Oleh Don Zakiyamani
Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)


Media Oposisi- Secara formal Indonesia telah merdeka selama 72 tahun, namun secara subtansi Indonesia belum bisa dikatakan sebagai negara mandiri yang berarti belum merdeka. Namun demikian kita patut bersyukur atas dideklarasikannya kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Bila dibandingkan dengan Declaration of Independence yang membutuhkan 57 orang penandatangan, proklamasi 17 Agustus 1945 lebih efisien. Selain hanya butuh dua orang penandatangan, proklamasi kemerdekaan Indonesia hanya membutuhkan 23 kata.

Teks proklamasi kemerdekaan dimulai dengan pernyataan bahwa kemerdekaan adalah sebuah hak. Itu artinya sesuatu yang wajib diperjuangkan apapun taruhan dan resikonya. Kemerdekaan merupakan hak azasi manusia, hak dasar manusia yang bukan pemberian sebuah institusi akan tetapi pemberian Tuhan seru sekalian alam.

Kemerdekaan merupakan fitrah manusia yang dengan sendirinya wajib dilaksanakan. Islam dan semua agama yang diakui sangat konsen akan hak azasi yang satu ini. John Locke memandang HAM yang satu ini sebagai pemberian Tuhan sehingga merampasnya merupakan kemungkaran.

Salah satu agenda besar Nabi Muhammad SAW adalah melawan perbudakan, artinya pembebasan manusia dari segala bentuk penjajahan. Manusia memang diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal bukan saling menjajah.

Sebagai sebuah bangsa yang terdiri dari bermacam-macam suku, Indonesia harus merdeka dan itu bukan pemberian siapapun akan tetapi anugerah Tuhan yang harus diperjuangkan. Bangsa Indonesia patut bersyukur dengan kemandirian disegala sektor kehidupan.

Bangsa merdeka adalah yang mampu memutuskan visinya tanpa intervensi bangsa lain. Hubungan bilateral, regional dan multilateral harus sama tinggi, sama rendah dan sama-sama menguntungkan. There is no intervensi yang hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya.

Bangsa besar bukan hanya bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya akan tetapi bangsa yang mampu mandiri secara ekonomi. Kemandirian ekonomi akan menempatkan sebuah bangsa pada posisi idealnya. Bila tidak bangsa tersebut bisa terjajah secara politik dan sektor kehidupan lainnya.

Konsekuensi sebuah bangsa yang belum mandiri secara ekonomi walaupun secara formal telah merdeka adalah lahir sebuah negara boneka. Indonesia benar telah mendeklarasikan diri merdeka selama 72 tahun namun secara masih belum mandiri secara ekonomi.

23 kata pengubah Indonesia itu ternyata belum benar-benar dipahami pemimpin bangsa ini. Melimpahnya sumber daya alam belum mampu diurus dengan benar, ribuan bahkan jutaan ahli ekonomi belum mampu memandirikan ekonomi bangsa hingga saat ini.

Ekonomi Indonesia masih diatur asing dengan segala regulasi yang menyandera bangsa ini. Bangsa Indonesia diharuskan ikut aturan main kapitalis, kita terus menjadi target eksploitasi negara-negara kapitalis. Impor menjadi kewajiban pemerintahan boneka dan lemah, utang harus terus dilakukan dengan berbagai alasan tidak logis.

Peringatan Soekarno bahwa kita bakal menghadapi bangsa sendiri kini terjawab sudah. Para ilmuwan menjual ilmunya, pemimpin menggadaikan kuasanya dan aktivis menjual rakyat dengan rupiah dan jabatan dipemerintahan. Kita tak lagi bersyukur dengan 23 kata pengubah bangsa ini.

Kita kesulitan memaknai teks proklamasi yang bernilai nasionalis-religius. Dampaknya kita hanya paham kemerdekaan secara formal tanpa paham subtansi 23 kata tersebut. Kita lupa bahwa mengatur ekonomi dan politik sendiri adalah hak azasi manusia.

Nabi Muhammad SAW telah sejak lama mengingatkan akan bahaya orang-orang munafik. Hal itu senada dengan pernyataan Soekarno, bangsa ini sedang dikuasai orang-orang munafik. Wajib bagi kita semua, secara agama maupun konstitusi untuk melawannya dan momentum 17 Agustus 2017 harus kita jadikan awal revolusi kesadaran memaknai 23 kata tersebut. [Mo]

Posting Komentar