Presiden Jokowi



Spesial Redaksi| Mediaoposisi.com- Gegap gempita sepakbola dalam SEA Games sudah selesai, seolah tampak tak ada masalah regional yang harus dihadapi selain saling menghujat urusan sepak bola. SEA Games berhasil mengalihkan perhatian umat Islam dari kekejaman yang dilakukan oleh Myanmar pada kaum muslim Rohingya. Khususnya saat Indonesia berhadapan dengan Myanmar dalam perebutan tempat ketiga. Kita tersenyum kepada negara pembantai umat Islam. 

Berdasarkan penelusuran Mediaoposisi.com, dikutip dari Kiblat.net, hingga Selasa (29/8) sudah 2000 umat Muslim Rohingya dibantai oleh militer Myanmar. Tak puas membantai pria,militer Myanmar tega membantai, wanita, anak-anak bahkan bayi sekalipun tak lepas dari ancaman pelor militer Myanmar.

Masyarakat Muslim Rohingya 

Pembiaran yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap kejahatan di Rohingya dinilai merupakan sebuah paradoks,mengingat Aung San Suu Kyi yang merupakan orang penting di pemerintahan Myanmar telah mendapatkan Nobel Perdamaian.


sang peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi

Ketua Komisi I DPR RI Abdul Kharis Almasyhari mengecam diamnya Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi diam saat pembantaian Muslim Rohingya terjadi. Padahal, ia adalah pemegang nobel perdamaian 

“Kenapa sang peraih Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi diam? Apakah beliau takut kehilangan banyak suara dalam pemilihan umum atau sesungguhnya kelompok ‘pro-demokrasi’. Kita harus mengetuk hati negara-negara dunia,” katanya dalam rilis yang diterima Kiblat.net pada Ahad (28/08)

Disisi lain, Muhammadiyah mendesak pemerintah lebih berani dalam menyikapi kekejaman Militer Myanmar.
Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman


“Pemerintah harus beri sikap yang tegas, kalau perlu harus melakukan tindakan-tindakan aksi, misal mengirim delegasi, atau bantuan kemanusiaan,” ungkap Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Pedri Kasman di gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (29/08).

Namun Pedri Kasman menegaskan bahwa pemerintah harus lebih jantan dalam menyikapi masalah yang tak kunjung usai ini.

“Tapi saya kira, akan lebih efektif yaitu soal keberanian tindakan pemerintah soal itu,” imbuhnyaa.

Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini, menyatakan kesedihan, kepedihan, dan keprihatinan yang mendalam atas tragedi pembantaian Muslim Rohingya di distrik atau kawasan Rakhine, Myanmar.

“Apa yang terjadi di Rohingnya sangat menyedihkan, di luar akal sehat dan nurani kemanusiaan kita yang beradab, sehingga tidak bisa lagi ditolelir,” katanya dalam rilis yang diterima Kiblat.net pada Selasa (29/08).

Selain menggalang dana untuk membantu korban di Rohingya,Ia pun mendesak pemerintah untuk lebih tegas terhadap kebrutalan yang menyasar umat Islam ini.

“Kami di Fraksi PKS akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu saudara-saudara kita di sana melalui berbagai saluran dan kewenangan yang kami miliki, semata-mata atas nama kemanusiaan yang adil dan beradab,” pungkas Jazuli.

Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Rofi’ Munawar senada dengan Jazuli.
Ia juga mendesak pemerintah Indonesia untuk terus mengambil peran aktif, guna mendukung penghentian kasus kemanusiaan itu. Yang saat ini sedang terjadi terhadap etnis muslim Rohingya.

“Disamping itu ASEAN, khususnya Indonesia harus mengambil peran aktif untuk menghentikan krisis ini, karena sejatinya telah melanggar prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Jika tidak dilakukan segera maka dikhawatirkan akan jatuh korban yang lebih banyak lagi,” ujar politisi dari fraksi PKS ini.

Jokowi

Beranikah Jokowi bersikap tegas terhadap Myanmar ? Mengingat sejauh ini belum dilakukan kebijakan politik luar negeri yang berani dari Indonesia untuk membuktikan manusnya Nawacita. Dalam butir pertama dari Nawacita disebutkan pula bahwa

“Kami akan memperkuat peran Indonesia dalam kerja sama global dan regional untuk membangun saling pengertian antar peradaban, memajukan demokrasi dan perdamaian dunia, meningkatkan kerja sama pembangunan Selatan-Selatan, dan mengatasi masalah-masalah global yang mengancam umat manusia.


sumber :  


Posting Komentar