Oleh: Sinyak

Sejarah adalah ingatan, apalah arti manusia jika tanpa ingatan? 
-Ahmad Mansur Suryanegara-

Kiriman Naskah, Media Oposisi- Runtuhnya tembok berlin pada 10 November 1989 silam merupakan pertanda berakhirnya polarisasi negara Jerman yang sebelumnya terbelah antara barat (blok kapitalis) dan timur (blok komunis) menjadi satu kembali. Tidak hanya Jerman, peristiwa itu juga merupakan pertanda lonceng kematian gerakan Komintern (komunisme internasional) dengan terhapusnya nama Uni Soviet -sebagai negara induk gerakan Komintern- diatas peta dunia yang berganti nama kembali menjadi Rusia.

Mundur sedikit kebelakang, sebelum peristiwa bersejarah itu terjadi, dunia masih mengingat betul rekam jejak serta geliat gerakan Komintern di berbagai belahan dunia. Kudeta-kudeta berdarah untuk mengambil kendali kekuasaan tak jarang mereka lakukan di berbagai negara, sebagian diantaranya menuai keberhasilan seperti Korea Utara, Cuba, kamboja, Venezuella, China, Vietnam, dsb. 

Disamping keberhasilan yang dicapai, dalam kasus negara-negara tertentu mereka harus bertekuk lutut dan menemui jalan buntu, salah satunya Indonesia. Akan tetapi, sekalipun kandas, luka-luka yang mereka goreskan dari usaha kudeta yang mereka lakukan masih membekas hingga hari ini. Usaha kudeta itu disertai pula penculikan dan penganiayaan serta pembunuhan sejumlah penduduk sipil, para ulama, santri, pejabat, dan polisi.

Kaum Merah dan Darah yang Bersimbah

Sederetan aksi-aksi yang dilakukan PKI dalam bentuk kekerasan terjadi di beberapa daerah diantaranya;  Tegal dan sekitarnya. pada penghujung tahun 1945, tepatnya oktober. kisah seorang Pemuda berjuluk Kutil (nama asli Sakyani), telah menyembelih seluruh pejabat pemerintah disana. 
Kota Lebak, Banten. Menjadi saksi Gerombolan Ce'Mamat yang berhasil menculik dan menyembelih bupati Lebak R.Hardiwinangun di jembatan sungai Cimancak pada tanggal 9 desember 1945.

Palu Arit Lambang Komunisme

Di Jakarta, kisah pembunuhan tokoh nasional Oto Iskandar Dinata yg dihabisi secara keji oleh laskar hitam ubel-ubel dari PKI, pada desember 1945 menjadi ingatan yang sampai hari ini tersimpan di dalam kepala generasi bangsa.

Di Sumatera Utara, PKI juga menumpas habis seluruh keluarga Istana Sultan Langkat Darul Aman di tanjung pura, pada maret 1946, serta merampas harta benda milik kerajaan. Dalam peristiwa ini, putra mahkota kerajaan Langkat, Amir Hamzah (banyak dikenal sebagai penyair), ikut tertumpas. Tak ada lagi penerus kerajaan Langkat.

Serta serangkaian panjang peristiwa lainnya termasuk tragedi Madiun 1948, serta upaya kudeta merebut kekuasaan yang dilakukan oleh Gestapu di penghujung tahun 1965.

Hal yang patut dingat juga, semua negara Komunis di dunia ini melakukan pembantaian dan penyembelihan kepada rakyatnya sendiri. 500.000 rakyat Rusia dibantai Lenin (1917-1923), 6.000.000 petani kulak Rusia dibantai Stalin (1929), 40.000.000 dibantai Stalin (1925-1953), 50.000.000 penduduk rakyat cina dibantai Mao Tse Tung (1947-1976), 2.500.000 rakyat Kamboja dibantai Pol Pot (1975-1979), 1.000.000 rakyat eropa timur di berbagai negara dibantai rezim Komunis setempat dibantu Rusia Soviet (1950-1980), 150.000 rakyat Amerika Latin dibantai rezim komunis disana, 1.700.000 rakyat diberbagai negara di Afrika dibantai rezim Komunis, dan 1.500.000 rakyat Afghanistan dibantai Najibullah (1978-1987).

Pol Pot Diktator Kamboja Berwajah Lugu

Selengkapnya bisa anda lihat dalam buku Ayat-ayat yang Disembelih, Sejarah Banjir darah para Kyai, Santri, dan penjaga NKRI oleh aksi-aksi PKI. Penerbit Cordoba, tahun 2015. Karya: Anab Afifi dan Thowaf Zuharon.

PKI dan jaringan Komintern-nya memang telah sirna, namun sebagai sebuah ideologi, sosialisme-komunisme akan terus hidup dan mencari para pengembannya, terlebih lagi hingga hari ini negara-negara bekas afiliasi soviet masih tetap menerapkan komunisme dan eksis dalam kancah internasional. Disamping itu, wacana sosialisme-komunisme di Indonesia masih mendapatkan tempat dan berkembang pesat diberbagai kalangan, mulai dari seniman, budayawan, mahasiswa, akademisi, bahkan politisi yang mendapatkan kursi dalam kabinet Jokowi. Bahaya laten komunisme inilah yang sering diingatkan oleh para pengamat, ulama serta tokoh umat agar jangan sampai kembali mendapatkan ruang di bumi pertiwi, atau luka lama yang pernah menyayat tubuh dan memilu hati akan terkelupas kembali.

Jokowi Tidak Mendengar

Bagaikan memberi peringatan kepada orang pikun, rentetan kejadian politik beberapa hari terakhir menunjukkan rezim yang sedang berkuasa dinegeri ini layaknya orang yang pikun belum pada umurnya. Alih-alih mengindahkan peringatan yang disampaikan oleh para pengamat dan tokoh umat tentang bahaya laten komunisme. Pada Rabu 23 Agustus kemarin, Rezim Jokowi menerima dengan hangat kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam, Nguyen Phu Trong. 

Serta menjalin kerjasama dengan mentanda-tangani lima nota kesepahaman (MoU) dan satu Letter of Intent (LoI) di berbagai sektor strategis, diantaranya yang perlu kita soroti bersama ialah kerjasama pendidikan dan eksplorasi gas alam. Mengapa? Karena Dalam perspektif politik, jika sebuah negara atau kelompok ideologis bertandang ke negara lain, selalu ada dua motif yang digandeng bersamanya, pertama motif politik untuk menyebarkan ide dan gagasanya dan kedua motif bisnis untuk menguasai ekonomi atau SDA negara lainnya. Inilah yang perlu kita waspadai!

Disamping itu, sikap Rezim yang mengusung jargon “pro rakyat” bertolak belakang dengan apa yang diderita rakyat selama era kepemimpinannya, bukannya mengeluarkan aturan yang mensejahterakan rakyat, namun malah menindas dan menginjak-injak rakyat (naiknya TDL, impor pangan yang meneyebabkan Harga kebutuhan pokok melonjak, dsb.), parahnya lagi sikap politik yang ditampilkan  Rezim semakin memberi ruang untuk para korporat mengembangkan bisnisnya di negeri ini.

Dari Kurirnya James Riady hingga Hati Umat yang Tersakiti

Belum lagi redam polemik Perppu Ormas yang dikeluarkan Jokowi pada 10 Juli kemarin yang sarat dengan nafsu membabi buta untuk menghabisi ormas-ormas islam yang dituduh “Anti Pancasila”, Rezim bermuka lugu namun berhati bengis ini kembali menyayat hati umat. 

Dana haji yang merupakan amanah umat untuk digunakan dalam ibadah tahunan tersebut, dialih fungsikan dalam bentuk investasi pembangunan infrastruktur. Kejamnya, dana tersebut ditengarai diinvestasikan ke dalam proyek “Meikarta”, sebuah kota elite nan strategis yang terletak di Bekasi, tepatnya ditepi jalan tol yang menghubungkan dua kota metropolitan Jakarta-bandung, serta proyek-proyek infrastruktur yang berada disekitar kota masa depan milik Lippo Group, perusahaan bisnis raksasa kepunyaan taipan James Riady.

Culasya lagi, Proyek “Meikarta” tersebut tak lolos AMDAL dan belum mendapatkan izin dari Pemerintah Jawa barat, namun pekerjaannya telah dimulai sejak 2014 silam. Bahkan sebagian besar pengamat mengatakan proyek tersebut layaknya kudeta negara atau seperti negara dalam negara. Maka tanda tanya besar masyarakat akan sikap Pemerintahan pusat yang direpresentasikan kepada sosok Jokowi yang urung untuk angkat bicara terhadap proyek illegal sebesar 278 Triliyun tersebut, terjawab sudah.

Sungguh nyata, rezim hari ini benar-benar telah menunjukkan wajah aslinya, bahwa dia adalah seorang antek Komunis dan kurirnya para kapitalis!. Sadarlah kawan, bergeraklah kita, sebelum kebiadaban Rezim hari ini semakin menggila!. [Mo]

Posting Komentar