MENGIRIM PASUKAN KE MYANMAR UNTUK MENGHENTIKAN KEDZALIMAN JAUH LEBIH BERARTI DARI SEKEDAR BERMAIN BOLA


Oleh : Firdaus Bayu 
(Direktur Pusat Kajian Multidimensi)



Media Oposisi- Hingga hari ini, masih saja kita dengar begitu banyak kabar tentang derita umat muslim Rohingya di Myanmar. Mereka dibantai habis oleh kelompok ekstrimis Budha yang tidak berperikemanusiaan. Dengan mudah dapat kita akses berita seputar penyiksaan terhadap mereka di berbagai media. Ada yang dibakar, ditelanjangi, diperkosa, diperlakukan seperti hewan, dan banyak lagi kebiadaban lain yang mereka alami.

Tragedi kemanusiaan itu tentu menyayat hati setiap insan yang masih memiliki kejernihan nurani. Pasalnya, bukan hanya lelaki dewasa yang mengalami kebiadaban itu, melainkan juga wanita, orang tua, bahkan anak-anak hingga bayi sekalipun. Mereka berlari tertatih-tatih, nafasnya beriringan dengan denyut jantung dan ketakutan yang semakin tak menentu. Mereka bersusah payah mengungsi ke Malaysia, Bangladesh, juga Indonesia. Lebih menyedihkan, sebagian penguasa setempat ada yang justru menolak kehadiran para pengungsi itu. Sungguh tak berperikemanusiaan.

Tak terhitung sudah berapa kecaman dan kutukan yang umat Islam berikan dari berbagai negara atas tragedi tersebut, termasuk masyarakat Indonesia. Namun itu hanyalah sebatas ancaman dan kutukan, atau donasi uang dan obat-obatan, bukan tindakan nyata berupa delegasi tentara untuk mengimbangi kekejian fisik yang terjadi di sana.

Namun, bertepatan dengan memanasnya konflik hebat yang terjadi di Myanmar, Timnas Indonesia U-19 telah melangsungkan sebuah pertandingan bola di Piala AFF U-18 2017 melawan Myanmar. Akhirnyam pertandingan yang dilangsungkan pada Selasa, 05 September 2017 dengan Myanmar sebagai tuan rumahnya diakhiri dengan ketegasan Indonesia. Indonesia mampu menggebuk Myanmar 2-1.Tanpa mengurangi rasa hormat dan apresiasi, sungguh mengirim pasukan untuk membasmi kedzaliman umat muslim di Myanmar hari ini jauh lebih bermakna dari sekedar bermain bola.




Tragedi muslim Rohingya bukanlah hal kecil. Ketidakadilan telah nyata terjadi di sana. Mereka tersiksa secara fisik dalam kurun waktu yang lama. Karena kejahatan yang menimpa mereka adalah kejahatan fisik, maka solusi paling tepat untuk menumpas kejahatan itu tentu solusi fisik. Itu artinya, mereka tidaklah sekedar membutuhkan makanan dan obat-obatan, apalagi sekedar kecaman.

Tidak, tidak hanya itu yang mereka saat ini butuhkan. Lebih dari itu, sungguh muslim Rohigya saat ini membutuhkan kebebasan hidup, dengan berakhirnya kejahatan yang menimpa mereka. Mereka juga manusia yang memiliki keluarga seperti kita. Mereka juga memiliki hak untuk dapat hidup layak dan aman sebagaimana kita. 

Karena itu, seharusnya negara yang benar-benar mengaku peduli terhadap peristiwa tragis itu mengirimkan pasukannya untuk menegakkan keadilan di sana. Hanya saja, persoalan ini adalah ranah negara, sebab yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan perlawanan fisik ke luar negeri adalah negara.

Indonesia adalah negeri berpopulasi muslim terbesar di dunia, jadi sudah salayaknya Indonesia menjadi negeri paling aktif dalam melakukan perlawanan terhadap kekejian umat muslim Rohingya di sana. Jika jalur lobi-lobi politik sudah tak lagi bisa diharapkan, maka turun tangan secara fisik mutlak dibutuhkan. Namun sekali lagi, hanya negara yang benar-benar peduli yang bernyali melakukan hal ini.

Sungguh sayang, negara kita punya tentara dan senjata, namun tetap abai terhadap derita saudara di sana. Kita punya pemuda dan tenaganya yang prima, tetapi kita kirim jauh-jauh ke Myanmar hanya untuk bermain bola, bukan menghentikan kedzaliman di sana. Semoga Indonesia dapat segera mengambil pelajaran dari kejadian ini. [MO]



Posting Komentar