Gerai Ritel Indomaret



Jakarta| Mediaoposisi.com-Industri ritel Tanah Air nampaknya tengah menghadapi situasi yang cukup sulit. Akhir Juni lalu, PT Modern International Tbk bahkan telah menutup seluruh gerai convenience store 7-Eleven di Indonesia.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebut pertumbuhan penjualan industri ritel anjlok 20 persen sepanjang kuartal I 2017 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp40 triliun.

Usai 7-Eleven, kini pemilik minimarket Indomaret, PT lndoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) mencatatkan penurunan laba yang mengejutkan. Mengutip laporan keuangan perusahaan di Bursa Efek Indonesia, laba DNET tercatat hanya Rp 30,5 miliar di semester I-2017. Angka ini turun sekitar 71 persen dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 105,4 miliar.

Padahal, pendapatan perusahaan di semester 1-2017 naik signifikan menjadi Rp 22,5 miliar atau jauh lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu yang hanya Rp 9,1 miliar.

Namun demikian, beban penjualan perusahaan juga naik dari Rp 4,58 miliar menjadi Rp 17,8 miliar. Beban umum dan administrasi juga meningkat dari Rp 21,86 miliar menjadi Rp 32,1 miliar.

Dari data itu, laba usaha perusahaan akhirnya merosot dari Rp 105,8 miliar di tahun lalu menjadi Rp 22,7 miliar.

Total aset perusahaan tercatat sebesar Rp 8,47 triliun atau naik tipis dibanding akhir tahun lalu yang hanya Rp 8,33 triliun. Sementara total liabilitas meningkat dari Rp 105,68 miliar menjadi Rp 243,13 miliar. 

Ketua Umum APRINDO Roy Mande mengungkapkan, lebih kurang untuk bulan April hanya tumbuh 4,1%, namun di Mei turun 3,6%. Angka tersebut didapat dari 5 format retailer, yakni minimarket, supermaret, hypermarket, departement store dan wholesale atau kulakan. Sedangkan untuk tahun lalu, bulan Mei 2016  tumbuh 11,1%.

“Dari 5 format yang diakui pemerintah itu, kami menilai bahwa pertumbuhan ritel di kuartal pertama masih turun dan masih di bawah untuk performanya,” ungkap Roy di Jakarta, Jumat (30/6/2017).

Kemudian untuk minggu pertama dan kedua bulan Juni 2017, Roy juga melihat, angkanya masih rendah dan tidak sama pertumbuhannya seperti tahun lalu. “Jadi analisis kami bahwa libur Lebaran ini merupakan panen raya peritel, itu salah, untuk tahun ini lebih rendah. Sedangkan untuk minggu ketiga keempat kami belum dapat angka. Kami cuma dapat info bahwa khususnya untuk format hypermart dan supermarket, minus tumbuhnya, kemudian minimarket surplus,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dia menerangkan bahwa ada beberapa penyebab utama angka industri ritel tahun ini tidak seperti tahun lalu. Salah satunya yakni dari segi daya beli yang mengalami penyusutan. Untuk masyarakat middle income, tahun lalu tidak ada peningkatan pendapatan, maka menimbulkan sentimen negatif.

“Karena itu akhirnya ada sentimen negatif, indeks negatif belum turun, kemudian ditambah kegaduhan legislatif, faktor transaksisonal juga, yang mana harga naik dan turun. Ini yang membuat sentimen negatif. Jadi secara keseluruhan turun,” paparnya. 

Posting Komentar