Indonesia


Skema Kudeta Negara

Oleh Don Zakiyamani 
Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI) 

Mediaoposisi.com-Benar bahwa Indonesia memiliki pemerintah yang sesuai konstitusi dan melalui proses demokrasi walaupun masih ada kontroversi didalamnya. Hari ini Jokowi telah memimpin Indonesia selama 3 tahun dan segera berakhir 2019 mendatang. Itupun akan berlanjut bila Jokowi terpilih kembali pada pilpres 2019.

Namun sadarkah kita bahwa secara de facto negeri ini tidak dipimpin Jokowi-JK. Negeri ini telah dan sedang serta akan hilang kedaulatannya. Negeri ini sedang dikudeta perlahan oleh kekuatan ekonomi kapitalis dari tirai bambu. Taipan yang selama 32 tahun menguasai ekonomi Indonesia dan sempat pending ketika reformasi bergulir.

Kini dibawah pemerintahan Jokowi negeri ini dalam ancaman bangkrut. Selalu ada skenario bagi pengusaha agar bisnisnya tak merugi, demikian pula Cina. Setelah proyek reklamasi diganggu, proyek kreta api cepat Jakarta-Bandung sukses dijalankan. Walaupun sempat diganggu namun proyek itu terus berjalan.

Proyek terakhir sedang heboh namun menuju kesuksesan, polemik yang pada akhirnya akan dimenangkan Lippo. Kekuatan media yang menerima tawaran iklan semakin memantapkan posisi proyek yang diambil dari nama Ibunda James Riyady, Meikarta. Proyek ambisius sekaligus penuh modus dan iming-iming.

Kita sepertinya lupa bahwa ke-3 proyek besar tersebut merupakan cara Cina dan Taipan menguasai Indonesia. Anehnya pemerintah yang harusnya taat konsitusi malah ikut mendukung. Selain itu media-media yang katanya cinta tanah air ikutan sebagai pemandu sorak kudeta tersebut. 

Rakyat sebagai pemilik sah diabaikan begitu saja dan malah dianggap pengganggu. Lihatlah bagaimana reklamasi begitu kuat didukung pemerintah, proyek kreta api cepat Jakarta-Bandung malah sukses menghempaskan Jonan dari jabatan menhub pada saat itu. 

Presiden China (tengah)
Skema turnkey ala Cina sudah memakan korban negara-negara Afrika. Skema turnkey project menghendaki pendanaan, peralatan, tenaga ahli bahkan kuli didatangkan dari Cina. Artinya skema turnkey project merupakan satu paket yang lengkap. Kreta api cepat Jakarta-Bandung saat ini mulai senyap dari pemberitaan media dan jarang dibicarakan.

Padahal proyek tersebut merupakan pertaruhan BUMN kita  meliputi; PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero), dan PT Kereta Api Indonesia (Persero). Kegagalan proyek akan beresiko bagi taqdir ke-4 BUMN kita dan kesuksesan proyek hanya menguntungkan bagi Cina dan Taipan.

Kita ketahui bersama Turnkey Project sukses menyandera Srilanka, beberapa negara Afrika penerima bantuan Cina pun merasakan hal yang sama. Utang mereka kepada Cina harus diganti dengan kedaulatan mereka. Kudeta kedaulatan melalui strategi Turnkey Project sukses dijalankan Cina.

Berbeda dengan proyek kreta api cepat, proyek Meikarta menggunakan Taipan sebagai pemain utama. James Riyady sebagai penggagas sekaligus pelaksana utama padahal telah mengakui belum mengantongi izin disaat proyek tersebut sudah diiklankan. Nyaris semua media besar di negeri ini mengiklankan Mega-Proyek tersebut. 

Pemberi iklan dengan uangnya mampu menghipnotis masyarakat bahwa Meikarta adalah inovasi sebuah mimpi. Meikarta adalah kota impian dan rayuan-rayuan lainnya. Seolah lupa pada saat iklan tersebut meluncur proyek belum berizin, bisa jadi saat tulisan anda baca izin sudah diberikan. Setidaknya begitu yang terjadi pada proyek kreta api cepat Jakarta-Bandung.

Proyek Meikarta

Sudah sepatutnya bangsa ini belajar dari kudeta kedaulatan yang terjadi di Srilankan, Zambia, Gabon, Angola dan Sudan Selatan. Mereka bukan hanya disandera secara ekonomi namun politik pun telah dikuasai Cina. Ini bukan sikap anti Cina akan tetapi sikap waspada akan Turnkey Project yang akan mengkudeta bangsa Indonesia.

Saat ini Jokowi memiliki dua pilihan, bersama rakyat menjalankan konstitusi atau mengkudeta negerinya sendiri melalui Taipan dan Cina. Kita berharap masih ada media nasional dan lokal yang mencintai negerinya. Menolak membantu proyek kudeta negeri  yang sedang dijalankan.

Saya percaya selain TNI dan rakyat, media adalah komponen yang dapat mempertahankan kedaulatan negeri. Media adalah satu-satunya komponen yang paling potensial mengalahkan skema kudeta negara yang sedang dijalankan saat ini. Hari ini idealisme media sedang diuji; memilih uang atau negara yang didalamnya ada rakyat serta anak-cucu kita.

Skema kudeta negara harus kita hentikan, melalui pencerahan hingga mengusir kaum borjuis yang ingin menjajah negeri yang dibangun atas dasar kebhinnekaan. Saatnya perlawanan kita lakukan, rakyat, TNI dan media harus bersatu.[MO]

Posting Komentar