Ilustrasi




Oleh: Husain Matla

ANAKKU, PESANTREN, Dan KEBANGKITAN UMAT

Media Oposisi-Ketika saya mengantarkan anak saya yang sulung ke pesantrennya di pinggiran kota Semarang, yang akan menjadi tempat ia menuntut ilmu berikutnya, saya sedikit terkejut. Ini karena tempat tidurnya ternyata bukan kasur, tetapi matlas. Seperti tikar, tetapi lebih tebal dan terbuat dari karet ringan. Terus terang, saya justru gembira dengan suasana itu. Saya jadi teringat kata-kata pimpinan ponpes, ustadz Abu Faqih  sehari sebelumnya, “Lebih baik hidup sederhana, biar ketika dewasa siap di segala medan.” Ternyata matlas itu salah satu implementasi kata-kata beliau.

Beberapa hari selama saya mengajar di kampus saya, saya jadikan matlas itu sebagai tema untuk bicara dengan para mahasiswa saya. “Jika kalian meminta banyak fasilitas dari kampus, itu bagus-bagus saja. Biar kampus nanti lebih modern. 

Namun, sebenarnya terlepas tuntutan anda semua, adalah kewajiban bagi kampus kita ini untuk memperbaiki fasilitasnya. Pertanyaannya, sambil berjalannya waktu, seiring perbaikan-perbaikan yang akan kami lakukan, lalu siapa yang nantinya akan menerima fasilitas itu nanti? Tentunya harusnya orang yang layak menerima fasilitas itu. Karena itu, tolong sambil kita jalan, anda juga terus bersemangat, perbaiki kualitas anda. Apapun yang terjadi, walau masih banyak kekurangan, anda tidak terganggu dengan suasana itu.. Fasilitas itu hanya nomor dua.

Belum lama saya berkunjung ke pesantren anak saya. Saya semula terkejut ketika tahu tempat tidurnya bukan kasur, tetapi matlas. Tapi saya justru gembira. Karena dengan itu anak saya nantinya justru lebih tangguh. Sebelum saya pindahkan anak saya ke pesantren itu, saya memang sempat motivasi dia. Saya katakan, sekolah yang baik itu yang penting gurunya. Ini saya sampaikan karena secara fisik sekolah anak saya sebelumnya tampak lebih baik, apalagi memang SD itu cukup dikenal di kecamatan kami. 

Namun di sekolah baru, di pesantren itu, tampaknya bangunannya lebih sederhana, dan gurunya juga muda-muda, hanya sekitar lima tahun di atas kalian. Tetapi saya begitu yakin dengan guru utamanya, pimpinannya, saya yakin dengan sistem yang beliau terapkan yang memandu guru-guru muda tadi. Mereka bukan hanya guru, tetapi mengawal kehidupan santri tiap harinya. Belum lagi kegiatannya. Selain akademis juga dibekali bahasa Arab dan bahasa Inggris percakapan, disamping tahfidz Qur’an.
Fasilitas itu nomer dua. Yang penting gurunya, orang-orang yang mengawalnya. Justru visi pimpinan pesantren yang menurut saya sangat membuat saya percaya, ‘Lebih baik hidup sederhana, biar ketika dewasa siap di segala medan.’ 

Agak lega saya bisa menyampaikan itu semua kepada para mahasiswa saya. Karena kalau tidak begitu, seakan fasilitas itu yang paling penting, menggantikan dosen dan sistem. Padahal harusnya fasilitas adalah melengkapi dosen dan sistem, menyempurnakan apa yang sebelumnya sudah ada.
Visi dari para pengurusnya, itulah yang justru paling utama. Menyiapkan anak biar tangguh di segala medan ketika dewasa.. Menurut saya itu luar biasa. 

Kalau anak bisa hidup dalam berbagai kondisi, betapa daya juang mereka luar biasa. Kalau mereka tak pernah mengeluh dengan kondisi yang buruk, maka mereka akan mempunyai akselerasi yang cepat ketika mereka mendapatkan kondisi yang baik. Kalau mereka ikhlas dan mau menerima apa yang sedikit, maka mereka akan mensyukuri dan mengoptimalkan apa yang banyak. 

Demikian yang bisa saya simpulkan setelah saya mendapat penjelasan kata-kata Sayidina Ali bin Abi Thalib.

Tak jauh dari waktu saya mengunjungi anak saya, Soal fenomena politik Turki beberapa waktu yang lalu membuat saya banyak menyoroti. Erdogan dan Gulen, sama-sama tokoh umat yang disegani, dan sama-sama banyak pendukung. Keduanya banyak disanjung sebagai sesama tokoh Islam yang berhasil menjungkalkan orang-orang sekuler dan kemalis. Namun, mangapa justru pecah kongsi? 

Tak sekedar pecah kongsi tetapi saling memusuhi. Tak sekedar saling memusuhi tetapi saling menyerang. Tak sekedar saling menyerang tetapi satunya mengecam dengan medianya dan satunya mencoba memenjarakan musuh-musuhnya. Tak sekedar mengecam versus memenjarakan, tetapi menghasilkan peristiwa politik yang begitu menghebohkan, peristiwa kudeta yang membuat gaduh Turki dan bahkan dunia serta menewaskan ratusan orang.

Mengapa Erdogan...?? Mengapa Gulen..?? 

Peristiwa Erdogan versus Gulen ini memantik saya untuk mereview berbagai kasus dalam sejarah Islam. Teringat saya akan beberapa kasus. Perpecahan antara Khalifah Hisyam bin Abdil Malik, seorang khalifah Daulah Umayah, dengan Zaid bin Ali Zainal Abidin, seorang keturunan Ali Bin Abi Thalib sekaligus tokoh utama masyarakat saat itu, yang kharismatis seperti Gulen. 

Teringat pula saya akan pecah kongsi antara Khalifah Al-Mu’tamid, seorang khalifah Bani Abbasiyah, yang slow seperti Jokowi, dengan Al-Muwaffaq Thalhah, saudaranya sekaligus panglima perang negara, yang tegas dan gagah seperti Prabowo. Teringat pula pertikaian antara Arya Penangsang, seorang calon penerus tahta Kesultanan Demak dan cucu Raden Patah, dengan Mas Karebet, menantu Sultan Trenggono (putra Raden Patah). Teringat pula saya akan perpecahan antara Sultan Abdul Hamid II, seorang khalifah Daulah Ustmanisyah, dengan Midhat Pasha, wazir utama.



Dan semua pertikaian itu mempunyai ciri khas sama: para pihak yang bertikai sama-sama mempunyai pendukung yang banyak dan hampir sama kekuatannya, serta sekitar satu generasi setelah mereka muncul negara baru yang dipimpin orang-orang yang gaya hidupnya lebih rendah, serta berhasil mengkonsolidasikan politik dan militer.

Mengapa bisa begitu?

Semua pemimpin yang bertikai tersebut adalah para pemimpin generasi ketiga. Saat itu pemimpin adalah para pimpinan atas banyak kekuatan. Konsekuensinya, mereka harus banyak mengakomodasi kepentingan banyak kekuatan itu. Dan karena negara sudah tua, maka sering kali kutup pemikiran atau politik tak cuma satu. Masing-masing punya jago dan punya kepentingan masing-masing. Dan kondisi negara yang tua selalu mempunyai ciri khas: mewariskan materi yang melimpah, namun juga mewariskan konflik dan kadang pula hutang yang tidak sedikit (tak melulu hutang harta). Karena itu, jika yang terjadi adalah benturan antara dua pihak besar (yang masing-masing adalah gabungan dari banyak kekuatan), itu adalah hal yang biasa terjadi.

Lalu mengapa muncul negara baru?

Seiring dengan menangnya salah satu pihak yang bertikai, sebenarnya terjadi kelemahan di masing masing pihak. Tiap kekuatan baik di kubu yang menang maupun yang kalah akan semakin terpecah. Mereka masih memegang sisa-sisa kekuatan generasi sebelum mereka. Namun kekuatan mereka terpecah.. dan jumlah mereka banyak.. Mereka seperti anak-anak ayam yang kehilangan induknya. 
Mereka masih punya harta, masih punya jaringan, masih punya kekuatan. Namun ada satu yang tak lagi mereka punyai: visi. 

Mereka masih punya harapan akan perbaikan masyarakat ke depan. Namun mereka terjebak dalam lingkaran setan: konflik sengan kekuatan lain, kebingungan solusinya dan bagaimana melangkahnya, tuntutan untuk mengembalikan kehidupan masa lalu yang lebih baik. Namun, terus saja terjadi kondisi lingkaran setan: mereka tak mau dipimpin sesama mereka. Jika kita melihat film Omar, kita bisa membayangkan, bagaimana Amr bin Ash, Khalid bin Walid,, Shafwan bin Umayah, Ikrimah bin Abi Jahal, dan para “pangeran” Quraisy lain bisa memilih salah satu dari mereka jadi pemimpin yang lain? Sulit sekali. 



Kondisi mereka sebagai generasi “anak ayam kelihangan induk” sebenarnya haus akan hal-hal yang baru. Bukan hal yang duniawi karena itu mereka miliki. Namun hal-hal yang membuat mereka merasa terarah. Ibarat pasukan, mereka adalah para pemegang senjata, tetapi bingung ke mana senjata diarahkan. 

Kondisi mereka berbeda dengan kondisi ayah-ayah mereka. Perpecahan masih terbatas. Secara kolektif mereka mengendalikan harta dalam jumlah banyak. Sebelumnya mereka dari kaum yang dihormati banyak orang.. Mereka masih sanggup memilih pemimpin walau pemimpin itu tak lebih dari pemimppin persekutuan. Karena itulah Walid bin Mughirah, Abu Jahal, Umayah dll masih bisa bersatu, walau sering bergesekan. Karena itu pulalah berbagai partai di Indonesia masih bisa bersatu.

Lebih tepatnya, mereka dipaksa bersatu karena politik saling sandera. Lebih baik bersatu dibanding saling membunuh.. Daripada century, BLBI, hambalang, lapindo, jual murah gas ke China dll, terbongkar semua.

Namun hal itu seringkali tak lagi menjadi fenomena generasi berikutnya. Bayangkan ketika partai kuning pecahnya semakin banyak. Ketika partai merah dan biru nantinya tampaknya juga akan terpecah belah. Para penerus mereka mewarisi aset namun haus akan visi..
Dan negara baru selalu menghadirkan calon pemimpin bagi ayam yang kehilangan induk tadi: pihak yang mempunyai visi baru. 

Apalagi adanya orang-orang baru yang sangat bersahaja dan mempunyai daya juang tinggi, itu adalah hal yang baru bagi para “pangeran” tadi dan sangat mengagumkan bagi mereka. Untuk itulah mereka mau bergabung dan bersedia dipimpin. Fenomena ini sangat nampak di film Omar di mana Khalid bin Walid begitu mengagumi Bilal bin Rabbah, yang dicambuk begitu rupa tapi tetap tabah, hal yang tidak dipunyai teman-teman mereka, anak-anak pemimpin kaum. 

Atau dalam sirah nabi dinyatakan betapa Adi bin Hatim masuk Islam gara-gara hal sepele, yaitu karena melihat Rasulullah memilih duduk di lantai dan memberikan bantal duduknya ke dirinya. Atau dalam pembentukan masyarakat Madinah di mana Saad bin Mu’adz menawari Abdurrahman bin Auf harta melimpah bahkan mau menceraikan salah satu istrinya untuk dinikahi Ibnu Auf, tetapi Ibnu Auf hanya minta ditunjukkan jalan ke pasar.




Khusus bagi negara Islam, fenomenanya lebih kentara lagi: orang-orang ahlu dunia yang bertobat dan meninggalkan pemikiran lama mereka hanya mau dipimpin oleh orang-orang yang zuhud dunia dan begitu yakin akan pemikiran mereka. Ini adalah “hukum besi sejarah Islam”.

“Orang-orang yang siap di segala medan” adalah gambaran kaum yang zuhud terhadap dunia dan begitu yakin akan pemikiran mereka. Itulah yang saya bayangkan dari pesantren itu beberapa tahun mendatang. Mereka adalah para pengusung visi Islam masa depan.. Pada mereka tergabung kekuatan aktivis, ulama, dan kopassus. 

Matlas itu tak sekdar matlas. Tapi sarana penghantar terbentuknya kaum yang semacam itu. [Mo]





Posting Komentar