PERPPU REPRESIF, FACEBOOK, DAN KEKUASAAN
Oleh : Tachta Rizqi Yuandri (Mantan Wartawan Pikiran Rakyat)

Mediaoposisi.com- Tulisan ini saya buat setelah kedua kalinya mendapatkan 1K pada tulisan saya. Pertama adalah 'MENDADAK NULIS' yang mendapat 1,4 K. Berikutnya adalah 'CARA MENGHENTIKAN DAKWAH MANTAN ANGGOTA HTI DAN STOP OPINI KHILAFAH', yang pada hari ke-4 ini sudah mendapatkan 1K. Bagi para penulis populer, mungkin 1K adalah biasa. Tapi bagi saya, 1K kedua, merupakan tanda bagi saya untuk membuat 1K ketiga.
Namun demikian, tulisan ini saya buat bukan dengan maksud untuk mendapatkan 'hat-trick' 1K pada kolom 'like'. Tulisan ini saya buat untuk mendorong 1K berikutnya bukan dalam bentuk like dan share, tapi dalam bentuk tulisan kembali. Dan setiap tulisan tersebut menginspirasi untuk memunculkan 1K tulisan berikutnya. Dengan demikian, jutaan tulisan akan muncul. Bayangkan bila setiap jutaan tulisan itu dibaca oleh 1K orang. Silakan hitung sendiri, hati-hati salah hitung tiba-tiba muncul angka 10 triliun.
Lalu mengapa sebuah tulisan menjadi sangat penting? Tentu Anda bisa mencari ribuan jawaban dengan cara googling.

Google Ilustrasi


Versi saya, kenapa saat ini tulisan menjadi sangat penting, karena kita telah terpilih untuk hidup di masa ini. Masa di mana akhirnya masyarakat berada dalam posisi agak seimbang dengan media massa. Agak seimbang dalam hal memengaruhi masyarakat lainnya.

Media massa bukan lagi 'tuhan' nya informasi. Berbeda dengan zaman ketika saya masih gemar memakan 'krip-krip' sambil ikut nonton serial 'Macgyver' atau 'Knight Rider' di rumah ibu pemilik kontrakan pada awal 90an.

Saat ini, masyarakat mulai mengimbangi informasi yang diterima oleh dirinya. Mereka mulai melirik medsos, tempat 'pertarungan' informasi berada. Banyak informasi penting justru berawal dari medsos, bukan dari media massa. Saat ini, bahkan medsos menjadi salah satu rujukan media massa dalam mencari informasi.

Pernahkah terpikir, bila Perppu Ormas lahir pada saat itu? Saat di mana saya masih ikut nonton di rumah ibu kontrakan. Saya menduga kuat, bisa jadi sebagian besar aktivis HTI sudah dijebloskan ke penjara-penjara. Bahkan sebagian lainnya mungkin ditangkapi masyarakat, dengan berbagai tuduhan, termasuk tuduhan yang saat ini paling sering dimanfaatkan dan dimainkan oleh pihak pembenci HTI, yakni tuduhan 'Anti-Pancasila'.
Sebab, pada saat itu, media massa masih menjadi satu-satunya informasi yang dianggap valid oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan, rezim juga memanfaatkan dengan betul media massa pada saat itu. Berita berasal dari satu sumber stasiun TV, bahkan saya mesti rela menunggu 'Laporan Khusus' selesai untuk menonton lanjutan 'Layar Emas' yang itu pun sebelumnya sudah diselingi Dunia Dalam Berita selama 30 menit.
Lagi-lagi nostalgia Tahun 90an, yang kurang mengerti silakan tanya apa itu 'Laporan Khusus', 'Dunia Dalam Berita', dan 'Layar Emas' pada yang usianya minimal kepala 3.
Namun demikian, Skenario Allah untuk Indonesia, Perppu Ormas yang represif itu lahir pada Tahun 2017. Tahun di mana media sosial berkembang dan informasi cepat tersebar luas melalui berbagai alat, termasuk telepon selular. Masyarakat mudah mendapatkan informasi dari siapapun, kapanpun, dan di manapun.
Saat ini, kita memiliki kesempatan yang sangat besar untuk melakukan 'jawaban'. Bahkan, saya menilai, hikmah dari adanya Perppu Ormas yang represif tersebut adalah, dalam "sekali mendayung 2-3 pulau terlewati". Kita bisa menjawab sekaligus membongkar kebusukan-kebusukan penguasa dan langkah-langkah kotornya.

Prof Yusril Ihza Mahendara Sebagai Pengacara HTI

Saya mengatakan busuk dan kotor karena mereka telah terbukti melakukan kebohongan yang sangat mudah terbantahkan. Salah satunya yakni fitnah bahwa HTI dekat dengan ISIS. Hal ini menunjukan bahkan untuk melakukan 'fair play' pun pemerintah tidak sanggup.

Lalu apa kaitan antara Perppu Ormas yang represif, facebook, dan kekuasaan?
Tidak perlu diragukan lagi bahwa banyak fenomena di dunia nyata yang justru berawal dari fenomena pada dunia maya. Mulai dari fenomena 'Om Telolet Om' sampai 'Aksi Super Damai 212' yang melibatkan jutaan orang turun ke jalan.
Lalu, tidakkah rekan-rekan berpikir, bila jatuhnya sebuah kekuasaan rezim diktator juga bisa berawal dari sebuah fenomena di dunia maya?
Fenomena seperti apa? Mungkin salah satunya sebuah tulisan.
Bila tidak cukup instruksi atau imbauan para guru ngaji rekan-rekan. Atau tidak cukup penjelasan mereka karena hanya bisa bertemu sepekan sekali dengan waktu yang sangat sempit. Maka saya coba jelaskan mengenai pentingnya sebuah tulisan.
Pertama, tidakkah rekan-rekan ingat bahwa tidaklah Islam sampai kepada kita melainkan berawal dari adanya tulisan. Kedua, tidakkah rekan-rekan ingat bahwa tidaklah mabda Islam dan pengetahuan mengenai Khilafah dan sejarahnya juga sampai kepada kita melainkan berawal dari adanya tulisan. (Semoga Allah Memberkahi Taqiyuddin an Nabhani. Aaamiinnn.)
Maka tidak mustahil sebuah rezim juga bisa jatuh dan perubahan besar terjadi karena berawal dari tulisan.

Menulislah


Namun demikian, SAYA PRIHATIN dan merasa TER-LA-LU. MASIH BAAANYAK para penulis hebat yang saat ini ragu untuk menulis. Bahkan, saya lengkapi, masih banyak para penulis MUDA dan HEBAT, yang masih ragu untuk menulis.

Padahal, BILA REKAN-REKAN CUKUP PANDAI UNTUK MEMBUAT STATUS, MAKA REKAN-REKAN SUDAH MEMILIKI MODAL DASAR UNTUK MENULIS.
BILA REKAN-REKAN SUDAH MILIKI MODAL DASAR UNTUK MENULIS, DAN REKAN REKAN MENGAKU SEBAGAI PEMUDA IDEOLOGIS. MAKA KALIAN SEBENARNYA TELAH MEMILIKI KEKUATAN BESAR.

DAN PADA KEKUATAN BESAR, TERSIMPAN SEBUAH TANGGUNG JAWAB BESAR
Tidak semua pemuda memiliki telepon selular yang dapat menjalankan berbagai aplikasi medsos. Tidak semua pemuda mampu membeli kuota internet. Tidak semua pemuda pandai menulis status. Terakhir, tidak semua pemuda memiliki pemahaman Islam yang ideologis.

Maka, bila rekan-rekan merasa memiliki telepon selular, kuota internet, pandai menulis status, dan memiliki pemahaman Islam yang ideologis, maka sebetulnya rekan-rekan memiliki kelebihan dibandingkan pemuda lainnya. Sekaligus juga memiliki tanggung jawab lebih dibandingkan pemuda lainnya.

Oleh karena itu, para pemuda, kami menunggu tulisan-tulisan Anda. Kami menunggu Anda menginspirasi dunia, karena kami adalah orang-orang yang kelak akan 'berbaiat' kepada kepemimpinan Anda.***
Beberapa Kutipan Diambil Dari :
1. Mantan Presiden SBY
2. Rhoma Irama
3. Almarhum KH Zainuddin MZ
4. Uncle Ben ( Spiderman 2002) [MO]


sumber : disini

Posting Komentar