Presiden Jokowi 




Media Oposisi-Dalam pidato Presiden Jokowi di Pembukaan Sidang tahunan MPR RI, Rabu (16/8/2017) betapa Jokowi sangat bangga memaparkan pencapaiannya dalam pemerintahan yang dipimpin olehnya, selama tiga tahun ini. Apa yang di sampaikan Jokowi dianggap sebuah prestasi dari data dan angka-angka cantik.

Padahal pencapainya tidak menjawab persoalan negeri yang hampir bangkrut terbebani hutang serta defisit anggaran setiap tahunya, infrastruktur yang di banggakan tak lebih dibangun dengan hutang yang membengkak. Kemudian pajak melambung tinggi semakin mencekik rakyat dan potensi kekayaan alam negeri ini diserahkan kepada Asing Pertanyaanya apakah ini yang disebut sebuah kemerdekaan? mengapa kita gampang terbuai dengan angka dan statistik sementara di kenyataan rakyat kelaparan.

Jeritan rakyat


Bangunan fisik yang ditarget rezim hari ini, benarkah infrastruktur itu dibangun untuk rakyat. mengapa pemerintah begitu getol membangun? apakah itu bisa meningkatkan kesejahteraan ataukah menjadikan rakyat banyak beban karena buat jaminan hutang. Dan banyak lagi pertanyaan seabreg, yang terlintas di kepala. Sebab begitu kontras apa yang disampaikan Presiden Jokowi dengan fakta kenyataan. Kita sebagai rakyat juga tetep aja hidup miskin serba kekurangan apalagi dengan semaikn tingginya pajak yang terus dibebankan pada rakyat. 

Maka kita pantas berkelakar... ahh tetep aja susah dan sulit! siapa pun Presiden yang memimpin Indonesia.

Indonesia Masuk Jebakan Hutang 


Apalagi jika musim bulan agustus seperti sekarang, kita hanya akan melihat ritual tujuh belas agustus ada dimana mana dari tingkat RT sampai tingkat pusat ramai melakukan ritual nasionalisme. yang hampir tanpa makna apa apa? apakah begitu tentang merdeka, mencari hiburan sesaat di lorong kemerdekaan yang hanya mitos.

Ritual kemerdekaan, dari mulai lomba makan krupuk, sampai gelar dangdutan, serta sidang tahunan MPR digelar tapi persoalan tak kunjung selesai. Sementara Asing menguasai sektor strategis.

Rasanya kemerdekaan itu tak bisa dirasakan oleh semua orang, saat ini yang kuatlah yang menang yakni para pemilik modal dan korporasi asing yang leluasa mengeruk kekayaan Alam kita.

Sementara kita akan bangkrut dengan hutang yang menumpuk, terjerat dalam lilitan global serta perang para culas pengeruk kekayaan dunia.

Hutang Negara Terus Bertambah

Hutang kita lebih dari 4000 Triliun, tanpa kita nikmati sebab hakikinya pembangunan infrastruktur bukan buat kita tapi buat mereka yang bermain kepentingan.
Hak rakyat adalah subsidi tapi kini kian hari terus dicabut, negara sibuk buru pasar tapi rakyat kecil di abaikan.

Negeri ini akan kian bangkrut dan sedang menuju hancur disaat itulah, akan muncul generasi baru yang mampu mendobrak semoga saja. karena sejatinya kita belum merdeka. [Mo] 

Posting Komentar