Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo


JAKARTA| Mediaoposisi.com-Heboh Partai Persatuan Indonesia (Perindo) balik arah bakal segera menyatakan dukungan ke Presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2019. Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Taufik Kurniawan memberikan komentarnya: "dukungan Perindo kepada Jokowi tidak bisa diartikan sudah bulat.

Baca Juga: Membaca Perindo, Hary Tanoe dan Permainan Jokowi

Peta dukungan dan sikap partai soal koalisi akan ditentukan oleh hasil uji materi ambang batas pencalonan Presiden 20-25 persen di Mahkamah Konstitusi (MK). Taufik menilai jika MK menganulir penerapan ambang batas pencalonan presiden maka akan terjadi pergeseran peta politik. 

"Tapi kalau kemudian diterima oleh MK, judicial review (uji materi) berartikan berubah tidak presidential threshold-nya pasti akan terjadi konstalasi yang baru," kata Taufik di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/8).

Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan

Selain itu, dia memprediksi bakal ada lebih dari dua calon presiden apabila MK memutuskan membatalkan angka ambang batas pencalonan Presiden 20 persen. 

"Saya sebut itu tergantung keputusan MK. Kalau MK kemudian menolak 20 (persen) itu lebih calon satu atau dua (capres). Untuk jaga stamina elektabilitas calon selama 8 bulan itu lama," terangnya. 
Sementara itu, Wakil Ketua DPR ini mengaku enggan mengomentari alasan Perindo mendukung Jokowi dikaitkan dengan kasus SMS bernada ancaman kepada Jaksa Yulianto yang dilakukan oleh Ketua Umum Hary Tanoesoedibjo. Menurutnya, keputusan mendukung Jokowi menjadi wewenang Perindo. 

Partai Perindo berencana mendukung Presiden Joko Widodo pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Sekretaris Jenderal Partai Perindo Ahmad Rofiq mengatakan dukungan kepada Jokowi akan diputuskan dalam rapimnas untuk kemudian ditetapkan dalam Kongres Perindo pada akhir tahun ini.

Sekjen Partai Perindo, Ahmad Rofiq
"Ada kesan kuat yang akan diusulkan adalah presiden yang sekarang, karena kemungkinan yang menang sekarang," kata Rofiq saat dihubungi, Rabu (2/8).
Rofiq mengklaim, rencana mendukung Jokowi merupakan aspirasi dari akar rumput partai. Suara itu yang diakomodir Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo dan dikaji kemudian diputus di rapimnas.
"Kami tidak bisa buat keputusan serta merta tanpa analisis, pasti ada analisis kuat berbagai macam pandangan," terangnya. 
Memilih Menyerah dan Kalah Sebelum Bertanding Untuk Cari Aman

Pengamat politik dan pendiri Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago menilai manuver politik Partai Perindo yang menyatakan akan mendukung Joko Widodo pada Pemilu 2019, tak lepas dari kasus hukum yang menjerat Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo. 

Selama ini, partai yang didirikan Hary Tanoe, yang juga bos MNC Group itu, kritis terhadap pemerintah. HT saat ini berstatus tersangka kasus dugaan ancaman melalui pesan singkat kepada Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto.


Kejaksaan Agung juga tengah menyelidiki tindak pidana korupsi terhadap pembayaran restitusi atas permohonan PT Mobile 8 Telecom tahun 2007-2008, yang diduga melibatkan Hary Tanoe sebagai komisaris di perusahaan tersebut.

Pangi Syarwi Chaniago
"Setelah HT (Hary Tanoesoedibjo) disandera kasus SMS dan menjadi tersangka, HT mulai berpikir rasional," kata Pangi kepada Kompas.com, Rabu (2/8/2017).

Hary Tanoe dan Perindo Menyerah Kalah Dan Pilih Jalan Aman

Jika terus menerus mengkritik pemerintah dan menjadi bagian oposisi, hal tersebut tidak baik bagi eksistensi Perindo dan nasib Hary sendiri.

"Ini kemenangan politik Jokowi. Akhirnya HT dan medianya, yang selama ini garang mengkritik kebijakan pemerintah menyerah tanpa syarat dan tersungkur di depan Jokowi," 

Pasti Ada Deal politik yang membuat Hary Tanoesoedibjo membawa partainya untuk mendukung Jokowi. namanya Juga Demokrasi pasti senantiasa ada transaksional

Mengutip Teori D Laswell,  Politik Selalu Bicara Apa, Dapat Apa, siapa, Bagaimana dan Di mana.

"Mungkin paling tidak sudah ada tim Jokowi yang menemui HT, ada deal ke arah itu. Karena memang MNC Group terlalu bising dan runcing runcing mengkritik pemerintah," kata Pangi.
"Tidak mungkin tidak ada deal-deal politik, apalagi HT menguasai media. Dugaan saya dukungan ke Jokowi berpotensi HT lolos atau selamat dari kasus hukum yang sedang menjeratnya," lanjut Direktur Eksekutif Voxpol Center ini.
Atau ini Sekenario Kedua 

Dari awal memang Perindo sengaja head to head dengan pemerintah agar nama Perindo naik dan disukai publik, mungkin ini caranya setelah Ahok tumbang, sebab HT dan Ahok adalah sama, sebelas duabelas, saat Ahok tumbang maka cadangan yang kedua adalah HT. Maka kita lihat saja kedepan jika Jokowi menggandeng HT sebagai Wapres di Pilpres 2019 maka jadilah orang bukan pribumi bisa berkuasa jadi Wapres dan lama-lama bisa jadi Presiden. Kita lihat saja karena politik dalam demokrasi penuh jurus dan trik serta berbagai cara di gunakan.


Hary Tanoe dan Donald Trum


Yang jelas rakyat Indonesia sudah cerdas, jangan mau di bohongi lagi, sebab jika lihat track record HT, maka sudah bisa di baca, bagaimana HT berloncat. dari Partai Nasdem, kemudian ke Partai Hanura lalu mendirikan Perindo. Sebuah Ambisi besar untuk berkuasa, dan dengan kejadian ini seharusnya menambah rakyat untuk sadar dan waspada. Karena dalam demokrasi pasti ada transaksional. lihat saja nanti Perindo belum bertanding akan di tinggal para calon pemilih sebab dari sikapnya saja sudah tidak konsisten. Karena semua Partai dalam arena permainan ini sama saja. [Mo]



Posting Komentar