Ilustrasi

Tahun Baru Islam dan Kenestapaan Kaum Muslimin

Oleh. Budi Santoso 
Aktivis Forum Kajian Mahasiswa UIKA Bogor


Mediaoposisi.com-Tepat tanggal 21 September 2017, Islam memasuki tanggal 1 Muharam. Artinya umur Islam beserta umatnya sudah memasuki masa 1439 tahun. Sesuatu yang dikatakan tidak muda lagi. Tentunya sepanjang kurun waktu tersebut berbagai macam hal sudah dilalui. Rangkaian peristiwa sudah tercatatkan dalam pena sejarah umat ini.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa penetapan tahun hijriah diambil dari hijrahnya Rasul Saw dan kaum muslimin dari Mekkah ke Madinnah. Hal itu disebabkan dua faktor, yakni Allah swt yang memerintahkan untuk berhijrah dan penyiksaan yang semakin berat yang dialami oleh kaum muslimin saat masih di Mekkah. 

Perpindahan kaum muslimin dari Mekkah ke Madinah berdampak sangat siginifikan. 
Ada tiga hal yang berubah tatkala kaum muslimin hijrah dari Mekkah ke Madinah. 

Hal pertama adalah bahwa agama Islam menjadi agama yang diterima di kota tersebut selain dari agama Yahudi. Penerimaan agama Islam sebagai agama yang dianut oleh suku asli Madinah yakni Suku Aus dan Khajraj membuat Islam menjadi agama utama. Bahkan dikatakan dalam banyak literatur, tidak ada satu pintu pun kecuali di situ sudah masuk cahaya Islam. 

Yang kedua, Muhammad Rasulullah Saw menjadi pemimpin agama sekaligus pemimpin negara. Pada periode Mekkah, apa yang menjadi seruan Nabi saw adalah mengenai akidah. Hal ini disebabkan karena mayoritas penduduk Mekkah menjadikan Allah memiliki sekutu. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh nenek moyangnya yakni Nabi Ibrahim A.S. Pelurusan akidah, pemberitaan mengenai kabar baik dan buruk pada hari kemudian, menjadikan Nabi Muhammad sebagai pemimpin agama di tengah-tengah minoritas agama Islam yang masih terbilang baru tersebut. 

Di hijrahnya Nabi Saw ke Madinah, posisi beliau tidak hanya menjadi pemimpin agama Islam, melainkan juga sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan di Madinah. Hal ini menyebabkan posisi beliau sangat kuat sehingga hukum-hukum syariat bisa diterapkan sebagai hukum negara pada saat itu.

Yang ketiga, perpindahan kaum Muhajirin dari Mekkah ke Madinah, mengakhiri masa-masa kelam kaum muslimin yang ditindas. Derajat perbudakan di masa periode Mekkah berganti dengan derajat yang sama antara satu dengan yang lain. Yang membedakan hanya pada sisi ketakwaan kepada Allah Swt dan ketundukkan pada hukum yang dibawa oleh Rasulullah Saw.  

Berkaca pada hijrahnya Rasulullah Saw beserta para sahabat yang ditetapkan sebagai tahun baru Islam, tentu menyiratkan sebuah tamparan yang dalam dengan realitas saat ini. Beberapa tamparan tersebut diantaranya yakni; walaupun saat ini Islam masih diterima sebagai sebuah agama layaknya pada masa Rasulullah Saw, namun penerapan Islam saat ini tentu berbeda dengan pada masa dulu. Fakta tak terbantahkan jika melihat di hampir seluruh negeri-negeri muslim, bagaimana Islam diterapkan sebagian hukumnya dan sebagian lagi bergandengan dengan hukum buatan manusia. 

Selain itu, tamparan lain dalam realitas saat ini yaitu banyaknya pemimpin kaum muslimin dan tersebar di hampir seluruh penjuru dunia namun terbagi menjadi pemimpin-pemimpin kecil. Pemimpin al-jama’ah seperti halnya pada masa Rasulullah Saw, sahabat, sampai seterusnya tidak bisa ditemui kembali. Hal ini menjadi satu kesedihan yang mendalam tatkala semua agama memiliki pemimpin yang memimpin al-jama’ah, sedangkan Islam sendiri yang mengharuskan adanya pemimpin al-jama’ah tidak memilikinya.

Ilustrasi


Dengan dua realitas tersebut, Islam sebagai agama terbesar di dunia tidak memiliki wibawa di kancah global. Muslim-muslim saat ini layaknya buih di lautan. Banyak namun lemah. Konflik Timur-tengah yang tak berujung, penindasan dan genosida atas nama pembersihan terorisme, julukan sebagai umat konservatif dibalik globalisasi dan modernitas, menjadikan Islam bagaikan perahu tanpa nahkoda yang terombang-ambing di tengah lautan ganas.

Tahun baru hijriah yang selalu diperingati setiap tanggal 1 Muharam semestinya menjadi perenungan diri bagi setiap kaum muslimin bahwa banyak pekerjaan rumah yang musti diselesaikan. Tidak bisa jika tahun baru Islam diperingati hanya sebatas seremonial tanpa makna. Disamping merayakan tentu juga umat Islam harus berjuang membenahi segala yang menjadi kekurangannya. Baik pada ranah individu, masyarakat, maupun negara. Semua ditujukkan bagi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Hingga pada akhirnya klaim Islam sebagai rahmat bagi semesta alam bukan hanya sebatas klaim melainkan terwujud dalam tatanan yang Islami pada setiap aspeknya.   

Posting Komentar