Hijrah Dan Lawan !
oleh : Maulana (Ketua BEM STEI Hamfara Yogyakarta)

Kesalahan fatal bila mahasiswa memaknai hijrah sebagai trend semata tanpa mampu memahami aspek politik dibalik makna hijrah. Lazim kita indera di media sosial dan dunia nyata, hijrah seringkali identik dengan pembahasan tentang nikah,fashion,serta perbaikan akhlak. Tanpa ada maksud merendahkan perihal diatas, mahasiswa perlu memahami makna di balik hijrah karena mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change,iron stock dan social control.

Mahasiswa muslim, harus menyadari bahwa sejarah hijrahnya Rasulullah bukanlah semata-mata menandai awal adanya kalender hijriah. Hijrah adalah peristiwa politik peletakan batu pertama berdirinya bangunan Negara Islam. Selama sekitar 1300 tahun negara itu mengalami kejayaan dan menebarkan rahmat.

Hijrah Rasulullah saw. dan para sahabatnya dari Mekah ke Madinah, adalah perubahan situasi dimana Islam yang awalnya sebagai ide atau gagasan yang diyakini oleh individu-individu muslim yang memeluknya menuju revolusi yang menjadikan islam sebagai ajaran yang diterapkan oleh negara dan masyarakatnya. Disini tampak bahwa Islam bukan lagi sekadar aqidah ruhiyah, tapi juga aqidah siyasiyah (politik).

Oleh karena itu, kaum Muslim dituntut untuk dapat merealisasikan kembali ajaran Islam dalam kancah kehidupan. Islam bukanlah ajaran yang hanya mengurus permasalahan ibadah semata, namun Islam memiliki berbagai aturan yang lengkap untuk diterapkan manusia seperti ekonomi,politik,sosial dan budaya. 

Semangat untuk berubah ke arah yang lebih baik adalah semangat hijrah,semangat untuk merubah realita yang ada menuju penerapan ideologi revolusioner nan agung yaitu Islam.   

Memahami Hijrah Sebagai Suar Perlawanan

Bila kita saat ini belum mampu menjadi suar perlawanan seperti Ali bin Abi Thalib yang rela menjadikan dirinya sebagai umpan untuk kaum kafir Quraisy ,kita bisa mengkaji bersama maksud di balik kata hijrah untuk menjadi suar perlawanan di era milenial saat ini. 

Mahasiswa muslim bila memaknai esensi hijrah serta menjiwainya dalam aktivitasnya sebagai agen perubahan tentu akan mendorong,mendesak dan mempelopori perubahan menuju arah Islam. Islam berbeda dengan ideologi lain yang mengharuskan adanya pertentangan kelas untuk mewujudkan perubahan atau ideologi lain yang condong pada satu pihak saja. Islam adalah ajaran yang jika diterapkan secara kompleks akan mengayomi semua kalangan karena Islam sendiri adalah rahmatan lil alamin.

Mahasiswa muslim sebagai iron stock, tentu akan mengaplikasikan Islam ketika diberikan amanah untuk mengelola negeri negeri kaum muslimin pada suatu masa. Sebuah kebodohan bila mahasiswa muslim masih mengamini kerusakan yang ditimbulkan oleh generasi yang berkuasa saat ini dengan menerapkan aturan yang bersumber dari ideologi yang sama,kapitalisme.

Social Control sebagai konsekuensi dari status mahasisw pun bisa kita terapkan dengan menjadikan islam sebagai tolak ukur menghukumi aktivitas masyarakat,kebijakan penguasa serta koridor dalam menjembatani penguasa dan masyarakat. Alhasil, mahasiswa yang sadar perannya tidak bisa tidak akan bergerak dan gelisah ketika realita saat ini bukanlah realita Islami.

Mulianya spirit hijrah Rasulullah harus mahasiswa emban dengan erat sebagai aktivitas perjuangan politik yang mencerminkan arti mahasiswa. Apabila mahasiswa muslim secara umum masih menjadikan hijrah sebagai dalih untuk memuaskan nafsu hewaninya, maka mari kita bersama evaluasi, sudahkah kita berdakwah ke mereka ataukah mereka yang enggan mendalami makna hijrah ?

Sejarah perubahan revolusioner berada di tangan mahasiswa dan pemuda, namun apa kata sejarah bila mahasiswa tak sudi berbicara tentang perubahan selain perubahan nasib egoistisnya semata ?

Wujud nyata dari aplikasi perjuangan dengan semangat hijrah bukanlah menggemborkan bahwa kita berhasil hijrah atau memamerkan secara masif “hijrah” kita apalagi menjadikan hijrah sebagai ajang untuk mencari recehan semata. Namun kita jadikan hijrah sebagai pelecut kita untuk mejadi suar perlawanan pada kapitalisme yang bercokol di negeri kaum muslim serta menjadikan Islam sebagai ideologi perjuangan dan solusi kebobrokan. [MO]

sumber inspirasi : http://luthfibandung.blogspot.co.id/2010/12/aspek-ideologis-politis-peristiwa.html

.   

Posting Komentar