Kebijakan Full Day School banyak menuai protes terutama kalangan NU



Oleh: Ipoel Simatoepang 
Penikmat Pendidikan

Kiriman Naskah| Media Oposisi- Hari-hari ini ramai sekali ajakan penolakan full day school dari beberapa pihak yang sementara kalau dilihat dari intinya adalah merasa ketakutan terancamnya eksistensi lembaganya.

Ketakutan adalah hantu yang diciptakan sendiri untuk mencekam pemikiran secara individu yang terus menerus digelorakan agar terus menerus menggerogoti hari dan perasaan manusia.

Ketika ketakutan itu sudah mencekam kuat, maka perasaan itu akan terus dibawa melampaui kalbu yang berdesir di otak bawah sadar manusia.

Sepertinya inilah yang terjadi pada penolakan full day school, ada kekhawatiran buyarnya sistem Pendidikan yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat dan sudah berlangsung lama.

Apakah dengan adanya FDS akan memberangus madrasah diniyah? Pertanyaan ini dengan sendirinya sudah terjawab, bahwa kehadiran FDS tidak akan berpengaruh kepada keberadaan madrasah diniyah dan ini sudah terbukti sejak era 90 an sampai hari ini dengan berjamurnya FDS tidak ada madrasah diniyah yang tutup.

Mengacu pada SDIT Tebuireng yang melaksanakan Full Day School di Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang. Sekolah ini adalah sekolah FDS di bawah pondok pesantren Tebuireng Jombang Jatim dan sudah 4 tahun berjalan.

Apakah dengan kehadiran FDS SDIT bisa menutup program madin di daerah itu?? Sampai hari ini tidak ada laporan tutupnya kegiatan madin, TPQ dll. 

Madin sebagai sistem Pendidikan yg sudah tua di Indonesia tentunya sudah memiliki basis yang kuat dan tidak akan kelang oleh kemajuan zaman termasuk tawaran sistem Pendidikan FDS yang digagas oleh pemerintah sekarang.

Bahkan ada tulisan yang menyebutkan bahwa jadi gepeng itu tidak ada lulusan dari madin. Termasuk sisi keberhasilan mencetak pelaku-pelaku ekonomi yang tangguh adalah jebolan madin dan ponpes.

Sisi keberhasilan madin dan ponpes yang sudah luar biasa ini sudah pasti memiliki sistem yang tangguh dalam perjalanan Pendidikan yang hebat ini. Sehingga ketika menghadapi tawaran sistem Pendidikan yang baru pasti tidak akan goyah.

Keberhasilan inilah yang menjadi titik tumpu dalam melaksanakan keberhasilan manajemen madin dan ponpes.

Belum ada cerita sejak zaman belanda sampai zaman kemerdekaan, Bahkan sampai hari ini ada berita ponpes dan madin tutup karena adanya sekolah-sekoah negeri. Ini membuktikan bahwa ponpes dan madin adalah sistem Pendidikan yang kuat menghadapi perubahan.

Kurang berat apa ketika zaman penjajahan belanda apa yang dialami oleh ponpes dan madin ketika mereka dapat tekanan yang begitu kuat. Kenyataannya jumlah ponpes dan madin semakin bertambah banyak dan semakin menunjukkan kehebatannya.

Setiap tahun jumlah ponpes dan madin semakin meningkat jumlahnya sampai di penjuru manapun. Ini menunjukkan bahwa sistem ini tidak akan goyah menghadapi kondisi apapun.

Kalau sekarang ini ada orang yang takut terus mempengaruhi orang lain untuk menantang kebijakan baru yang seolah-olah itu akan menutup eksistensi madin, maka orang itu masih belum yakin kalau ponpes dan madin adalah jawaban Pendidikan masa depan

Dengan mengajak menolak rame-rame kebijakan FDS menunjukkan betapa kelas pendidikannya yang dikelola masih belum mapan dan bisa dengan mudah digoyang oleh situasi tertentu yang muncul tidak terduga.

Bahwa seolah-olah dengan kebijakan baru itu akan menutup rezeki guru-guru, Hal ini menunjukkan bahwa dengan keadaan ini manusia tidak melihat Sang Maha Kaya pemberi  rezeki adalah Alloh SWT.

Mempertahankan sistem yang sudah diakui kehebatannya adalah cerminan orang yang kuat dalam mengelola pendidikan yang tidak gentar menghadapi zaman yang terus berubah.

Marilah kita lihat Pondok Gontor apapun yang menjadi kebijakan Pendidikan sepertinya tidak berpengaruh kepada sistem yang kuat dalam menghadapi zaman.

Jangan sampai dengan penentangan yang menggebu-gebu dan mengajak menolak rame-rame. Malah menunjukkan bahwa lembaga yang dikelola memang tidak berkualitas.

Segmentasi di dunia Pendidikan sudah mesti terjadi. Orang yang merasa berhasil dengan Pendidikan Pondok dan diniyah yang dilalui tidak akan dengan mudah memindahkan pilihannya ke lembaga lain.

Dari kakek sampai ke cucunya sudah pasti akan memilih mondokkan dan ke madin bagi anak-anak mereka.

Ponpes dan madin adalah lembaga yang hebat. Jadi gak usah takut yang berlebihan menghadapi FDS. Kalau takut berlebihan justru akan menjadi penyakit karena merasa dihantui kebijakan yang tidak berefek kepada Pendidikan Pondok pesantren dan madrasah diniyah yang sudah menelurkan orang-orang hebat di seluruh dunia. [Mo]

Wassalam

Posting Komentar