Oleh: Sinyak

“strategi bertahan yang paling baik ialah menyerang”-Jose Mourinho

Kiriman Naskah| Media Oposisi-Melihat kehidupan hari ini, sepertinya sangat sulit tuk melahirkan anak manusia yang –katakanlah sekedar- ingin untuk berkelakuan baik dalam setiap sendi kehidupan, di segala ruang, terhadap siapa saja, bahkan dalam kondisi bagaimanapun jua. Alam hidup yang dibangun di atas dasar fondasi hedonis nan opurtunis berhasil membentuk generasi yang individualis-matrealis. 

Setiap jiwa yang berjalan diatasnya hanya mementingkan obsesi dan kesenangan dirinya tanpa menimbang apakah perilakunya meresahkan, mengganggu, bahkan menyakiti orang lain atau tidak!.

Dalam ruang social, terbentang luas beragam tawaran kebebasan tak bertepi –yang sejatinya adalah sebuah kelacuran- dijajakan melalui berbagai media kepada setiap anak manusia.  tak peduli rentang usia dan strata sosialnya. Sebut saja komoditas “narkoba, miras, dan pergaulan yang berujung menjadi seks bebas” menjadi produk terlaris dikalangan anak-anak muda era modern ini. sulit dibendung dan memaksa mereka untuk merasakannya. bagi yang menjauhi apalagi menentangnya dianggap tabu, ortodoks, dan mundur.

Disisi lain, manusia yang masih memiliki kejernihan fikiran dan nurani mengetahui bahwasannya barang haram itulah yang menjadi pangkal kemunduran dan kehancuran. Sehingga ia harus menjauhkan diri dan orang-orang terdekat agar tidak tersungkur jatuh kedalamnya. Namun apa daya? Realitas hari ini berkata semakin banyak anak-anak muda negeri –mulai dari anak kampung hingga anak kampus-  yang bersimpuh jatuh kedalamnya. Baik dalam skala kecil-besar, atau situasi kondisi yang memaksa maupun sukarela. Hal itu tentunya menjadi suatu keresahan bagi anak muda yang tidak ingin terjembab dan orang tua yang tidak mau anaknya terjebak.
Berkaca dari situasi diatas, mau tidak mau, suka atau tidak, satu-satunya hal yang harus dilakukan anak bangsa yang peduli akan nasib diri serta negerinya dimasa yang akan datang hanyalah; “Perlawanan!” dengan berbagai cara yang ia mampu lakukan atau ia kan ikut tertawan. Setidaknya ada 3 tahapan perlawanan yang saya tawarkan ditinjau dari skala kecil-besarnya:

Self resistence, dalam melacak asal-muasal terwujudnya suatu perbuatan yang dilakukan oleh setiap manusia, setidaknya ada dua pendekatan sederhana yang bisa kita lakukan secara nalar sederhana. Pertama, pendekatan Semiotik dan kedua, analisa Psikologi.



Berbicara realitas tingkah-laku manusia, dalam pendekatan semiotika maka kita berbicara tentang symbol (semisal sebuah logo yang dibuat oleh seorang designer), tetapi dibalik symbol yang tampak, tersimpan sebuah epistimologi (filosofi/makna) yang dibangun. Dari rumusan sederhana itu, kita bisa menyimpulkan bahwa tingkah-laku manusia hanyalah sebatas tampilan luar (symbol) yang berangkat dari sebuah epistimologi (filosofi fikiran) tertentu.

Begitu juga dengan analisis psikologi yang disampaikan Syaikh an-nabhani di paragraf awal kitabnya Nidzham al-Islam bahwa “Perilaku manusia terpancar berdasarkan pemahamannya –tentang kehidupan, alam semesta dan manusia serta akumulasi hubungan ketiganya itu yang berkait berkelindan dengan masa sebelum dan sesudahnya-red.” Sehingga tidak ada cara lain untuk mengubah tingkah-polah setiap manusia selain dengan mengubah jalan fikirannya. Maka upaya Self Resistence yang musti dilakukan ialah upaya memerdekakan pemikiran dari segala “penjara informasi” yang merusak system berfikir manusia melalui berbagai medium (penglihatan dan pendengaran) yang memungkinkan. 

Jika informasi yang destruktif hari ini merupakan barang yang diproduksi dari pemikiran secular-liberal beserta anak turunannya (hedonism, individualism, capitalism, demokrasi, bahkan soasialism dan komunism), menjadi sebuah keniscayaan untuk menjauhi informasi itu dan hanya menyerap informasi yang mampu meng-counter attack terhadapnya, yakni; Islam! mulai dari akar (akidah) hingga daunnya (syariah/aturan yang digariskan untuk mengelola seluruh sendi kehidupan manusia).

Join in Movement, adalah sebuah kebohongan jika seseorang yang ingin melawan “kejahatan global” hanya bekerja seorang diri dengan hanya menyelamatkan dirinya tanpa berfikir terhadap keaadaan luar. Maka langkah kedua yang saya tawarkan ialah bergabung bersama kafilah (kelompok yang memasang Mosi “tidak percaya” terhadap status quo –mulai dari fikiran, kebudayaan, hingga nilai-nilai hidup yang ditanamkan hari ini-).



Meminjam istilah Cak Nur untuk tawaran ketiga, Fight for and Fight against (perjuangan proaktif dan perjuangan reaktif). yang dimaksud dengan perjuangan proaktif ialah menjelaskan, mengedukasi, dan memahamkan kepada masyarakat luas tentang Islam, sebagai satu-satunya kunci pembebas terhadap seluruh penjara kejahatan yang ada. baik itu kejahatan fikiran yang ditanamkan melalui ruang pendidikan dan media penguasa, kekacauan social, turbulensi ekonomi, bahkan karut marut politik-pemerintahan yang ada saat ini.

Sedangkan yang dimaksud dengan perjuangan reaktif ialah meruntuhkan seluruh pemikiran secular-liberal beserta derivasinya yang dibawa oleh agen-agen yang mengemban dan menyebarluaskannya dengan cara menunjukkan kelemahan, kesalahan dan kekacauan yang ditimbulkannya kepada seluruh khalayak, sehingga masyarakat tidak terjebak serta paham akan sumber kerusakan yang hari ini terjadi disebabkan oleh seluruh system yang berpijak diatas fondasi pemikiran secular-liberal!.[Mo]

Posting Komentar