Oleh Don Zakiyamani 
Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)


Media Oposisi- Mungkin bila kita melihat wajah Ferdinad Marcos tampak kampungan bahkan bila ia berpakaian terlihat biasa saja bahkan tak tampak bahwa ia seorang Presiden. Namun siapa sangka dia merupakan salah satu pemimpin diktator yang ditakuti karena kekejaman akan kebijakan rezim yang dipimpinya. Marcos membuktikan tak harus berwajah seram untuk menjadi diktator.

Regulasi kepemimpinan yang absolute power lah sebagai sebab seorang kepala negara diktator. Marcos menangkap lawan politik, memberangus media serta apapun yang merintangi jalannya. Zaman digital cara-cara ini lebih soft dengan subtansi yang sama, mendikte dan mendominasi kebenaran.

Seorang diktator dizaman sosial media selalu menggunakan dalih pembenaran yang dianggap kebenaran. Media tak perlu diberangus namun cukup dibeli sehingga pemberitaan akan selalu membela sang diktator dan kepentingan politiknya. Para pendukungnya yang akan bertarung ditataran awam.

Diktator dengan wajah lugu mampu mengelabui, bukan hanya mengelabui sistem akan tetapi mengelabui rakyat yang tak cerdas. Dia mampu menciptakan situasi yang memberinya jalan menerbitkan regulasi untuk mengekang kebebasan berpendapat, berserikat maupun menghabisi lawan politiknya.

Maling teriak maling memang masih berlaku, bedanya maling dengan kekuasaan akan selalu dipuji dan melawan maling dianggap makar serta sebutan lainnya. Kekuasaannya semakin absolute dengan adanya regulasi yang diterbitkannya sendiri. Para pemujanya akan terus melihat subjektifitas, yang memegang kebenaran akan dipojokkan.

Neo-Dictator akan selalu memanfaatkan media massa sebagai juru bicaranya. Uang yang diberikan kepada media akan mampu mengubah kenyataan menjadi halusinasi serta sebaliknya demikian. Inilah yang menjadikan neo-dictator sulit ditumbangkan, perang pemikiran memang membutuhkan orang-orang cerdas bukan sekedar pemberani saja.

Mereka yang melawan hanya dengan keberanian akan dianggap kelompok radikal hingga disebut makar. Sementara mereka yang cerdas namun tak memiliki keberanian akan dihadang dengan dirinya sendiri, akhirnya neo-dictator akan terus berkuasa.

Neo-dictator kadang akan bersandiwara sebagai victim (korban). Rasa iba dari pendukungnya yang tak cerdas akan dimanfaatkan media-media bayarannya. Lagi-lagi akan terbit aturan yang kemudian bakal mendapat dukungan. Pola neo-dictator dalam sistim demokrasi memang harus begitu.

Tak banyak yang mampu menganalisa tindakan-tindakan neo-dictator, semua sudah disusun dengan sangat rapi. Logical fallacy terkait diktator ialah pembunuhan secara fisik, pemberangusan media massa, militeristik. Padahal cara-cara lama itu tidak lagi digunakan.

Cara-cara konvensional diktator yang mengekang fisik dan pemikiran sudah diganti dengan tekhnik framing, brainstroming, proganda. Sejauh ini cara-cara tersebut sudah sukses mengkondisi kelompok penguasa sebagai yang paling benar. Efeknya hanya segelintir yang berani mengatakan kebenaran dan bergerak melawan.

Kelompok intelektual muda seperti mahasiswa terpolarisasi, ormas Islam terpecah dalam berpendapat, kondisi itu bukan tanpa sebab namun terencana. Masing-masing berpikir dan bertindak atas azas profit for me and for us. Situasi yang disenangi kapitalisme sebagai donor utama neo-dictator.

Amerika Serikat dan China telah lama mengaplikasi hal tersebut, keduanya rutin melakukan gejolak politik dan ekonomi dunia. Neo-Dictator yang masih mungil belum menyentuh global akan tetapi pada rakyatnya sendiri. Kekuasaan yang mendominasi bertujuan membuka pintu masuk bagi Asing.

Pertanyaan bersama bagi anak bangsa, maukah kita terus diadu oleh neo-dictator. Siapkah kita menguji regulasi-regulasi yang mengarah pada pengekangan hak-hak sipil bahkan meremehkan regulasi agama. Mari kita memilah dan memilih antara kepentingan personal needed dan community needed.[Mo]

Posting Komentar