Pengungsi Rohingya


Mediaoposisi.com-Secara etnis, penampilan fisik orang-orang Rohingya memang berbeda dengan umumnya orang-orang dari di Myanmar. Rohingya lebih tinggi dengan hidung lebih mancung dan mata lebar. Karena mereka memang berasal dari kelompok etnis Indo-Arya yang lebih mirip dengan umumnya orang-orang India dan Bangladesh.


Sebaliknya mayoritas suku-suku di Myanmar, termasuk Burma sebagai suku mayoritas, umumnya berpostur lebih pendek, mata sipit dan hidung pesek. Karena nenek moyang orang-orang Burma berasal dari Sino Tibet. Karena sejak 11 ribu tahun sebelum Masehi, wilayah Myanmar diduduki oleh bangsa Pyu, suku bangsa yang berasal dari Tibet yang kemudian memeluk agama Buddha Theravada. Suku ini mendirikan sejumlah negara kota di wilayah yang sekarang disebut Myanmar.

Peta Myanmar

Perbedaan etnis antara Rohingya dan Myanmar itu dipertajam oleh sejarah konflik politik yang dimulai sejak Abad ke-15 lalu. Tepatnya saat Kerajaan Burma menyerbu Kerajaan Mrauk U yang dipimpin oleh Narameikhla alias Min Saw Mun tahun 1405 M. Setelah 24 tahun terusir dari kerajaannya di wilayah yang sekarang disebut Arakan atau Rakhine dan mengungsi ke Bengali, Naramaikhla kembali mendapatkan tahtanya di Arakan atas bantuan Kerajaan Bengali.

Saat kembali ke Arakan, Narameikhla membawa juga orang-orang Bengali untuk membantu administrasi pemerintahannya. Sejak itu komunitas muslim pertama asal Bengali tinggal di wilayah yang sekarang masuk negara bagian Rakhine. Raja Narameikhla meskipun tetap beragama Buddha mengubah namanya menjadi Soleiman Shah (1530-1534). Kerajaannya juga mengadopsi nama-nama Islam untuk nomenklatur para pejabat-pejabat istananya.

Koin mata uangnya juga bertuliskan Arab Persia pada satu sisinya dan aksara Burma pada sisi lainnya. Setelah Soleiman Shah mangkat, para penggantinya tetap menggunakan gelar Arab dan menganggap diri sebagai Sultan yang corak berpakaiannya meniru Sultan Mughal di Bengali. Meskipun beragama Buddha, para pengganti Narameikhla tetap mempekerjakan orang-orang Muslim di istananya.

Populasi Muslim meningkat pesat pada Abad ke-17. Orang-orang muslim yang didatangkan dari Bengali umumnya lebih makmur dibandingkan penduduk setempat. Kesenjangan sosial ini yang memicu kecemburuan orang-orang setempat. Selain Rohingya, di sana juga ada suku Rakhine yang beragama Islam dan diakui oleh pemerintah Myanmar hingga sekarang.

Tahun 1785 Arakan kembali jatuh ke tangan Burma. Sejak itu Kerajaan Burma menerapkan politik diskriminasi mengusir orang-orang Muslim dari Arakan. Kebanyakan orang-orang ini berlari ke Chittagong yang sekarang masuk wilayah Banglades. Tercatat pada 1799 ada 35.000 orang Arakan mengungsi ke Chittagong yang dikuasai oleh pemerintahan Inggris.

Di Chittagong orang-orang Arakan ini menyebut sebagai Rooinga yang berarti penduduk asli Arakan. Selanjutnya nama itu dieja dengan nama Rohingya. Di saat yang hampir bersamaan, Kerajaan Burma memindahkan sebagian besar penduduknya ke wilayah yang lebih ke tengah, sehingga Arakan sepi saat dikuasai oleh Kerajaan Inggris pada 1826. Karena sepi itu dan membutuhkan tenaga kerja di tanah-tanah pertanian, pemerintah Kolonial pun mendatangkan kembali orang-orang Rohingya ke Arakan.

Era Kemerdekaan

Seiring perjalanan waktu, orang-orang Rohingya ternyata lebih banyak ketimbang orang-orang etnis Burma di Arakan. Orang-orang Bengali pun bebas memasuki wolayah Arakan. Jumlah imigran dari Bengal yang tanahnya kurang subur ke Arakan yang tanahnya lebih subur terus meningkat pada Abad ke-19. Sejak itu ketegangan etnis antara suku Burma dan Rohingya siap bergolak.

Pergolakan itu meningkat pada 1939. Kala itu pemerintah Kolonial Inggris membentuk Komisi Khusus yang menyelidiki persoalan keimigrasian. Sayang, sebelum penyelidikan tuntas pemerintah Inggris sudah kabur ke Bangladesh karena Myanmar jatuh ke tangan Jepang. Toh begitu Inggris tetap mempersenjatai orang-orang Rohingya membuat kekacauan di Arakan. Maka terjadilah perang etnis antara Rohingya dan Burma yang menimbulkan korban di kedua belah pihak.

Karena tahu Rohingya dipersenjatai oleh Inggris, terjadi penangkapan, penyiksanaan, dan bahkan pembunuhan besar-besaran terhadap suku Rohingya di Arakan. Saat itu pula terjadi lagi pengungsian besar-besaran orang Arakan ke Bengali. Bahkan ada di antara pimpinan Rohingya menemui tokoh kemerdekaan Pakistan, Mohammad Ali Jinnah, untuk membantu kemerdekaan Arakan dari penguasaan Burma. Namun Ali Jinnah menolaknya.

Jenderal U Aung San ayah dari Aung San Syuu Kyi

Tahun 1947 orang-orang Rohingya membentuk Partai Mujahid yang bercita-cita mendirikan negara Islam di Arakan utara. Sejak itu Rohingnya digunakan sebagai identitas politik dan menyatakan perang terdahap penduduk asli Arakan. Saat pimpinan Burma yang dipimpin Mayjen U Aung San bersidang mempersiapkan kemerdekaan, tiba-tiba mereka diserang oleh sekelompok bersenjata yang berhasil membunuh U Aung San, ayah dari Aung San Syuu Kyi. Karena Aung San wafat, maka U Nu dinobatkan menjadi Perdana Menteri yang pertama Burma.

Gerakan bersenjata itu dipimpin oleh U Saw yang akhirnya dihukum mati. Partai Mujahid dicurigai berada di balik penyerangan itu. Sejak itu Rohingya tidak diakui sebagai suku minoritas yang memiliki konsekuensi tidak bisa mengirimkan wakil di parlemen, mengalami hambatan dalam hal pelayanan sipil dan tidak mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan secara memadahi. Maka Rohingya terus melakukan perlawanan hingga ditumpas oleh Ne Win pada 1978.

Sejak Ne Win berkuasa pada 1962 lewat kudeta, Jenderal ini memang dikenal kejam memerangi suku-suku minoritas, termasuk Rohingya. Sebut saja Operasi Raja Naga pada 1978 yang membantai ribuan orang Rohingya, Kala itu tercatat sekitar 200 ribu orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Pada Juli 1978 dengan mediasi PBB, pemerintah Myanmar menyetujui pemulangan orang-orang Rohingya dari tempat pengungsian ke Rakhine.

Kondisi orang-orang Rohingya semakin terjepit. Sebab tahun 1982 pemerintah Bangladesh pun mengamandemen UU Kewarganegaraan yang tidak mengakui Rohingya sebagai bagian dari warga negaranya. Sejak itu orang-orang Rohingya benar-benar tidak memiliki kewarganegaraan. Di kampung asal tidak diakui, sedangkan di Rakhine tetap dianggap sebagai pendatang.

Peta
Lebih parahnya lagi, junta militer Myanmar sejak 1990 hingga 2010 masih menerapkan politik diskriminasi terhadap suku-suku minoritas di Myanmar, termasuk Rohingya, Kokang dan Panthay. Bahkan setelah Aung San Suu Kyi yang partainya memenangkan Pemilu dan menjadi penguasa de facto tidak bisa berbuat apa-apa terhdap militer Myanmar yang bersama penganut Buddha garis keras melakukan persekusi terhadap warga Rohingya.

Ironi Nobel Perdamaian

Tahun 2012, saat Suu Kyi meraih penghargaan Nobel Perdamaian, terjadi kerusuhan rasial antara suku Rakhine dan Rohingya yang dipicu oleh pemerkosaan dan pembunuhan seorang gadis Rakhine oleh para pemuda Rohingya yang disusul pembunuhan sepuluh orang pemuda Muslim dalam sebuah bus oleh orang-orang Rakhine. Pemerintah Myanmar mencatat hanya 78 orang tewas. Namun angka itu diragukan oleh sejumlah organisasi kemanusiaan yang memang sulit mengakses ke Rakhine.

Penggunaan nama Rohingya resmi dilarang oleh pemerintah Myanmar sejak tahun 2014. Lebih kejamnya lagi, tahun 2015 pemerintah Myanmar mencabut kartu identitas penduduk orang-orang Rohingya yang membuat mereka tidak memiliki kewarganegaraan. Persekusi di bawah pemerintahan de facto Suu Kyi yang juga penerima Nobel Perdamaian terus berlangsung, hingga banyak warga Rohingya meninggalkan kampung halaman.

Bahkan pada 2015 tercatat sekitar 50 ribu warga Rohingya nekat berlayar dan tak satu pun negara, termasuk Indonesia dan Malaysia yang mayoritas berpenduduk Islam, menyambutnya.Di Rakhine sendiri mereka ditempatkan di sebuah tempat penampungan di bawah pengawasan ketat militer. Sebagian lainnya berada di kamp pengungsian Thailand, Malaysia dan Indonesia yang menerima mereka ala kadarnya.

Aung San Syuu Kyi Peraih Nobel Perdamaian


Memang, bahasa Rohingya mirip dengan bahasa Chittagonia yang digunakan oelh orang-orang Chittagong di Bangladesh. Namun umumnya orang-orang Rohingya menolak kalau mereka disebut keturunan Bengali. Mereka menyebut diri sebagai bangsa keturunan Moor, Arab, Persia dan Bengali yang sudah menetap lama di Rakhine. Saat Rakhine dikuasai Inggris, umumnya orang Rohingya menggunakan bahasa Inggris atau Urdu untuk komunikasi tertulis.

Informasi terakhir tercatat 175 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh yang baru membuka pintu perbatasannya setelah dibujuk oleh Presiden Turki Erdogan. Tapi persoalannya, pemerintah Bangladesh akan menempatkannya di Pulau terpencil. Problem kewarganeraan orang-orang Rohingya juga masih belum dipecahkan oleh para pemimpin dunia.

Bahkan Suu Kyii, peraih nobel perdamaian tidak pernah mau menyatakan bahwa Rohingya adalah Warga Negara Myanmar. Bukan pendatang gelap sebagaimana yang dituduhkan oleh militer dan milisi di Myanmar. Bahkan sekali pun benar Rohingya pendatang gelap apakah dengan begitu hilang pula hak-hak azasinya sebagai manusia?  Maka begitu jahat nasionalisme yang jadi semboyan membuat suku dan ras terpental. Hendaknya kita berpikir ulang tentang ikatan.[MO/ba]


Dari Berbagai Sumber

Posting Komentar