Oleh: Ipoel Simatoepang 
Penikmat Pendidikan

Sudah cukuplah usia kemerdekaan Indonesia yang ke 72 ini. Usia kemerdekaan yang diperoleh dari cucuran darah para syuhada yang berjuan meraih kemerdekaan selama ratusan tahun tanpa mengenal lelah untuk melepaskan dari kesengsaraan penjajahan yang begitu bengis dari para penjajah dan antek-anteknya.

Usia kemerdekaan yang sudah puluhan tahun dan sampai hari ini bisa dinikmati hasil kemerdekaan oleh generasi yang tidak pernah mengalami sengsaranya di jajah oleh penjajah dan generasi yang tidak pernah merasakan  perjuangan dari para syuhada ini.

Sudah 72 tahun bangsa Indonesia sudah bisa menikmati pendiidkan yang bisa dikelola secara mandiri oleh negara sesuai kebutuhan rakyatnya agar memiliki kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengiringi perjalanan kemerdekaan.

Bila melihat usia kemerdekaan dan usia pendidkan yang sudah berjalan 72 tahun ini. Apakah signifikansi dan relevansi dari kemajuan Indonesia sekarang ini? Apakah sudah bisa membangun generasi yang bisa mengenal dirinya sendiri sebelum mengenal orang lain?.

Kualitas SDM dari hasil pendidkan yang sudah berjalan 72 tahun ini apakah sudah dapat dirasakan bagi pengembangan negara ini? hasil dari pendidkan yang menjadikan manusia bermartabat dan memartabatkan manusia yang lain?.

Kekuatan individual dan menguatkan kelompoknya apakah dilakukan untuk kepentingan kelompoknya sudah dilihat secara nyata dari segenap pertarungan kepentingan yang melukai hasil pendidikan.

Hasil pendidikan sudah melahirkan sekian Presiden dan wakil Presiden yang memimpin negara menuju masyarakat yang adil dan makmur. Apakah sampai kepemimpinan Presiden sekarang ini, apakah rakyat semakin makmur?? Apakah justru semakin tergusur?

Hasil pendidikan sudah menghasilkan pemimpin setingkat menteri. Apakah kementerian sudah berpihak kepada rakyat?Apakah kebijakannya sudah memberi kemakmuran rakyat? Kemakmuran yang bisa menjangkau kebutuhan hidup hajat orang banyak. Rakyat yang dimudahkan untuk memperoleh kebutuhan primer.

Hasil pendidkan sudah melahirkan para penegak hukum di Indonesia dengan terisinya semua jabatan yang ada di seluruh kementrian dan lembaga penegak hukum yang lain. Apakah rakyat sudah merasakan keadilan hukum di Indonesia? Keadilan hukum yang tidak berpihak kepada siapapun kecuali kepada kebenaran. Kebenaran hakiki dari hukum buatan manusia adalah cacat yang dipersepsikan sesuai kehendak manusia yang culas dan penuh ketimpangan. Kenyataannya banyak kasus hukum yang tidak mendasari sisi kemanusiaan dari hasil keputusan hukum itu sendiri.

Kepolisian sebagai salah satu komponen pengayom masyarakat sudah tentu kehadirannya sangatlah penting bagi tegaknya sistem keamanan di masyarakat. Apakah hasil pendidikan di kepolisian ini sudah bisa memberikan rasa aman di masyarakat? Apalah masyarakat merasakan itu?? Apakah masyarakat memiliki internet yang tinggi dari kehadiran polisi yang peran kebaikannya ditunggu rakyat dengan hati yang lapang.

Tentara Nasional Indonesia yang menjadi tulang punggung keamanan negara sampai sekarang selalu menjadi tumpuan masyarakat dalam memperoleh rasa aman. Apakah sudah memberi rasa aman?

Perguruan tinggi juga sudah menghasilakan jutaan sarjana yang tersebar di segala bidang kehidupan dengan berbagai macam jurusan untuk memenuhi kebutuhan kerja. Apakah para sarjana sudah menjadikan diri menjadi lulusan yang baik? Dari segi Afektif, kognitif dan psikomotorik?

Melihat kondisi negara hari-hari ini perlulah saling mengaca diri seluruh komponen negeri ini. Apakah selama puluhan tahun hasil pendidikan memang hanya sebatas ini? Hasil yang menguatkan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme di segala bidang kehidupan.

Apakah kondisi ini tidak dirasakan okeh seluruh komponen negara? Apakah pura-pura tidak merasakan kondisi ini dan memperlihatkan sikap masa bodoh??

Sambil mengingat-ngingat para tokoh yang memberikan masukan kepada negara terus mereka dijadikan tersangka.

Perlu menangisi hasil pendidikan Indonesia pada refleksi kemerdekaan yang ke 72 tahun ini. 

Ketika kebenaran di mata umum yang harusnya benar bisa menjadi tidak benar oleh pihak lain. Tiba-tiba kebenaran hanya menjadi milik kelompok tertentu dengan kacamata versi sendiri dan kelompoknya.

Hasil pendidkan yang tidak bisa menjadikan manusia untuk saling asih, asah dan asuh pada perilaku sehari-hari setiap insan yang hidup di Indonesia.

Hasil pendidkan yang sudah puluhan tahun namun partai politik dan pejabat justru menjadi tersangka korupsi yang tidak kunjung habis, bahkan setiap tahun terus bertambah jumlahnya. Lalu apakah hasil pendidkan yang bisa dibanggakan?

Saatnya menangisi pendidkan di Indonesia yang justru hasil lulusannya tidak menjadi solusi malah menjadi penumpukan masalah-masalah besar bagi bangsa ini ternyata menunjukkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Kemerdekaan yang sudah ke 72 yang diperingati harusnya menjadi titik balik setiap individu untuk memperbaiki kualitasnya dengan menjadikan basis belajarnya agar dapat menampilkan hasil pendidikan. Agar mampu merubah keadaan terbebas dari kungkungan penjajahan sistem yang membuat kita tidak merdeka. Kapitalisme, Sekulerisme harus segera diakhiri agar kemerdekaan hakiki bisa tercapai.[Mo]

Wassalam

Posting Komentar