Jakarta| Media Oposisi- Ekonomi Indonesia sedang lesu,berbanding terbalik dengan ucapan manis Jokowi yang menyebut pertumbuhan Indonesia nomor 3 diantara G-20.

Kita termasuk ketiga tertinggi dunia setelah China, India, dan kita," kata Jokowi, bulan November 2016 lalu, seperti dikutip dari Antara.

Statemen tersebut membuat analis ekonomi Jake van der Kamp tertarik meneliti lebih lanjut,ternyata dari hasil kajiannya,pertumbuhan ekonomi Indonesia justru kalah jauh dari India, bahkan masih kalah dengan Mongolia, Timor Leste dan Papua Nugini untuk kawasan Asia.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan yang ketiga di dunia, setelah India dan China," kata Presiden RI Joko Widodo. Ketiga di dunia, benarkah itu? Dunia yang mana?" kata Van der Kamp.

Terlepas dari bantahan istana dan pendukung pemerintahan kepada Van Der Kamp. Realita saat ini,pertumbuhan ekonomi seolah hanya omong kosong.Di kawasan Pasar Glodok, Jakarta.Sepinya pengunjung memaksa  pedagang untuk menutup lapak tokonya di area yang terkenal sebagai pusatnya barang elektronik.

WTC Mangga Dua dan Roxy Square merupakan contoh serupa,bahkan lebih buruk. Nasibnya terlihat lebih buruk. Deretan toko tertutup rapat di sepanjang lorong, yang menandakan turunnya aktivitas ekonomi.


Dari sektor properti yang dipandang sebagai sektor yang potensial tumbuh,mengingat kebijakan agresif pemerintah soal pembangunan. Namun,fakta berkata lain. Menurut Rumah.com Property Index mencatat (RPI) volume suplai properti mengalami penurunan signifikan di kuartal II-2017, yakni sebesar 9,6%.  Indeks Properti sendiri adalah salah satu indeks untuk  memahami dinamika harga dan suplai perumahan serta tren harga dan suplai secara jangka panjang

Capaian tersebut berbanding terbalik jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencatatkan kenaikkan sebesar 11,4%. Sedangkan untuk harga properti residensial secara nasional berapa pada titik 103 pada kuartal II-2017 atau naik tipis 0,39% dibandingkan kuartal I-2017.

Suara yang sama juga diungkapkan oleh Lembaga konsultan properti asal Australia, Savills. Risetnya menunjukkan tingkat kekosongan (vacancy) pasar perkantoran di area CBD, Jakarta mencapai 18,4% atau naik 2,7% dibanding semester sebelumnya.

Permintaan yang tak tumbuh lebih tinggi dibandingkan suplai. Total pasokan pada semester I-201 mencapai 270 ribu m2, sementara penyerapan ruang kantor tidak sampai 63 ribu m2,hanya sekitar 1/3.

Savills juga menunjukkan data tentang mal yang makin sepi. Tingkat kekosongan area tenant di mal di Jakarta bergerak naik ke angka 10,8% pada semester I-2017 dari sebelumnya 10,3% di semester II-2016.[Mo]




Posting Komentar