Presiden Jokowi


Sukabumi | Mediaoposisi.com- Sambutan Jokowi sebelum melaksanakan ibadah salat Idul Adha di Lapangan Merdeka,Sukabumi,Jumat (1/9) seolah menghibur kaum muslim yang dirugikan akibat kebijakan kontroversial yang ia lakukan.

Dikuti dari detik.com, Jokowi dan Ibu Negara Iriana hadir di Lapangan Merdeka, Kota Sukabumi, Jawa Barat, sekitar pukul 06.05 WIB, Jumat (1/9). Dia datang ditemani oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo

Dalam sambutannya,ia menghibur umat muslim dengan membanggakannya ketika bertemu pembesar dari negara lain.

"Setiap bertemu dengan kepala negara, kepala pemerintahan, selalu saya sampaikan bahwa negara Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia," katanya.

Tak cukup sampai disitu,seolah melupkan perlakuannya terhadap umat Islam dengan menerbitkan Perppu Ormas yang menyasar ormas Islam yakni HTI dan tidak menutup kemungkinan ormas Islam lain,ia justru menekankan adanya ukhuwah Islamiyah.

"Saya mengajak kita semua untuk mempererat persaudaraan kita antara sesama muslim, ukhuwah islamiyah, dan wathoniyah kita antar sebangsa dan setanah air. Dan kita semua adalah saudara," imbuhnya. 

Ucapan Jokowi ini seakan berkebalikan dengan kebijakan demi kebijakan yang ia terapkan pada rakyat,khususnya umat muslim. Umat muslim yang ia banggakan ,tega ia bebankan pencabutan subsidi BBM,kenaikan TDL,kenaikan target pajak 2018 dan terakhir berencana menyambut meriah Dewa Amputasi Dunia yang bersenjatakan hutang ribawi,IMF dan World Bank.




Pemerintahan Jokowi sendiri terindikasi kuat melakukan politik belah bambu, mengingat pemerintah sangat dekat ormas Islam Nahdatul Ulama yang dipimpin KH Said Agil Siradj yang relatif tidak mengusik kepemimpinan jokowi,kecuali pada urusan FDS.

Pemberian dana dengan dalih bantuan kredit 1,5 T kepada NU,lalu kehadiran Said Agil Sirad dalam berbagai forum penting turut menguatkan anggapan tersebut.

Budayawan yang disegani dari kalangan Nahdliyyin, Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun sampai ikut mengomentari fenomena ini.

“HTI dibubarkan ,NU dapat 1,5 T. Yang satu ngrakoti duit (makan uang) yang satu diidek-idek (diinjak-injak). Dan itulah pecah belah,divide et impera yang luar biasa di rezim sekarang ini.”ujar Cak Nun.

Ukhuwah Islamiyyah seperti apa yang dimaksud Jokowi ketika rezimnya membubarkan HTI,ormas yang dikenal kritis terhadap pemerintah ? Lantas disi lain menganakemaskan NU pimpinan Said Agil Siradj? [MO]



sumber : berbagai sumber

Posting Komentar