Mediaoposisi- Belum kering luka umat Islam karena tindakan Ahok menghina agama Islam ,lalu Jokowi menerbitkan perppu ormas yang memicu kegeraman umat Islam, kali ini Viktor Laiskodat berulah dengan menyebut negara  khilafah adalah ancaman NKRI, khilafah akan mewajibkan seluruh rakyat Indonesia untuk shalat serta fitnah bahwa khilafah akan melarang gereja berdiri.

Mengerti dengan khilafah? Semua wajib shalat. Semua lagi yang di gereja, mengerti? Mengerti? Negara khilafah tidak boleh ada perbedaan, semua harus shalat." ujar Viktor tendensius

Dalam video tersebut,khilafah yang jelas merupakan ajaran Islam difitnah oleh Viktor yang notabene kafir alias non muslim.

Kebusukan fikiran Viktor berbuntut panjang, umat Islam ramai mengecam keras Viktor,bahkan ada yang melaporkan Viktor ke pihak berwenang.

Marahnya umat Islam memang wajar,umat beragama mana yang rela agamanya difitnah ? Nampaknya Viktor belum belajar dari kasus Ahok.

Polah Viktor yang non muslim sebenarnya tidak perlu dilakukan bila ia telah mempelajari kemuliaan perlakuan Islam terhadap non muslim dalam khilafah. Syukur syukur bila Viktor merendahkan hatinya lantas bertanya kepada umat Islam.

Non Muslim di Era Khilafah
Dengan kerendahan hati, redaksi medioposisi paparkan penjelasan dari berbagai sumber tentang perlakuan negara/daulah khilafah terhadap non muslim yang hidup dalam negara khilafah.



1. Tidak ada paksaan berpindah agama 
Khilafah tidak menghancurkan rumah ibadah non muslim,serta non muslim diizinkan hidup bersama umat Islam. Non muslim bisa hidup selama tidak ada permusuhan yang dilakukan oleh non muslim terhadap umat umat  muslim. 
Orang kafir yang hidup dalam Daulah Islamiyah disebut kafir dzimmi, serta mendapatkan perlakukan dan hak yang sama dengan kaum Muslim. Tuduhan Viktor bahwa khilafah memaksa umat non muslim untuk shalat jelas terbantahkan.




2. Larangan Menyaikiti Non Muslim
Rasulullah saw menyatakan dalam banyak hadis, bahwa siapa menyakiti kafir dzimmi tak ubahnya menyakiti kaum Muslim. Diriwayatkan Al-Khathib dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

مَنْ اَذَى ذِمِّيًا فَأَناَ خَصَمَه يَوْمَ القِيَامَةِ، وَمَنْ خَاصَمْتُه خَصَمْتُه
Siapa saja yang menyakiti dzimmi maka aku berperkara dengan dia. Siapa saja yang berperkara dengan aku, maka aku akan memperkarakan dia pada Hari Kiamat (Imam al-Jalil Abu Zahrah, Zuhrat at-Tafasir, 1/1802. Lihat juga: Fath al-Kabir, 6/48; hadis nomor 20038 [hadis hasan]).

Bukti historisnya, Kita melihat penerapan peraturan ini secara praktis selama masa pemerintahan Khilafah Utsmaniyah. T.W. Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam, menyatakan bahwa Uskup Agung Kristen dan Sinoda Agung bebas memutuskan segala hal yang berkenaan dengan keyakinan dan dogma tanpa menerima intervensi apapun dari negara. Hal ini justru tidak pernah terjadi pada masa pemerintahan para Kaisar Byzantium. 



4. Non-Muslim Mengikuti Aturan Agama Mereka dalam Hal Makanan dan Pakaian

Dalam hal makanan dan pakaian, umat non-Muslim berhak mengikuti aturan agama mereka tentang tata kehidupan publik.

Mazhab Imam Abu Hanifah menyatakan: “Islam membolehkan ahlu dzimmah meminum minuman keras, memakan daging babi, dan menjalankan segala aturan agama mereka dalam wilayah yang diatur oleh syariat.”

Selama hal tersebut dilakukan dalam komunitas non muslim  dan tidak dilakukan di ruang publik, Khilafah tidak punya urusan untuk mengatur. Namun bila, misalnya seorang ahlu dzimmah membuka toko yang menjual minuman keras di ruang publik, maka dia akan dihukum berdasarkan aturan syariat Islam.

5. Urusan Pernikahan dan Perceraian Antar Non-Muslim Dilakukan Menurut Aturan Agama Mereka

Umat non-Islam diijinkan untuk saling menikah antar mereka berdasarkan keyakinannya. Mereka dapat dinikahkan di Gereja atau Sinagog oleh Pendeta atau Rabbi. Mereka juga dapat bercerai menurut aturan agama mereka

Dalam hal muamalah, kaum Muslim dipersilakan untuk bermuamalah dengan mereka sesuai dengan ketentuan syariah Islam. Umat Muslim bebas bersosialisasi dengan non muslim selama tidak melanggar syariat Islam.

6. Non Muslim Boleh Berdagang dengan Umat Islam
Kafir dzimmi boleh melakukan jual-beli dan syirkah dengan kaum Muslim. Kafir dzimmi juga boleh ikut berperang bersama kaum Muslim, tetapi perang (jihad) tidak wajib atas mereka.



Bila ingin bukti lain,maka pendapat Ahmad Dhani Prasetyo berikut bisa dilakukan oleh Viktor
.
Segera beli Dvd atau BluRay Film judulnya"KINGDOM OF HEAVEN"HOLLYWOOD aja mengakui KHILAFAH ISLAM yang me Manusia kan Masyarakat Nasrani yang kalah perang di JERUSALEM di bawah pimpinan SULTAN SALADINTIDAK ADA PEMBANTAIANTIDAK ADA PEMAKSAAN HARUS PINDAH AGAMAGEREJA TIDAK DI RUSAK MALAH DI PERBAIKIWANITA DAN ANAK ANAK DI LINDUNGIsegera tonton dah Film nyaHOLLYWOOD aja mengakuiUntuk Bang Victor , Jgn berhalusinasi tentang sesuatu yang tidak di pahami dengan benar.


Non Muslim Dukung Khilafah
Bila ingin lebih, mungkin statemen Effendi Simbolong yang notabene non Muslim dalam mengomentari khilafah dalam acara yang diinisiasi oleh HTI patut dijadikan renungan oleh Viktor.

HTI pernah mengundang Effendi Simbolon dalam acara “Halqah Islam dan Peradaban : Indonesia Dalam Ancaman Neoliberalisme dan Neoimperialisme” yang dilaksanakan Rabu,(15/4/2015) di Gedung Joang 45 Jakarta.

Dengan menerapkan syariah, sudah bisa membentengi laju arus imperialisme di negeri ini,” ujarnya, saat dipersilakan sebagai pembicara pertama.

Effendi juga heran mengapa masih ada Muslim yang menolak syariah, sementara dirinya sendiri menyetujui konsep Islam dalam mengatur negara sebagai solusi sistemik ideologis. “Kenapa malah Muslim masih ada yang menolak, bahkan di parlemen sendiri,” herannya.

Saat ini, lanjutnya, hanya sedikit komunitas yang masih konsisten mengkritisi dominasi asing di negeri ini, antara lain HTI. “Saya bahkan tidak melihat komunitas Islam besar (lainnya) yang merespon (dominasi asing ini) seperti mereka merespon isu ISIS dan lainnya,” ungkapnya.

Effendi yang menyatakan bahwa dirinya beragama Kristen Protestan, bahkan memberikan dukungan dan semangat pada HTI untuk konsisten memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah.

“Saya dukung teman-teman HTI memperjuangkan syariah dan khilafah, tetap konsisten berjuang, paling tidak dua puluh tahun yang akan datang kita akan menuai hasilnya,” kata Effendi yang kemudian menegaskan dirinya siap menjadi perantara bagi HTI untuk menjelaskan konsep Islam kepada instansi atau lembaga penting terkait yang bisa ia jangkau seperti Istana, DPR, Kementerian ESDM, Kementerian BUMN, dan lainnya.

Jadi, jangan kaget bila umat Islam marah kepada anda, Viktor ! Ahistoris berbalut kesombongan hanya akan menjadikan anda sebagai pemantik aksi bela Islam berikutnya. Apakah Viktor akan menginap di hotel prodeo?

 Kita nantikan saja ! [MO]

Posting Komentar