Tegak, menyentak!
Pada beton dan aspal kering keangkuhan
Tegak, menyentak!
Terguling anak berselimut zaman kepura-puraan
Tegak, menyentak!
Pecah kaki dilumat cepatnya kendaraan pembangunan
Tegak, menyentak, berpikir bergerak!



Ooo,
Di sela jalan sempit pinggiran kota, tak ada susu, sayangku...
Tak ada atap perlindungan, percayalah, tak ada lagi
Terlihat? Lihatlah
Kasih rasa malu tertutup buta, tuli dan keras hati
Amboii, duhai kaki kecil pemilik zamrud khatulistiwa,
Aku harus tega berkata,
Indah permatamu diberaki hingga hijau kehitaman, persis tai keras yang dikerubungi lalat-lalat bangkai di pembuangan


Lalat? Tidak, tidak, tidak.
Ini tak sekadar kerumunan, bahkan keserakahan malu bersanding kata,
jauh lebih najis
Cukong-cukong ini, memanggul bangkai kemana-mana
Tajam busuknya menyengat hidung nurani kita
Tak ada peduli, yang tersisa hanya remah kepentingan



Belukar kapital itu menghimpit kita punya nafas
Jantung kita diremas, tanah dirampas, laut dikuras, hutan dilibas, harga diri diinjak-injak ditumpas tak berbekas
Tak ada janji terpenuhi, hanya dusta yang bertambah, terus, terus, dan terus bertambah lagi
Korban hari ini ditutupi mata buta hati kita
Telah tertipu, semak-semak besi ini bukan kita, panjangnya rel tanda perbudakan ini semakin menjelma lama
Waktu bergulir, bergilir generasi mati diperhentian, tapi apa untuk kita?!
Jelas, memang bukan untuk kita, sekarang bukan milik kita, esok pun kita tak kan memiliki apa-apa
Mereka, memang kumpulan yang tak pernah menepati janjinya!
Bekasi, 1 September 2017
Vier A. Leventa

Posting Komentar