Jakarta| Mediaoposisi- Jelang Pilpres 2019 , para tokoh nasional yang terindikasi kuat berniat maju sebagai calon presiden (capres) telah mencuri start lebih awal dengan berburu simpati umat Islam. Banyak tokoh datang menemui ulama, kiai, habaib, dan tokoh-tokoh ormas Islam lainnya.
Tak hanya itu,mereka juga membawa segepok uang dan bantuan dengan nilai fantastis.

Pengamat politik Emrus Sihombing menilai saat ini waktunya para capres menyambangi tokoh-tokoh agama untuk memperoleh simpati yang berakhir pada suara saat pemilu 2019.

Politik itu tidak lepas dari konteks waktu, ini sudah mulai. Sekarang harus semakin jelas mana kawan dan mana lawan. Pilkada 2018, menyusul Pilpres 2019,” ujar Emrus saat dihubungi, Senin (31/7/2017) malam.

Sehingga menjadi suatu yang lazim, mereka politisi maupun para birokrasi yang berkepentingan melakukan (pendekatan) itu. Mengenai motif apa jelasnya, hanya mereka yang tahu. Jadi wajar saja. Kita sudah berada di tahun politik Pilkada 2018 dan Pilpres 2019,” pungkas Emrus.

Menyikapi kondisi ini,hendaknya umat Islam diminta jangan salah memilih tokoh yang menyakiti hati umat Islam.

Wajar kalau capres mencari dukungan umat Islam karena mayoritas di negeri ini. Mereka sambangi ulama, kiyai, habaib, tokoh ormas dan lainnya. Mereka juga ke pondok-pondok pesantren memberikan berbagai bantuan yang nilainya fantastis. Sayangnya ketika mereka memimpin malah melupakan umat Islam. Karena umat Islam masih menjadi objek, belum menjadi subjek penentu,kata Direktur Eksekutif Indonesia Politikan Review (IPR), Ujang Komarudin kepada Harian Terbit, Senin (31/7/2017).

"Ini tentu harus jadi bahan evaluasi uelang Pilpres 2019 yang akan digelar sekitar 1,5 tahun lagi, para calon presiden (capres) sudah mulai mencari simpati umat Islam dengan menyambangi ulama, kiai, habaib, dan tokoh-tokoh ormas Islam lainnya. Mereka mendatangi pondok-pondok pesantren dengan memberikan berbagai bantuan yang nilainya fantastis. 

Ujang mengecam adanya pihak yang memecah belah umat Islam dan melakukan tindakan non simpatik pada umat Islam. Umat islam sendiri merupakan umat yang telah lama menjaga kebhinekaan di Indonesia.

Supaya tidak dilupakan dan disakiti umat Islam harus bersatu. Dengan bersatu Umat Islam akan kuat. Dan jika sudah kuat, maka dengan sendirinya akan diperhatikan oleh pemerintah,tegas Ujang. [MO]



Posting Komentar