Jakarta| Mediaoposisi- Muhammad Zulkiram mengakui sempat nyogok saat mendaftar sebagai polisi pada 2007. Ia membayar puluhan juta rupiah agar diterima sebagai bagian dari Korps Bhayangkara. 

"Bayar berpuluh-puluh juta," kata Zulkiram, Senin (7/8) 

Zulkiram mengatakan niat masuk Polri berawal dari keinginan ibunya. Tindakan haram yang ia lakukan didasari karena ia tak mengerti agama.

"Ikut-ikut saja, tapi saya tahu sih, pasti nyogok, pasti lewat, tapi saya ikut-ikut saja. Orang nggak tahu agama, salat juga nggak. Itu perintah dari orang tua juga jadi polisi," tutur Zulkiram. 

Zulkiram resmi keluar dari Polri sekitar Desember 2014. Kala itu pangkat terakhirnya adalah Briptu. 

Pria yang akrab disapa Joekhana itu memilih resign lantaran merasa pekerjaannya tak berkah karena menyogok di awal. Ia sengaja bolos berkali-kali sampai kemudian dinyatakan melanggar kode etik dan dipecat.

Saya kena pelanggaran kode etik Polri. Nggak apa-apalah (diberhentikan), hormat-nggak hormat yang penting saya keluar. Setelah itu, saya lebih dalam lagi mempelajari agamanya," tutur Zulkiram. 

Kisah Zulkiram membuka ingatan kita tentang korupnya kepolisian. Belum hilang dari ingatan, jika kepolisian disebut lembaga terkorup.

Peneliti Polling Center Heny Susilowati dalam jumpa pers di Sari Pan Pasific Hotel, Jakarta, Kamis (20/7/2017) menyatakan polri adalah salah satu lembaga terkorup di Indonesia.

"Begitu juga dengan kepolisian di mana terdapat 50 persen masyarakat yang pernah berhubungan dengan kepolisian masyarakat pernah diminta uang atau hadiah secara tidak resmi," sambungnya. [MO]

Posting Komentar