Kirim Naskah| Mediaoposisi- Sungguh rasa superiorias ketika mendengarkan rencana Binamarga PemProp DKI Jakarta di El Hinta TV, Jumat siang 4 Agustus 2017, bahwa segmen Jl Jenderal Sudirman - Jl Thamrin setelah proyek-proyek mass transit siap beroperasi di tahun 2018, maka akan dibangun titik-titik layanan kuliner bagi kebutuhan para pengguna mass transit terutama pejalan kaki sepanjang trotoir yang dibangun lebar-lebar dan berhiaskan ikon senibudaya kearifan lokal itu.

Namun cukup kontradiksi juga bilamana kuliner-kuliner bernuansa kearifan lokal itu justru menghidupi pemasok-pemasok bahan pangan impor dan produsen pangan asing, bukan masyarakat produsen pangan lokal sendiri.

Hal ini perlu menjadi catatan sendiri saat tonggak sejarah 17 Agustus 17 diperingati bersamaan dengan peresmian Ikon Jembatan Semanggi-II oleh Presiden RI yang mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Berkerangka Jiwa Semangat Nilai-nilai 45 (JSN45), maka direkomendasikan agar segera diakhiri Supremasi Hasta Pangan Impor dibawah ini :  


1). GULA DI IMPOR..

2) GARAM DI IMPOR..

3) BAWANG PUTIH JUGA IMPOR


4) SINGKONGPUN MESTI DI IMPOR


5) BERAS IMPOR


6) CABAI IMPOR


7) SAPI IMPOR.


8) CANGKULPUN MESTI IMPOR


Politik Kedaulatan Pangan Indonesia bijaknya dapat sedemikian rupa terselenggara berimbang dengan Politik Keunggulan Prasarana Indonesia seperti penyediaan layanan transportasi ibukota yang kini terbilang superior itu. 

Jakarta Selatan, 4 Agustus 2017

Pandji R Hadinoto
Ketua GPA45/DHD45 Jakarta

Posting Komentar