Mempertanyakan Kemerdekaan

Oleh Maulana (Ketua BEM STEI Hamfara)

CP : 0899-3203-033 (WA Only)

Agustus identik perayaan meriah kemerdekaan negara yang katanya Zamrud Khatulistiwa. Kelesuan daya beli nampak hanya ilusi ketika kita melihat meriahnya lomba lomba memperingati kemerdekaan,
Ribuan trilliun hutang nampak tidak menjadi beban pikiran bagi negara saat kita melihat meriahnya perayaan kemerdekaan Indonesia. Megahnya gapura gapura yang dicat merah putih seolah meberikan senyum kepada masyarakat yang dihantui beban pajak,serta bergairahnya malam tirakatan seolah melupakan masyarakat terhadap kenaikan TDL. Rutinitas yang berulang tiap tahun ini selalu diakhiri dengan doa untuk Indoensia yang lebih baik.

Setelah perayaan kemerdekaan,lantas apa ? Kembali lagi masyarakat harus berjuang keras melawan kondisi perekonomian yang menguntungkan segelintir pihak. Berdasarkan laporan Oxfan Indonesia dan International NGO Froum On Indonesia Development (INFID),ketimpangan ekonomi di Indonesia berada di posisi enam terburuk di Indonesia. Tak hanya itu,dalam laporan tersebut juga menyatakan bahwa kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia setara dengan 100 juta orang (kompas.com)


Benarkah kita sudah merdeka ?

Ironi bila menyoroti perekonomian Indonesia yang telah merdeka berpuluh tahun lalu bangga berteriak merdeka. Negeri yang kaya ini seolah lupa bahwa dirinya kaya, Indonesia justru enggan mengelola kekayaan alamnya berdasarkan UUD Pasal 33. PT Freeport sedang dalam proses negosiasi untuk memperpanjang cengkramannya di Indonesia hingga 2041. Pemerintah sendiri tidak bisa berbuat banyak dengan kekuatannya,mengingat PT Freeport telah berinvestasi besar di Indonesia dan memiliki senjata berupa dukungan Amerika Serikat.

Benarkah kita sudah merdeka ?

Hutang 4.000 Trilliun plus plus dan masih akan bertambah menyisakan tanda tanya besar di kepala kita. Dimakanah kekayaan alam yang lain,sehingga pemerintah rajin berhutang untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Preisiden Jokowi sendiri pernah mengungkapkan bahwa potensi laut Indonesia berniali 17 Ribu Trilliun per tahun.

Lucu sekali bila pemerintah mengincar dana haji untuk membiayai pembangunan infrasturktur lalu membiarkan swasta mengeruk kekayaan alam Indonesia dengan berbagai kedok.

Laut kita luas, namun impor garam konsumsi senilai 75 ribu ton sukses menghasilkan tanda tanya besar. Apapun dalih dan alasan dari stakeholder untuk menghalalkan impor garam selama tidak ada itikad baik untuk meningkatkan produksi galam dalam negeri,maka kemerdekaan hanyalah retorika semata.

Bila berdalih karena kualitas garam lokal masih rendah,quo vadis itikad pemerintah untuk memberikan inestif perguruan tinggi dan BPPT Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi diberi insentif untuk menelurkan teknologi mutakhir untuk meningkatkan kualitas dan produksi garam lokal.


Masihkah kita berani teriak merdeka, sedangkan tahun 2017,pemerintah harus membayar jatuh tempo hutang senilai 500 T dan tahun depan jatuh tempo hutang Indonesia sejumlah 800 T.

Masihkah kita merdeka sedangkan ekonomi kita terjajah ?

Tak heran,teriakan merdeka mbahmu sering terdengar !

Lantas kita harus apa ?

Mari kita duduk bersama dan diskusikan solusi untuk negeri ini. Tulisan tidak akan bisa menuliskan indahnya solusi komprehensif untuk kemerdekaan sesungguhnya negeri ini. [MO]

Posting Komentar