada keikhlasan palsu. Tak ada yang namanya ikhlas atas keserakahan. Tak ada kerelaan atas kezaliman. Tak ada kerendahan hati itu. Itu semua palsu.

Mereka hanya terlalu bodoh untuk berpikir bahwa kesejahteraan yang adil itu nyata dan dapat terwujud. Mereka hanya malas untuk sekadar berpikir bahwa kemuliaan dan hidup tercukupi itu adalah keniscayaan. Mereka kaum tertindas itu hanya terlampau takut untuk berteriak, meminta keadilan. Mereka adalah pengecut yang bersembunyi di balik rasa rendah hati palsu mereka. Mereka ciut, bahkan hanya untuk berbisik, “Merdeka.”

Para penghisap, kapitalis, kaum yang menindas tak akan pernah mampu membuat kemerdekaan sejati. Mereka Tak akan rela untuk memberi kekayaannya dengan sia-sia, mereka tak akan rela melepas kekuasaannya. Jika ada di antara mereka berbicara di tengah-tengah keramaian tentang kemerdekaan. Teriaki saja, “Dasar kau hipokrit!!! Mati saja!”

Mereka para penjajah baru, pemerintahan boneka, penghisap serakah. Kata-kata mereka tentang arti sebuah kemerdekaan hanyalah topeng untuk melanggengkan penindasan, penghisapan, dan cengkraman.

Apa yang mereka anggap sebagai kemerdekaan tak lebih dari kemerdekaan diri mereka sendiri. Bukan kemerdekaan kita, kemerdekaan umum, bukan kemerdekaan rakyat dunia yang mereka inginkan. Kemerdekaan dalam kamus mereka adalah merdeka menindas, menghisap, membodohi, menginjak-injak kemerdekaan rakyat umum.

Kaum menengah pula tak akan pernah sanggup memberi kemerdekaan pada kaum tertindas di bawah, jika mereka masih sudi menjilati bokong para kapitalis, pejabat, pemerintahan penghisap dan penindas.

Pada penghisap mereka katakan akan tetap bekerja dengan baik dan membantu menghisap. Pada kaum tertindas pula mereka katakan, “Merdeka buat kita.”. Huss, t*ai kucing benar.

Di depan mereka katakan “Merdeka”, di belakang mereka katakan, “Mari menindas.”

Kaum menengah bermain terlalu hati-hati. Sampai hilang hati nurani mereka sebenarnya. Hay, kalian yang di tengah, tentukan pilihan. Memilih merdeka bersama rakyat yang tertindas atau sebaliknya jadi jongos pemerintahan gila ini.

Tolak Perppu Ormas: Sebuah kebijakan Perintah brangus suara kritis

Dan kalian kaum tertindas, kaum yang sebenarnya mayoritas, tapi takut terhadap tekanan minoritas. Kita tidak berteriak dan memperjuangkan kemerdekaan untuk membuat penindasan baru atas yang sudah menindas kita.

Kalian sudah terlampau lama berkutat pada gelapnya kebodohan. Pada kerendahan hati palsu kalian. Kalian sudah terlalu lama tidak berpikir menggunakan otak. Ini bukanlah takdir yang tak bisa diubah, ini adalah takdir yang ada di tangan kita semua. Kita bisa mengubah ini semua. Bukankah Allah juga sudah berkata, “Aku tidak akan mengubah suatu kaum sampai mereka berusaha mengubahnya sendiri.” Tuhan telah memberikan pilihan itu.

Kapitalis minoritas yang serakah ini harus kita tumbangkan dengan segera.

Maka kawanku. Mari kita bergerak bersama. Hancurkan kekuasaan pemerintahan yang menindas ini. Bukan saatnya lagi kalian bermain sandiwara kebajikan diri kalian sendiri. bukan saatnya pamer tentang rasa kerelaan dan keikhlasan kalian.

Ini waktunya kita untuk bangkit dan melawan. Mencari kemerdekaan sejati. Menghancurkan keserakahan, kebodohan, kesengsaraan, tipu-tipu pemerintahan Demokrasi dalam Era Kapitalisme yang menggigit kemaluan kita. Kita punya sistem dan keyakinan Islam yang kuat, sudah saatnya revolusi kita gulirkan kembali, revolusi yang belum lagi tuntas sejak awal. Kita harus benar-benar merdeka menjalankan segala keyakinan kita. Dan merdeka menjalankan apa perintah Tuhan di bumi-Nya ini. Bahwa kita memiliki pengaturan masyarakat yang jauh lebih manusiawi dan memerdekakan ekonomi kita.

Jangan diam. Jangan mau jadi setan bisu yang diam terhadap kezaliman yang benar-benar sudah tampak nyata.

Jika kalian diam, sama saja kalian menolak merdeka, menolak Bangsa dan Negeri ini merdeka, sama saja kalian menentang dunia ini hidup dalam kedamaian.

Neraka terdalam hanya bagi mereka yang tetap diam dan netral saat dunia sedang dalam krisis besar, kezaliman, dan penindasan yang kejam. Siksa disediakan bagi mereka yang tetap netral saat dunia dalam kekacauan.

Mari kawan, kita rebut kemerdekaan sesungguhnya. Revolusi belum tuntas!! [MO]


[Shopia]

[1] Pembebasan No. 6/tahun II/maret 2003

Posting Komentar