Oleh: Bunga Erlita Rosalia
Dokter Gigi Muda. Pemerhati kesehatan,pendidikan, dan anak-anak.
Founder Komunitas Parenting Ideologis.

Phobia diartikan sebagai rasa ketakutan yang berlebihan kepada sesuatu, yang dapat menyebabkan reaksi emotional dan fisik. Islamophobia adalah ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan kepada umat islam dan semua ajaran islam. Parahnya Islamophobia  bisa terjadi di dalam tubuh umat islam sendiri dan juga terjadi di luar umat islam. Hal ini didasari oleh pengaruh pemikiran sekuler yang hadir ditengah tengah umat sat ini.  

Pemikiran sekulerisme sebagai asas bagi ideologi kufur yang menganut asas kebebasan jelas bertolak belakang dengan ideologi islam. Sekulerisme dengan asas fashludin ‘anil hayah nya, mempercayai bahwa dengan kebebasan maka manusia akan meraih nilai kebahagiaan tertinggi.  

Asas ideologi yang sangat berbahanya dan batil saat ini sudah meracuni dan menggerogoti umat islam. Sehingga kebanyakan umat islam saat ini menganggap bahwa syariat islam bukanlah sebuah kewajiban yang lahir dari keimanan yang diraih dari proses berfikir, tapi syariat islam adalah sebuah hal yang hanya berlaku untuk hubungan manusia dengan tuhannya dan tidak ada kewajiban untuk mentati syariat islam secara kaffah.

Yang ada di seluruh aspek kehidupan mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, politik, hukum bahkan sampai pengasuhan anak, dll. Pemisahan antara Islam dan kehidupan inilah yang melahirkan ide-ide jahat merusak umat.

Islamophobia biasa terjadi di negara minoritas umat islam seperti Australia,Inggris, dan Amerika. Propaganda dan image buruk terhadap islam sudah mendarah daging di mata orang kafir saat ini. Penelitian di Australia (July, 2017) menyatakan bahwa sudah terjadi 247 aksi bullying pada umat muslim melalui verbal abuse, maupun physical abuse. 




Hal ini menunjukan bahwa islamophobia bukan hanya berlaku pada ketakutan yang berlebihan kepada syariat islam tapi juga kepada umat muslim. Terlebih fakta yang ditampilkan oleh media saat ini memuat headline yang bernafaskan  anti-islam dan sering menyudutkan umat muslim.

Bisa dilihat dari beberapa kasus terrorisme di Indonesia, barang bukti yang ditunjukkan media diantaranya adalah kepemilikan Al-Quran, jenggot panjang, lulusan pondok pesantren, dan lain lain. Dengan hal ini masyarakat akan mudah di buat opini bahwa syariat islam adalah hal yang sangat menakutkan. Jangankan di kerjakan, lebih baik jaga jarak dengan syariat islam supaya tidak di cap radikal dan terroris. 

Dampak opini masyarakat ini pun bisa dirasakan jika ada seseorang muslimah menggunakan jilbab dan kerudung lebar maka dengan mudah nya akan di cap ‘islam militan’. Tak sampai situ, islamophobia pun membuat Mentri Agama kita saat ini berkata bahwa jika berislam maka jangan terlalu serius. Hal itu disampaikan Menteri Agama RI saat menyampaikan sambutan di acara khatamal Quran di depan 7769 santri dari 101 santri TPQ yang ada di Kabupaten Mamuju, Sulbar Selasa (25/7/2017).

"Kita jangan terlalui tegang dalam menganut paham Agama, jangan kita terlalu formalistis dalam menjalani kehidupan keagamaan atau terlalu serius, sehingga melupakan substansi agama, yakni saling mengasihi dan saling memperhatikan satu sama lain," kata Lukman dalam sambutannya.

Ia mengungkapkan, serius dalam beragama adalah sesuatu yang sangat penting. Namun jika terlalu serius, itu berpotensi menimbulkan sesuatu yang berlebihan dan dapat mengurangi rasa toleransi dalam kehidupan sehari-hari yang seakan-akan yang berbeda harus seolah dipaksakan untuk sama dengan mereka kata Lukman.

 Adanya hal tersebut dilihat dari perkataan pak mentri Lukman menandakan Islamophobia  akut yang menjangkiti pemikiran dan pemahaman  pak Mentri ini. Karena memandang islam tidak toleran jika diamalkan dengan serius, ini pemahaman yang salah kaprah dan berbahaya. Sebab dalam islam tidak apa paksaan dalam beragama yang membuat agama lain harus dipaksa-paksa.

Islam sebagai  ideologi atau sebuah mabda, sebenarnya memiliki thoriqah atau metode dalam menyebarluasan ideologi, seperti yang di contohkan oleh Rasulullah SAW, dakwah adalah metode yang digunakan untuk menyebarkan ajaran islam, mengingatkan umat islam kembali kepada syariat, serta menunjukkan bahwa islam adalah Rahmatan lil ‘alamin. Sehingga tidak ada lagi istilah phobia dengan umat muslim apalagi dengan syariat islam, karena syariat islam lah yang akan memberikan kita rambu rambu untuk menjalani kehidupan ini. Syariat islam pula yang akan menyelamatkan kita dari siksa api neraka. Sesuai dengan Firman Allah yang berbunyi

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى {123} وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. (Q.S Thaha: 123, 124)

Maka saat ini kita umat Islam dituntut berusaha untuk dakwah lebih kuat dan lebih giat lagi  agar umat tercerahkan serta melihat islam bukan hanya ajaran sepiritual semata melainkan memahamkan bahwa islam adalah sebuah Ideologi yang terpancar darinya berbagai peraturan yang dapat dijadikan sebagai problem solving yakni untuk menyelesaikan berbagai masalah.




kemudian umat harus didorong untuk mencampakkan ideologi selain islam. Sehingga umat akan menyadari bahwa tidak ada ideologi yang shahih selain ideologi islam. Dimana ideologi tersebut didalamnya ada sebuah kekuatan keimanan yang melalui proses berfikir yang mendalam serta cemerlang serta mampu mematri bahwasannya syariat islam adalah sesuatu hal yang wajib di lakukan bukan hal yang dikhawatirkan apalagi sampai anti dengan syariat islam. 

Maka serangan pemikiran sekulerisme harus dihadapi dengan dakwah yang lebih massif lagi menggunakan berbagai macam sarana, diusahakan dengan sunguh-sungguh oleh setiap muslim sampai usaha yang maksimal, perang pemikiran juga tengah terjadi karena hak dan batil pasti selalu bertentangan. Maka kuatkan asa satukan barisan untuk terus melaju menghadapi serangan ideologi kufur. Ideologi harus dilawan dengan ideologi pula maka islam dengan seperangkat ajaran yang paripurna akan mampu memenangkan pertaruangan, terus melaju menuju kebaikan, baik untuk diri sendiri, Masyarakat dan juga Negeri yang kita cintai Ini.[Mo]



Posting Komentar